Jangan Kotori NU Kepentingan Sesaat

Jombang, Obsessionnews - Sebagai cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari, KH Shalahuddin Wahid (Gus Sholah) tak ingin NU dikotori oleh kepentingan sesaat kelompok tertentu. Pengasuh Ponpes Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, ini ingin NU tetap konsentrasi mengurus masalah keagamaan dan keumatan, seperti tujuan awal organisasi masyarakat terbesar di Indonesia ini saat didirikan 89 tahun silam. NAMA Gus Sholah tidak asing di telinga kaum nahdliyin. Maklum saja, dia lahir dari pasangan tokoh NU, KH Wahid Hasyim dan Sholehah, 11 September 1942 lalu, di Jombang. Ayahnya adalah putra dari KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Kakaknya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), juga dikenal sebagai tokoh besar NU. Berada di garis keturunan NU, tidak heran jika Gus Sholah dikenal sebagai ulama. Tidak hanya di kalangan NU, sama dengan Gus Dur, pergaulan Gus Sholah juga sangat luas. Selain dikenal sebagai kiai, pria berkarakter kalem ini juga dikenal sebagai aktivis, politisi, dan tokoh Hak Asasi Manusia (HAM). Berkat pergaulan luasnya, dia pernah menjadi anggota MPR RI, Wakil Ketua Komnas HAM, dan kandidat Wakil Presiden RI tahun 2004 lalu. Ia kini konsentrasi mengurus Ponpes Tebu Ireng dan NU. Karena itu pula, Gus Sholah maju sebagai calon Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-33 di Jombang ini. Selain karena dibesarkan di lingkungan NU, pergaulan luas dan pemikiran Gus Sholah juga tidak lepas dari latar belakang pendidikan dan pengalamannya. Selain menempa ilmu keagamaan, Gus Sholah memang menggembleng dirinya dengan ilmu pengetahuan umum. Ia tercatat sebagai lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB). Setelah lulus, dia bekerja di sebuah perusahaan kontraktor sebagai direktur utama dari tahun 1969 sampai 1977. Tahun 1997, di dunia usaha, kariernya menanjak sebagai dirut sebuah konsultan teknik. Kariernya terus menanjak dengan menjadi Associate Director sebuah perusahaan konsultan property internasional. Sukses di lingkungan pesantren dan bisnsis, Gus Sholah lantas menapaki karier politik sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) di awal reformasi tahun 1998. Namun sejak kandas dalam pencalonan Presiden-Wakil Presiden tahun 2004 lalu, Gus Sholah tampak mengurangi aktivitas politiknya. Ia konsentrasi di lembaga pendidikan dengan menjadi Pengasuh Ponpes Tebu Ireng, pesantren yang didirikan kakeknya, KH Hasyim Asy’ari. Ia juga konsentrasi mengurus NU. Saat ini, dia tercatat sebagai salah satu pengurus di jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Di NU, Gus Sholah dikenal sebagai tokoh besar. Pemikirannya tentang NU mumpuni. Ia juga kerap memunculkan pemikiran brilian untuk memajukan NU sebagai organisasi besar yang mampu memberdayakan umat dan bangsa. Modal pengetahuan agama dan pengalamannya mengelola perusahaan menjadikan dia sosok yang tahu bagaimana caranya memanaj NU agar tumbuh besar dan maju sehingga disegani di dalam negeri maupun di luar negeri.
