Pilkada Surabaya, Koalisi Majapahit 'Golput'

Pilkada Surabaya, Koalisi Majapahit 'Golput'
Surabaya,Obsessionnews - Pelaksanaan Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Surabaya 2015 tampaknya bakal tak semeriah Pilwali tahun 2010 silam. Selain tidak ada calon kuat yang bakal menandingi pasangan incumbent Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana (Risma-WS), partai-partai koalisi yang tergabung dalam koalisi Majapahit juga enggan mengusung calon dalam Pilwali tahun ini. Buktinya, sesuai hasil komunikasi politik yang dibangun tim kerja Koalisi Majapahit telah disepakati, tidak akan mengusung siapapun dalam Pilwali Surabaya 2015, alias golput. Keputusan tersebut disepakati oleh PKB, PKS, PAN, Demokrat, PPP, Golkar dan Gerindra. Wakil Sekretaris DPD Partai Gerindra Surabaya, Bagiyon mengakui, jika pihaknya telah gagal memunculkan calon pasangan bakal calon kepala daerah (Bacakada) untuk Pilwali Surabaya 2015. “Misi kami hanya akan mencarikan pasangan Bacakada yang lebih baik dari incumbent, demi kota Surabaya lebih baik, karena dimata kami, mereka (Risma-Whisnu) itu adalah pilihan terjelek, dan sebenarnya calon itu sudah kami dapatkan, yakni diantara 8 nama yang kami usulkan ke pusat berdasarkan hasil tahapan penjaringan yang kami lakukan bersama-sama. Sayangnya, harapan itu luntur, karena masingmasing DPP justru memunculkan nama lain,” kata Bagiyon, Senin (10/8/2015). Senada, Ketua Pokja Koalisi Majapahit A.H Tony  juga mengakui jika pihaknya memang gagal. Namun berhasil menjalin komunikasi dengan anggota koalisi di daerah, dan keberhasilan itu telah tertuang dalam sikap politik koalisi majapahit yang dipublikasikan, hasil koordinasi tadi malam. “Semua hadir kecuali PAN yang memang izin, yakni PKB, PKS, Demokrat, PPP, Golkar dan Gerindra,” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa perbedaan dalam pandangan politik di setiap anggota koalisi, utamanya di tingkat DPP adalah lumrah, karena koalisi tidak sama dengan merger. “Justru perbedaan pandangan dan pendapat diantara anggota koalisi, apalagi sampai ke tingkat DPP itu adalah seni, karena membuat bersatu itu memang tidak gampang, apalagi anggota kami ada 7 partai,” dalih A.H Thony. Tony juga mengaku jika dirinya tidak bermaksud sengaja menghambat Pilwali Surabaya tahun 2015, apalagi melakukan begal politik, karena menurutnya ada komitmen koalisi yang harus di patuhi bersama. “Di dalam koalisi itu ada komitmen, sejauhmana mereka bisa tetap patuh, salah satunya dan yang terpenting adalah, bersama-sama yang berniat mendaftar pada perpanjangan pendaftaran yang kedua, bukanlah menjadi bagian dan tanggung jawab koalisi Majapahit. munculkan dan mengusung sekaligus mendaftarkan calon,” cetusnya. Diakui Thony, Parpol yang tergabung dalam koalisi Majapahit itu merupakan kelompok yang miskin modal perolehan kursi, sehingga maka tercetuslah metode sapu lidi (berserikat untuk kuat), dengan label Koalisi Majapahit, sehingga sekarang seluruh anggota sudah mempunyai nilai tawar yang cukup baik, dibanding sebelum masuk dalam koalisi. “Kalau dalam posisi sekarang ternyata justru memanfaat nilai tawar yang sejatinya diperoleh pada saat bergabung dengan koalisi, lantas mencoba untuk bermanuver sendiri, itu juga hak mereka, kami hanya melihat dari jauh, tetapi tidak turut bertanggung jawab,” tegas A.H Thony, seolah menyindir pasangan Abror-Haries yang akhirnya kandas dan kemungkinan akan muncul pasangan baru lagi. Dengan keluarnya pernyataan sikap dari Koalisi Majapahit, Tony berharap agar masyarakat kota Surabaya mengerti, sekaligus memahami bahwa siapapun pasangan calon. Menurutnya, pendaftaran yang dibuka oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Surabaya saat ini adalah cacat hukum. “Kami tidak ikut bertanggung jawab, agar masyarakat mengerti secara gamblang, bahwa munculnya pasangan calon adalah hasil permainan politik di tingkat elit politik di tingkat pusat (DPP),” jelasnya. Berbagai tudingan miring yang digulirkan oleh berbagai pihak terhadap Koalisi Majapahit, ternyata telah disadari oleh Tony, jika sikapnya bakal menuai kritik di masyarakat yang sangat luar biasa. “Biarkan kami mendapatkan stigma sebagai kelompok begal politik, tetapi kami masih tetap istiqomah dengan falsafah “becik ketitik olo ketoro”. Tapi seiring dengan perkembangan jaman yang lebih realistis, masyarakat akan menyadari pilihan politik kami benar adanya,” pungkasnya‎. (GA Semeru)