54 Tahun, Pramuka Ingin Kembali Pada Gerakan Pendidikan

Jakarta, Obsessionnews - Di usianya yang ke-54 tahun, Pramuka ingin mengembalikan semangatnya sebagai organisasi gerakan pendidikan. Sebab itu merupakan cita-cita Pramuka sejak pertama kali didirikan tahun 1961. Kapusdiklatnas Pramuka, Budi Otomo mengatakan, proses pendidikan di Pramuka selalu mengedepankan etika, budi pekerti, cinta tanah air, dan semangat gotong royong, karena Pramuka bukanlah organisasi masa, atau pergerakan masa. "Jadi mengapa Adhyaksa menginginkan review agar kita kembali di bawah pendidikan karena mamang semangat kita adalah gerakan pendidikan, bukan gerakan masa, bukan organisasi masa, tapi organisasi pendidikan. Itu poinnya," ujar Budi saat ditemui Obsessionnews di Taman Rekreasi Wiladatika Cibubur, Jakarta, Kamis (13/8/2015). Ia menjelaskan, pola pendidikan di Pramuka mengenal tiga sifat, yakni nasional, internasional dan universal. Nasional untuk kepentingan nasionalnya, yakni bangsa Indonesia. Internasional disemua negara di dunia, sedangkan universal konteksnya lebih luas. "Ada scoud, universal, karena scoting tidak memandang ras agama, warna kulit, kriting, kribo, ireng abang ijo, tidak liat, itu universal," tuturnya. Sistem pendidikan itu, lanjut Budi, sudah diatur oleh organisasi kepanduan sedunia. Namun sistem penerapanya selalu menyesuaikan kondisi di daerahnya masing-masing. "Kita sesuaikan, tapi tetap kepentingan nasional utama, tapi yang namanya fundamental prinsipel semua sedunia sama," jelasnya. Kesamaan itu berupa hubungan antara manusia dengan Tuhan, dan hubungan manusia antara sesama bangsa dan negara. Ketiga apa yang dikerjakan harus bisa memberikan manfaat bagi dirinya dan orang lain. Ganet sapaan akrab Budi, menambahkan, yang pasti sistem pendidikan di Pramuka, lebih menarik penuh kegembiraan dan penuh nilai filosofis . Seperti halnya ketika ada pelatihan di alam bebas. Menurutnya itu hanya sebagai alat, di dalamnya banyak ilmu-ilmu lain yang diajarkan. "Itu alat, contoh kompas kalau di militer kompas ya belajar kompas saja, peta ya belajar peta saja, titik. Di pramuka tidak, ini hanya alat. Peta kompas itu bidikan, alat penyadaran bagi adik-adik kita, bahwa hidup itu harus terarah dengan benar. Jadi ada filosifisnya," tambahnya. "Peta itu juga alat dibalik itu, petakan pikiran, perencanaan hidupmu bagaimana? Dengan kompas yang jelas. Jadi masukan pikiran-pikiran itu, jadi itu hanya alat bagi gerakan pramuka," sambungnya. (Albar)





























