Ditentang, Usulan Menpora Bolehkan Judi Bola

Ditentang, Usulan Menpora Bolehkan Judi Bola
Subang, Obsessionnews – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Subang, Agus Masykur Rosadi menyesalkan penyataan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) yang memperbolehkan judi bola. Menurut Agus sebaiknya pemerintah tidak membingungkan masyarakat dengan pernyataan-pernyataan kontroversial yang tidak penting. “Saya harap masyarakat tidak disibukkan oleh hal-hal kontroversial seperti ini yang tidak terlalu penting. Baiknya pemerintah ‘Ayo Kerja’ sesuai koridornya,” ujar Agus kepada wartawan usai menghadiri Pengukuhan Pasukan Pengibar Bendrea Pusaka Tingkat Kabupaten Subang, Sabtu (15/8/2015). Pernyataan menpora itu sangat menyesatkan dan merupakan kemunduran akan kembali ke jaman dahulu ketika perjudian seperti Porkas dan SDSB diperbolehkan. Harusnya peluang perjudian ditutup. Mengenai alasan ketika Porkas/SDSB dilarang katanya banyak warga Indonesia yang lari ke luar negeri untuk berjudi. “Saya pikir itu bukan alasan yang logis. Yang pergi ke Singapur itu berapa orang? Hanya segelintir orang. Kemunduran artinya sudah menutup bentuk perjudian seperti Porkas, SDSB sekarang kalau itu dibuka kembali maka ini kemunduran. Agus menilai statmen Menpora harus segera diklarifikasi karena akan memicu polemik yang berkepanjangan. Pemerintah kita telah dengan tegas melarang perjudian yang berdampak luar biasa dimasyarakat luas. “Sudah mah harga BBM dan harga lain naik. Ditambah dengan angan-angan untuk menang judi. Judi itu ‘kan hanya untuk memperpanjang angan-angan saja. Menangna mah iraha (kapan)?” jelas Agus. Ketidaksetujuan yang sama diutarakan olah Wakil Bupati Subang, Imas Aryumningsih yang menyatakan secara tegas pribadinya tidak setuju pada Perjudian. “Kalau secara pribadi saya tidak setuju. Terus terang saja saya tidak setuju,” tegas Imas. Mengenai penjudi yang “lari” ke Malaysia dan Singapura, Imas menyangsikannya. “Justru negara seperti Singapura saya tahu tidak mengandalkan dai perjudian,” ujarnya. Malah di Singapura dana dari denda pelanggaran saja cukup besar. “Pemerintah Singapura lebih mengandalkan dari dana denda (saja) besar, ‘kok,” tambahnya. (Ted)