Partai Idaman Si Raja Dangdut

Jakarta, Obsessionnews – Si Raja Dangdut Rhoma Irama tak kapok berpolitik. Kali ini dia mendirikan Partai Idaman, singkatan dari Indonesia Damai dan Aman. Di partai ini Rhoma duduk sebagai ketua umum. Partai Idaman akan dideklarasikan di sebuah restoran di Jakarta Pusat hari ini, Sabtu (11/7/2015). Partai Idaman berslogan ‘Menampilkan Citra Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin, Membangun Indonesia yang Pancasilais’. Partai Idaman bakal menampilkan Islam yang merupakan rahmat bagi sekalian alam. Dengan demikian, Partai Idaman adalah partai islam yang nasionalis. Rhoma mendirikan Partai Idaman karena gagal bersaing dengan Yusril Ihza Mahendra dalam Muktamar Partai Bulan Bintang (PBB) di Bogor, Jawa Barat, Minggu, 26 April 2015. Partai Idaman akan menjadi kendaraan Rhoma untuk maju sebagai capres pada Pilpres 2019 mendatang. Sebelumnya Rhoma menjadi juru kampanye (jurkam) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada Pemilu 2014. Rhoma dan Soneta Group aktif berkampanye di berbagai daerah. Dan, hasilnya, perolehan suara PKB pada pemilu legislatif itu melejit. Karena popularitas dan jasanya mendongkrak perolehan suara PKB itu, Rhoma dijanjikan diusung menjadi capres pada Pilpres 2014. Namun, ternyata, Rhoma hanya mendapat ‘angin sorga’. PKB ingkar janji. Tak jadi mendukung Rhoma. Partai ini mendukung duet Joko Widodo (Jokowi) – Jusuf Kalla (JK) sebagai capres-cawapres pada Pilpres 2014. Hal itu membuat Rhoma kecewa. Ia lalu mendukung pasangan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa. Jokowi – JK secara meyakinkan menaklukkan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa dalam Pilpes 2014. Kutu Loncat Kiprahnya di dunia musik dangdut mengantarkan Rhoma mendapat gelar Raja Dangdut. Sedangkan aktivitasnya di pentas politik dia mendapat julukan kutu loncat. Kutu loncat adalah istilah yang ditujukan kepada orang yang hobi berpindah partai. Nama Rhoma Irama mulai melejit di tahun 1970-an dengan lagu Begadang. Popularitasnya itu dimanfaatkan oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Rhoma yang berasal dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU) bersedia menjadi jurkam PPP pada Pemilu 1977. PPP yang didirikan pada 5 Januari 1973 merupakan fusi dari tiga partai Islam, yakni NU, Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dan Partai Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti). Pada era Orde Baru hanya terdapat tiga partai, yakni Golongan Karya (Golkar), PPP, dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Pada Pemilu 1977 PPP meraih suara terbesar kedua setelah Golkar. Dan Rhoma berperanan besar dalam perolehan suara partai berlambang Ka’bah itu. Akibat aktivitasnya mendukung PPP, Rhoma Irama dicekal tampil di TVRI. Selain itu ia sering dipersulit memperoleh izin pementasan grup dangdut pimpinannya, Soneta Group. Pada Pemilu 1997 publik dikejutkan dengan kepindahan Rhoma dari PPP ke Golkar. Bahkan Rhoma menjadi caleg partai penguasa Orde Baru itu. Dan akhirnya dia berhasil melenggang ke Senayan, sebutan populer untuk Gedung MPR/DPR yang terletak di Senayan, Jakarta Pusat. Selanjutnya pada Pemilu 2009 Rhoma kembali ke PPP. Ia menjadi caleg DPR untuk daerah pemilihan (dapil) Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tetapi, dia gagal terpilih menjadi anggota DPR. Karena kecewa pada PPP, Rhoma lalu bergabung denga PKB pada Pemilu 2014. Di partai ini pun Rhoma gigit jari, karena tidak diusung menjadi capres pada Pilpres 2014. (Arif RH)





























