Ruwatan Gedung Sate, Budayawan Tolak Waduk Jatigede

Bandung, Obsessionnews - Ruwatan di depan Gedung Sate Bandung, budayawan menolak Waduk Jatigede. Ruwatan diikuti sekitar 200 orang dari budayawan Jabar ngaruat di depan gedung Sate Bandung Kamis (30/7). Aksi ini sebagai penolakan terhadap pembangunan waduk Jatigede Sumedang. Para budayawan, akitifis Walhi, DPKLTS dan para aktifitas sejumlah LSM tersebut duduk didepan 'parukuyan' dengan membakar kemenyan sementara di depan mereka sejumlah sesajen komoditas pertanian seperti wortel, kol, ketimun dan buah-buahan. Selain itu juga ada duwegan dan air kopi dan bakakak, terpampang pula sejumlah spanduk yang bertuliskan jangan ganggu waduk jatigede.
Dalam statemennya, mereka meminta agar Presiden Jokowi membatalkan penggenangan waduk Jatigede 1 Agustus mendatang menyusul banyaknya situs budaya leluhur di kawasan tersebut. Dalam statemen yang merupakan surat yang dikirimkan kepada Presiden ditandatangani Ketua Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Mubyar Purwasasminta, Darmawan Harjakusumah (Acil Bimbo) sebagai Budayawan dan ketua Dewan penasehat DPKLTS Solihin GP disebutkan sebenarnya lebih dari 10 tahun yang lalu sejak waduk Jatigede mulai dibangun pihaknya terus mengingatkan kepada Pemerintah, bahwa pembangunan waduk tersebut akan menemui banyak masalah yang rawan konflik.
Permohonan pembatalan sebelumnya sudah dikirim dengan Nomor 30/DPKLTS/Ext/X/04 tertanggal 26 Oktober 2004. Dijelaskan Ketua DPKLTS Mubyar Purwasasmita waduk tersebut berada di wilayah geologi yang sensitif, secara ekonomi lokasi tergenang merupakan daerah pertanian subur dan hutan negara yang dilindungi serta secara budaya di lokasi genangan banyak didapati situs peninggalan budaya leluhur masa lalu masyarakat tatar Sunda yang tidak dapat tergantikan. Situs-situs tersebut antara lain situs Cipaku yang dipercaya sebagai peninggalan Eyang Prabu Aji Putih sekitar abad ke-7 seorang raja dari kerajaan Tembong Agung cikal bakal kerajaan Sumedang Larang yang merupakan titik singgung paling utama kesatuan gunung-gunung di pulau Jawa. Selain itu ada 33 situs dari 48 situs yang terendam di waduk tersebut apabila pembangunan terus dipaksakan. (Dudy Supriyadi)
Dalam statemennya, mereka meminta agar Presiden Jokowi membatalkan penggenangan waduk Jatigede 1 Agustus mendatang menyusul banyaknya situs budaya leluhur di kawasan tersebut. Dalam statemen yang merupakan surat yang dikirimkan kepada Presiden ditandatangani Ketua Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Mubyar Purwasasminta, Darmawan Harjakusumah (Acil Bimbo) sebagai Budayawan dan ketua Dewan penasehat DPKLTS Solihin GP disebutkan sebenarnya lebih dari 10 tahun yang lalu sejak waduk Jatigede mulai dibangun pihaknya terus mengingatkan kepada Pemerintah, bahwa pembangunan waduk tersebut akan menemui banyak masalah yang rawan konflik.
Permohonan pembatalan sebelumnya sudah dikirim dengan Nomor 30/DPKLTS/Ext/X/04 tertanggal 26 Oktober 2004. Dijelaskan Ketua DPKLTS Mubyar Purwasasmita waduk tersebut berada di wilayah geologi yang sensitif, secara ekonomi lokasi tergenang merupakan daerah pertanian subur dan hutan negara yang dilindungi serta secara budaya di lokasi genangan banyak didapati situs peninggalan budaya leluhur masa lalu masyarakat tatar Sunda yang tidak dapat tergantikan. Situs-situs tersebut antara lain situs Cipaku yang dipercaya sebagai peninggalan Eyang Prabu Aji Putih sekitar abad ke-7 seorang raja dari kerajaan Tembong Agung cikal bakal kerajaan Sumedang Larang yang merupakan titik singgung paling utama kesatuan gunung-gunung di pulau Jawa. Selain itu ada 33 situs dari 48 situs yang terendam di waduk tersebut apabila pembangunan terus dipaksakan. (Dudy Supriyadi) 




