Dikenal Kristis Gus Sholah juga dikenal sebagai tokoh NU yang idealis, berintegritas, dan berkomitmen memajukan NU. Integritasnya sudah diketahui luas sejak dia getol berjuang di Komnas HAM. Idealismenya tetap dia bawa hingga menjadi pengurus struktural di NU. Karena itu, tak heran jika dia kerap mengkritisi ketidakberesan yang terjadi di NU. Gus Sholah menilai, NU sekarang mulai jauh dari tujuan awal didirikan. NU sudah banyak dipengaruhi oleh kepentingan sesaat kelompok tertentu. Ia mengkritisi adanya tanda-tanda cara kotor kelompok tertentu pada proses pemilihan calon Rais Am Ketum PBNU di muktamar. Cara-cara kotor tersebut, kata dia, terlihat pada proses pendaftaran peserta muktamar. Ada perlakuan diskriminatif akibat pro-kontra sistem pemilihan Rais Am model ahlul halli wal aqdi (AHWA) di formulir pendaftaran yang disediakan panitia. “Saya ingin menertibkan pendaftaran peserta muktamar. Ada perlakuan diskriminatif, antara yang mendukung AHWA dengan yang menentang AHWA. Alhamdulillah sudah teratasi,” katanya. Gus Sholah berharap, sikap yang keluar dari akhlak tak terpuji itu tidak terjadi di Muktamar ke-33 NU di Jombang. Ia mengutip pidato Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj pada pembukaan muktamar, Sabtu (1/8) malam, yang menginginkan Muktamar NU terlaksana dengan diwarnai akhlakul karimah. “Tidak boleh ada kecurangan apa pun dalam pelaksanaan muktamar ini,” tandasnya. Dalam pandangan Gus Sholah, NU saat ini kehilangan ruhnya, terganti oleh pragmatisme. Politisasi juga kental terlihat. Menurut Gus Sholah, paradigma NU sebagai organisasi masyarakat dan partai politik (parpol) jelas berbeda. Paradigma parpol inilah yang menurutnya harus dilawan dan dibersihkan di NU. “Seperti saya bilang tadi, berikan manfaat kepada NU, jangan mengambil manfaat pada NU,” tegas dia. Yang paling penting, kata Gus Sholah, NU ke depan harus diperbaiki. Didirikan oleh ulama-ulama besar, kata dia, NU merupakan aset besar bangsa Indonesia. “Karena itu, janganlah NU dikotori dengan perbuatan-perbuatan curang, money politics, misalnya. Berikanlah manfaat bagi NU, jangan mengambil manfaat dari NU,” pesan dia. Gus Sholah juga meminta pengurus dan semua kader NU betul-betul menebarkan Islam rahmatan lil alamin. Pemaksaan dan kekerasan tidak bisa dilaksanakan meskipun tujuannya untuk menanamkan ajaran Islam. “Islam Nusantara itu hanya nama, intinya Islam rahmatan lil alamin. Intinya, Islam yang tidak menggunakan kekerasan dan pemaksaan,” kata dia. (GA Semeru)
Dikenal Kristis Gus Sholah juga dikenal sebagai tokoh NU yang idealis, berintegritas, dan berkomitmen memajukan NU. Integritasnya sudah diketahui luas sejak dia getol berjuang di Komnas HAM. Idealismenya tetap dia bawa hingga menjadi pengurus struktural di NU. Karena itu, tak heran jika dia kerap mengkritisi ketidakberesan yang terjadi di NU. Gus Sholah menilai, NU sekarang mulai jauh dari tujuan awal didirikan. NU sudah banyak dipengaruhi oleh kepentingan sesaat kelompok tertentu. Ia mengkritisi adanya tanda-tanda cara kotor kelompok tertentu pada proses pemilihan calon Rais Am Ketum PBNU di muktamar. Cara-cara kotor tersebut, kata dia, terlihat pada proses pendaftaran peserta muktamar. Ada perlakuan diskriminatif akibat pro-kontra sistem pemilihan Rais Am model ahlul halli wal aqdi (AHWA) di formulir pendaftaran yang disediakan panitia. “Saya ingin menertibkan pendaftaran peserta muktamar. Ada perlakuan diskriminatif, antara yang mendukung AHWA dengan yang menentang AHWA. Alhamdulillah sudah teratasi,” katanya. Gus Sholah berharap, sikap yang keluar dari akhlak tak terpuji itu tidak terjadi di Muktamar ke-33 NU di Jombang. Ia mengutip pidato Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj pada pembukaan muktamar, Sabtu (1/8) malam, yang menginginkan Muktamar NU terlaksana dengan diwarnai akhlakul karimah. “Tidak boleh ada kecurangan apa pun dalam pelaksanaan muktamar ini,” tandasnya. Dalam pandangan Gus Sholah, NU saat ini kehilangan ruhnya, terganti oleh pragmatisme. Politisasi juga kental terlihat. Menurut Gus Sholah, paradigma NU sebagai organisasi masyarakat dan partai politik (parpol) jelas berbeda. Paradigma parpol inilah yang menurutnya harus dilawan dan dibersihkan di NU. “Seperti saya bilang tadi, berikan manfaat kepada NU, jangan mengambil manfaat pada NU,” tegas dia. Yang paling penting, kata Gus Sholah, NU ke depan harus diperbaiki. Didirikan oleh ulama-ulama besar, kata dia, NU merupakan aset besar bangsa Indonesia. “Karena itu, janganlah NU dikotori dengan perbuatan-perbuatan curang, money politics, misalnya. Berikanlah manfaat bagi NU, jangan mengambil manfaat dari NU,” pesan dia. Gus Sholah juga meminta pengurus dan semua kader NU betul-betul menebarkan Islam rahmatan lil alamin. Pemaksaan dan kekerasan tidak bisa dilaksanakan meskipun tujuannya untuk menanamkan ajaran Islam. “Islam Nusantara itu hanya nama, intinya Islam rahmatan lil alamin. Intinya, Islam yang tidak menggunakan kekerasan dan pemaksaan,” kata dia. (GA Semeru) 




























