Seru, Dua Paslon Semarang Saling Sindir

Seru, Dua Paslon Semarang Saling Sindir
Semarang, Obsessionnews - Saling sindir mewarnai dialog kandidat paslon Walikota Semarang antara Soemarmo HS dengan Hendrar Prihadi. Kedua mantan kepala daerah yang pernah bersama itu berbalas ucapan panas dalam diskusi bertema "Membangun Budaya Kota Semarang". Acara tersebut diselenggarakan panitia Pasar Seni 2015 di Taman Budaya Raden Shaleh (TBRS) jalan Sriwijaya Semarang, Rabu (12/8/2015) petang. Masing-masing calon mengunggulkan kebijakan mereka kepada Dewan Kesenian Semarang saat menjabat menjadi Walikota Semarang dulu. Sindiran diawali saat moderator memberi kesempatan kepada Soemarmo untuk memaparkan pendapat terlebih dulu. Alih-alih berbicara anggaran Dewan Kesenian Semarang (DKS), Soemarmo malah menjelaskan kepala daerah yang tidak boleh terlibat langsung politik praktis. ‎"Kepala daerah setelah dilantik harus meninggalkan politik. Harus di tengah-tengah. Sehingga pembangunan tidak milik kelompok dan partai,” kata mantan Wali Kota Semarang itu. Rupanya Hendi-sapaan akrab Hendrar Prihadi merasa tersinggung dengan pernyataan Soemarmo. Seperti diketahui, Hendi masih menjabat Ketua DPC PDIP Kota Semarang meski telah menjadi wali kota dulu. Sebagai balasan, Hendi mengungkap posisi Soemarmo yang pernah menghuni LP Cipinang. ‎"Pak Marmo bilang kepala daerah tidak boleh jadi ketua partai. Tapi aturannya boleh. Sama seperti Pak Marmo pernah dipenjara tapi masih boleh nyalon," katanya. Keseruan bertambah saat Soemarmo menyatakan selama dua tahun kepemimpinannya anggaran Dewan Kesenian Semarang (DKS) lebih besar dibanding saat dipimpin rivalnya. "Saat saya menjadi Walikota tahun 2010-2011, DKS diberikan anggaran Rp250 juta selama dua kali. Tapi, setelah saya tidak menjabat Walikota saat itu, justru anggaran ke DKS turun menjadi Rp150 juta. Apa ini bentuk komitmen seorang pemimpin kepada kesenian dan budaya," ujar dia. Hendrar Prihadi yang menjadi Walikota setelahnya menanggapi sindiran Soemarmo. Ia menyatakan meski anggaran yang ada terbilang kecil, namun komunikasi dengan para pegiat seni selalu intensif. "Mestinya nek ada kegiatan, sebagai Walikota apa mau merem (menutup mata) saja. Mestinya yo nyumbang," sindirnya. Sementara Sigit sebagai wajah baru di dunia politik yang sedari tadi diam, tiba-tiba ikut nimbrung dalam medan pertempuran. ‎"Mas Hendi betul tapi tidak kreatif. Kalau hanya mengandalkan APBD akan terbatas dengan aturan,” katanya. ‎Karuan saja Hendi langsung kepanasan. Ia lantas meminta mic dan berkomentar. "Lho iki mulai ndisik (duluan) lho, ngomong nggak kreatif," ujarnya disambut gelak tawa penonton. Aksi mereka sempat memicu ketegangan diantara pendukung. Keduanya saling membalas sentilan pedas atas tanggapan yang dilontarkan. Diskusi yang diselenggarakan panitia Pasar Seni 2015 tersebut diramaikan para pegiata seni, budayawan, para pendukung dan simpatisan. (Yusuf IH)