Gara-gara Dipukul Guru, Anak Takut Masuk Sekolah

Gara-gara Dipukul Guru, Anak Takut Masuk Sekolah
Muna Barat, Obsessionnews - Lagi-lagi kekerasan pada anak. Kurang lebih seminggu penerimaan siswa baru Sekolah Dasar (SD) 5 Lawa, anak kelas 1 Rafika tidak mau lagi masuk sekolah. Orang tua siswa yang bersangkutan pun resah dengan tindakan putrinya itu yang tidak mau masuk sekolah lagi. Berdasarkan pengakuan ibunya, Rahmi, anaknya tidak mau masuk sekolah karena gurunya membentak dan memukul kepala si anak di sekolah. Sehingga anak yang berumur enam tahun ini ketakutan dan tidak mau lagi masuk sekolah. "Waktu masuk pertama hari senin anak saya di bentak oleh ibu gurunya saat itu dia tidak mau masuk sekolah. Tapi saya antar kembali, sambil membicarakan secara baik-baik pada kepala sekolah, agar anak saya tidak dibentak atau mendapat kekerasan. Pas hari kamis 30 Juli 2015 Fingka melapor kalau gurunya Wa Ndowala pukul kepalanya, sembari berkata jangan beritahu mama kamu. Hingga pulang sekolah anak saya mengeluh, tidak mau lagi sekolah," jelasnya pada Obsessionnews, kemarin. Sepertinya kekerasan terhadap anak masih saja menjadi budaya yang digunakan para oknum guru atau anak didik. Padahal sudah jelas UU kekerasan terhadap anak dengan tegas melarang agar tidak melakukan kekerasan baik secara fisik maupun psikis pada anak. Hal ini menjadi perhatian serius oleh pemerintah mengingat jumlah kekerasan terhadap anak begitu banyak yang bisa berakibat negatif pada pertumbuhan anak sendiri. "Ini kekerasan terhadap anak, dan saya tidak sudi kalau anak saya mendapat kekerasan di sekolah. Apalagi sampai anak saya tidak mau masuk sekolah, sebab saya berharap anak saya bisa pintar bukan mendapat kekerasan hingga anak saya ketakutan dan jadi anak bengong," tegasnya. Setiap ibu menginginkan anaknya mendapat ilmu dan pengetahuan disekolah, tentunya dengan cara-cara didikan yang elegan. Setiap ibu tidak menginginkan anaknya diajarkan kekerasan ataupun cara-cara berbohong, tapi berharap anaknya bisa cerdas, pandai dan jujur, bukan anak yang bisa berbohong atau bengong. Memang bukan hal baru kalau anak yang mendapat kekerasan atau intimidasi disekolah, tapi saat ini tidak identik lagi mengajarkan anak dengan cara-cara kekerasan. Pengalaman terbesar yang belum hilang dibenah kita kekerasan anak yang ada di Jakarta Ineternational School (JIS), serta kekerasan pada Angelina anak angkat Margareth hingga meninggal, menjadi pelajaran terbesar. Dan setiap ibu tidak menginginkan anaknya mendapat kekerasan di ruang-uang publik. Oleh sebeb itu Rami tidak akan memindahkan anaknya di sekolah lain tapi berharap guru tersebut dipindahkan dari sekolah SD 5 Lawa. "Saya tidak mau anak saya mendapt intimidasi dan diskriminasi di sekolah, dan saya tidak mau memindahkan anak saya ke sekolah lain. Saya pikir ini harus ditindak lanjuti, dan tidak cukup kalau guru tersebut hanya dipindahkan dikelas lain, tapi harus dipindahkan di sekolah lain. Mengingat sekolah itu kan, sekolah teladan, dan saya pikir tidak perlu ada guru seperti itu lagi saat ini, apalagi gurunya sudah memiliki sertifikasi. Ini sangat ironi, maka guru seperti itu harus dipindahkan," tegasnya. Selain itu Rahmi juga akan melaporkan kepada Komisi Perlindunhan Anak Indonesia (KPAI) kalau tidak ada tindakan tegas dari kepala sekolah setempat. Sedangkan kepala sekolah Syamsuria saat dikonfirmasi mengaku masalah tersebut sudah diselesaikan secara kekeluargaan. "Sudah dibicarakan, dan sebelumnya saya juga sudah ingatkan kepada guru yang bersangkutan. Langkah yang akan diambil oleh pihak sekolah, guru bersangkutan akan dipindahkan ke kelas lain. Karena kalau pemindahan guru itu tidak segampang kita pikirkan, jadi gurunya dipindahkan dikelas lain saja," tuturnya. Dikabarkan ada beberapa anak yang mengalami hal yang sama, tapi selama ini tidak ada tindakan. Sebelumnya kurang lebih lima anak yang takut sekolah lagi di SD tersebut dan mereka lebih memilih sekolah di tempat lain meski harus menganggur satu tahun menunggu ajaran baru. Namun kepala sekolah menyangkal kalau ada murid seperti itu. (Asma)