Segera Evaluasi Agar Insiden Tolikara Tak Terjadi Lagi!

Jakarta, Obsessionnews - Penggagas Suara Hati Rakyat (SHR) Indonesia, Ilham Ilyas menyayangkan terjadinya peristiwa pembakaran tempat ibadah di Kabupaten Tolikara, Papua. Ia berpandangan, insiden Tolikara merupakan suatu tindakan yang tidak berpancasilais, suatu tindakan yang tidak menunjukkan bahwa mereka (pelaku) itu adalah bangsa Indonesia pemilik hati benar. "Menurut saya, apa yang mereka lakukan itu adalah kurangnya kesadaran, kurangnya kesadaran sebagai bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bermoral, beretika, sebagai bangsa yang punya pandangan Pancasila. Mereka melanggar implementasi sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa," ujar Ilham saat dihubungi Obsessionnews, Minggu (19/7/2015). Ilham mengatakan, para pelaku tidak menyadari bahwa kebebasan beragama di Indonesia telah diatur dalam sila pertama Pancasila dan pasal 29 UUD 1945. Ia menuturkan, dengan kejadian ini semua elemen bangsa harus mengevaluasi diri untuk kembali ke jatidirinya yang sebenarnya yakni Pancasila dan UUD 1945. Sebab kata Ilham, di dalam Pancasila dan UUD 1945 itu sendiri terdapat norma yang mengatur toleransi antar umat beragama. "Itu perbuatan yang tidak membawa jatidiri bangsa Indonesia. Marilah kita dengan kesadaran sendiri menggunakan energi kebenaran hati adalah jalan menuju silaturahim, jalan untuk mengemukakan, melihat titik benar di mana titik masalah tersebut," katanya. "Jadi, saya berpendapat tanggungjawab seluruh bangsa Indonesia mari kita dengan kesadaran untuk kembali kepada jatidiri kita, kembali kepada Pancasila karena toleransi beragama itu adalah sesuatu yang dapat membesarkan bangsa kita ini," lanjut Ilham. "Ingat toleransi beragama adalah pucuk kedamaian bangsa ini, makanya sila pertama itu dilampirkan, sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi sekali lagi tolong, mari kita jaga toleransi umat beragama di Indonesia," terangnya. Dengan menjaga toleransi umat beragama, Ilham yakin persatuan dan kesatuan bangsa tidak dapat tergoyahkan karena toleransi adalah benteng sekaligus pondasi dari jiwa jatidiri kita yaitu pancasila. "Di sini peristiwanya sudah terjadi, dalam arti kalau kita berbicara mana salah dan mana benar, saya berpendapat sebagai penggagas SHR marilah kita mengevaluasi agar ke depan tidak terjadi sesuatu yang sama seperti di Papua ini," ucap dia. Diakuinya, peristiwa Tolikara terjadi karena kurangnya koordinasi diantara aparat pemerintah, tokoh agama dan elemen masyarakat. Harusnya menurut dia, peristiwa ini dapat dicegah apabila semua pemangku kepentingan di kabupaten Tolikara duduk bersama mencarikan solusi terbaik sebelum peringatan Hari Raya Idul Fitri. "Saya juga meminta kepada pemerintah, berhubungan dengan hari-hari besar agama seharusnya sebulan sebelum ditetapkan hari besar, tempat diadakan hari besar hendaknya disosialisasikan bagaimana cara bertoleransi untuk mengingatkan kepada seluruh bangsa Indonesia bahwa kebebasan beragama di Indonesia ini dijamin." "Ke depan, saya minta evaluasi koordinasi di segala aspek untuk menciptakan suasana yang baik, jangan anggap remeh. Di samping itu, dengan kejadian ini dengan segala kerendahan hati saya bermohon kepada suadara-saudara kita dari Sabang sampai Merauke jadilah bangsa kita mengenal jatidiri kita, jangan cepat terprovokasi yang kemungkinan besar bisa merusak persatuan dan kesatuan bangsa," tutup Ilham. (Has)





























