Kemenpora Tekankan Pemuda Utamakan Musyawarah Mufakat

Jakarta, Obsessionnews - Pemerintah dalam hal Ini Kementerian Pemuda dan Olah Raga (Kemenpora) menghimbau kepada seluruh organisasi kepemudaan agar menyelesaikan masalah internal maupun eksternal kelembagaan dengan tetap mengedepankan langkah musyawarah mufakat bukan ego belaka yang tidak bersandar. Pihak Kemenpora cukup menyayangkan kepada lembaga organisasi, maupun pertunjukan yang dilakukan pihak legislatif di Senayan seolah tidak mengedepankan musyawarah mufakat namun sering kali pengambilan keputusan melalui voting atau suara terbanyak. Ia menilai pengambilan keputusan berdasarkan voting bertentangan dengan amanah pancasila. Sehingga Kemenpora menginginkan kepada pemuda untuk tetap mengedepankan nilai-nilai pancasila, tanpa melihat perbedaan bangsa suku, agama dan bahasa, sebagaimana amanah Bihneka Tunggal Ika. Keputusan juga perlu didasarai atas kesadaran membangun kemajuan Negara Kesatuan RI (NKRI), tanpa mengesampingkan amanah UUD 1945. “Pada era orde lama kita kenal P4 walaupun mungkin ada metode baru dalam P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) tetapi memahamkan nilai-nilai pancasila itu penting. Bayangkan saja sekarang in, katakanah di Senayan ketika ada permusyawaratan seolah pemahaman pancasila hampir ditinggalkan. Persyaratan yang ada di Senayan itu ujungnya voting padahal bangsa ini terkenal dengan gotomg royong musyawarah mufakat,” jelas Asisten Deputi Organisasi Kepemudaan Kemenpora Mandir Ahmad Syafii kepada Obsessionnews.com di Wisma Kemenpora, Jakarta, Jumat (14/8/2015). Mandir menilai perbedaan itu adalah kekayaan, karunia yang harus disyukuri, bukan untuk dijadikan persoalan. Sebab kata dia perbedaan itu adalah takdir yang harus diterima secara bijaksana untuk saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Banyaknya persoalan atau konflik antar pemuda, mencerminkan pemuda seolah tidak menjunjung pancasila lagi sebagai arah geraknya. Apalagi akhir-akhir ini di pertontonkan kasus di Tolikara Papua, menjadi persoalan serius bangsa yang harus mengingatkan kembali kepada pemuda agar saling menghargai Perbedaan. “Nah ini yang harus kita ingatkan pada generasi muda jangan sampai nanti mereka terlena. Kaitannya dengan perbedaan, kita ada Bihneka Tunggal Ika perbedaan itu sudah given. Mau berbahasa sunda sesama orang sunda, bahasa Jawa sesama Jawa, atau yang lainnya silahkan tidak usah dilarang, itu harus dijaga jangan sampai pudar. Dan kita tidak menginginkan segelintir orang memaksakan di Indonesia memakai satu bahasa saja atau menekankan satu agama saja, itu tidak boleh. Berbeda itu boleh, tapi harus saling menghormati,” tegasnya. Mandir juga meyakini kalau setiap agama tidak mengajarkan untuk menyesatkan umatnya, tetapi seluruh agama mengajarkan hal kebaikan. “Saya pikir perbedaan itu sudah sejak dulu ada, hingga dalam Al-Qur'an surat Al-Kafirun jelas mengatakan Lakum Dinukum Waliyadin untukmu agamamu dan untuku agamaku. Artinya sejak dulu sudah ada perbedaan agama. Selain dalam surat Al hujuraat dengan jelas dijabarkan, Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku supaya kamu kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantaramu disisi Allah ialah orang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal," terangnya. (Asma)





























