Kado HUT ke-70 RI, Dua Karya Sineas Indonesia Menang di Amerika

Jakarta, Obsessionnews - Di hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70, dua film Indonesia karya anak bangsa berhasil mengharumkan nama Indonesia di ajang kompetisi film tingkat dunia yang di adakan di San Diego, Amerika Serikat. Film Biopic Buya Syafii Maarif yang berjudul ‘Si Anak Kampoeng’ karya sutradara Damien Dematra berhasil meraih penghargaan khusus Awards of Recognition untuk kategori Feature Film. Sedangkan, sineas remaja Natasha Dematra berhasil meraih penghargaan khusus Award of Recognition untuk kategori Sineas Muda Terbaik melalui film panjangnya yang berjudul ‘Tears of Ghost’. Menurut Direktur festival IndieFest Film Awards, Rick Pricket, penghargaan ini adalah penghargaan yang luar biasa. Persaingan datang dari seluruh dunia dan para juri yang berasal dari para profesional di industri perfilman hanya memberikan penghargaan yang tinggi kepada film-film terbaik saja. Kedua film asal Indonesia ini dianggap telah mencapai standard yang sangat tinggi dalam bidang perfilman tingkat dunia. Sebelumnya, festival yang berdiri sejak tahun 2008 ini juga memberikan penghargaan kepada Aktor Hollywood nominator Oscar Liam Neeson, nominator Oscar Lawrence Hott dan nominator Grammy Chris Gero. Menariknya, Sineas remaja Natasha Dematra ketika membuat film ‘Tears of Ghost’ dia berumur 15 tahun, dan menyelesaikan film yang dieditnya sendiri tersebut ketika dia merayakan usianya yang ke 17. Natasha dalam film ini merangkap sebagai produser, sutradara, pemeran utama, editor, music director dan penyanyi untuk soundtrack film ini. Ini merupakan film kedua Natasha, dimana sebelumnya dia tercatat membuat rekor dunia sebagai sutradara perempuan termuda didunia untuk film panjang, yang dibuatnya lewat film ‘Mama, Aku Harus Pergi’ yang diadaptasi novel dengan judul yang sama terbitan Gramedia. Rekor ini dibuatnya dalam usia 11 tahun dan diakui oleh Museum Rekor Dunia pimpinan Jaya Suparana dan Royal World Records. Dalam usianya yang masih belia dia telah menerima lebih dari 35 penghargaan baik di dalam negeri maupun di luar negeri diantaranya sebagai penyanyi Terfavorit Global Music Awards dan Aktris terbaik di berbagai festival film di Amerika dan Eropa. Film Tears of Ghost turut diperankan oleh artis-artis Indonesia seperti Ageng Kiwi, Abah Ukam, Roman D Man, Ronna Arona, Novitasari, Dien Asyik, Jenny Fang dan Pagitha Ross.
Sedangkan Film Si Anak Kampoeng diperankan oleh aktor senior Pong Hardjatmo, Ayu Azhari, Inggrid Widjanarko, Radhit Syam dan Virda Anggraini. Kisah film ini diangkat dari novel berjudul sama karya penulis Damien Dematra dan terbitan Gramedia Pustaka Utama bercerita tentang masa kecil Buya Syafii Maarif yang berasal dari desa kecil di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Pergolakan datang silih berganti melawan impian Buya kecil untuk merantau dan bersekolah setinggi mungkin. Film ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan sejak usia dini. Buya yang dibesarkan dalam suasana perjuangan kemerdekaan terus berjuang keras untuk cita-citanya. Sebuah cita-cita yang tenyata terus berlanjut hingga usia beliau menginjak 80 tahun pada tahun ini. Sebuah cita-cita untuk Indonesia yang toleran, damai, tanpa korupsi dan bebas dari penjajahan dalam bentuk apapun. Menurut Sutradara Damien Dematra, semoga kemenangan film-film Indonesia ini dapat menjadi hadiah sekaligus pemicu, agar Pemerintah dapat segera "memerdekakan" Film Indonesia dari penjajahan ala Hollywood, neoliberalisme dan kepentingan sekelompok orang yang selama ini membuat Film Indonesia tidak pernah menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Semoga point 1 dan point 7 dari Nawacita dapat diwujudkan untuk industri kreatif khususnya perfilman. Merdeka! (Popi Rahim)
Sedangkan Film Si Anak Kampoeng diperankan oleh aktor senior Pong Hardjatmo, Ayu Azhari, Inggrid Widjanarko, Radhit Syam dan Virda Anggraini. Kisah film ini diangkat dari novel berjudul sama karya penulis Damien Dematra dan terbitan Gramedia Pustaka Utama bercerita tentang masa kecil Buya Syafii Maarif yang berasal dari desa kecil di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Pergolakan datang silih berganti melawan impian Buya kecil untuk merantau dan bersekolah setinggi mungkin. Film ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan sejak usia dini. Buya yang dibesarkan dalam suasana perjuangan kemerdekaan terus berjuang keras untuk cita-citanya. Sebuah cita-cita yang tenyata terus berlanjut hingga usia beliau menginjak 80 tahun pada tahun ini. Sebuah cita-cita untuk Indonesia yang toleran, damai, tanpa korupsi dan bebas dari penjajahan dalam bentuk apapun. Menurut Sutradara Damien Dematra, semoga kemenangan film-film Indonesia ini dapat menjadi hadiah sekaligus pemicu, agar Pemerintah dapat segera "memerdekakan" Film Indonesia dari penjajahan ala Hollywood, neoliberalisme dan kepentingan sekelompok orang yang selama ini membuat Film Indonesia tidak pernah menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Semoga point 1 dan point 7 dari Nawacita dapat diwujudkan untuk industri kreatif khususnya perfilman. Merdeka! (Popi Rahim) 




























