Dari Yunani dan Cina, Perlambatan Berimbas ke Negara Berkembang

Dari Yunani dan Cina, Perlambatan Berimbas ke Negara Berkembang
Jakarta, Obsessionnews - Kamis (9/7) malam, Chief Economist International Monetary Fund Olivier Blanchard dalam World Economic Outlook Juli, mengatakan pertumbuhan ekonomi global diprediksi makin lambat setelah bertambahnya ancaman krisis finansial. Gelombang krisis tersebut menurut dia, akibat sentimen rontoknya bursa saham Cina hingga krisis Yunani di Eropa. IMF pun kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Sebelumnya, dana moneter dunia memproyeksikan pertumbuhan di angka 3,5%. Kini, diturunkan jadi 3,3%. Ini, menurut Olivier, merupakan perkiraan terendah sejak perlambatan ekonomi global tahun 2008 lalu. "Kita memasuki masa pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat," kata Olivier. Sementara itu, bagi negara-negara berkembang perekonomian diperkirakan masih berada di kisaran 4,6% pada 2014 dan sedikit menurun jadi 4,2% pada 2015. Perlambatan ini, menurut IMF lantaran dipengaruhi rendahnya harga komoditas serta pengetatan kondisi keuangan di masing-masing negara. Selanjutnya, pemulihan di negara-negara maju diperkirakan terjadi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa Area 3. Ekonomi AS sendiri, diduga bakal berkembang sebanyak 0,1% menjadi 2,5%. Pertumbuhan ekonomi Eropa Area 3 yang mengitari Jerman, Perancis, Italia serta Spanyol, diperkirakan membaik dari 0,8% pada 2014 menjadi 1,5 persen tahun ini. Imbas Yunani Anjloknya Yunani, menjadi ancaman serius di tengah upaya Eropa memulihkan diri dari krisis yang menerpa tahun 2013 silam. Saat itu, pertumbuhan sempat menyentuh minus 0,4%. Sementara ASEAN termasuk Indonesia, pertumbuhan akan naik 0,1% dari tahun lalu menjadi 4,7%. Cina yang saat ini sedang kalang kabut, juga diprediksi terus mengalami perlambatan mendalam. Sehingga, IMF mematok pertumbuhan untuk tahun ini cuma sekitar 6,8% atau terjun bebas dari tahun lalu yang menyentuh 7,4%. Guncangan di negeri tirai bambu, membuat para investor panik. Perlambatan, diprediksi bakal menurunkan peringkat bagi sejumlah negara berkembang yang berkaitan erat perekonomiannya dengan negara adi daya tersebut.(Mahbub Junaidi)