Kota Tasik 'Nyontek' Bandung Soal Dana CSR

Bandung, Obsessionnews - Walikota Bandung Ridwan Kamil menerima kunjungan Walikota Tasikmalaya, Budi Budiman di ruang tengah, Balaikota Bandung, Kamis (9/7). Budi menjelaskan tujuan kedatangannya untuk sharing program Coorporate Social Responsibility (CSR) dari Kota Bandung. Menurut Budi, Kota Tasikmalaya belum optimal dalam mengelola bantuan tersebut. Budi menilai Kota Bandung cukup berhasil dengan CSR terbukti dengan adanya pembangunan-pembangunan taman kota tanpa dana dari APBD. Budi menambahkan, sejak Kota Bandung dipimpin Ridwan Kamil dua tahun ini, mampu mengelola sumber dana dari CSR untuk pembangunan Kota Bandung. “Selama ini Perda di Tasik, belum optimal mengelola CSR. Maka tujuan datang kami untuk sharing dan belajar dari Kota Bandung tentang program CSR,” ujarnya.
Ridwan Kamil sendiri mengatakan dalam membangun kota Bandung ini, masyarakat hanya meminta satu perubahan. Kadang- kadang masyarakat tidak selalu peduli dengan sumber danannya, yang penting perubahan itu terjadi. Dalam mencari perubahan itu Pemerintah Kota Bandung berkolaborasi dengan pebisnis, kelompok masyarakat dan media. Karena dengan program CSR itu, menurut pria yang disapa Emil ini, Bandung hanya melakukan 25 persen perubahan. Emil juga menambahkan jika di Bandung ada berbagai jenis perubahan, salah satunya adalah bentuk bantuan sosial masyarakat tapi diatur regulasi oleh agama yang bernama zakat.Begitu pula dengan CSR, Emil menuturkan jika program ini merupakan kewajiban bantuan sosial dari perusahaan kepada masyarakat. “Ada peraturan non agama yang mengatur sumbangan namanya CSR, jadi kewajiban sosial dari perusahan bentuknya juga tanggung jawab sosial,”imbuhnya. [caption id="attachment_49450" align="alignnone" width="640"]
Budi Budiman dan Ridwan Kamil[/caption] Emil menjelaskan, apabila CSR ini ada regulasinya, minimal hampir 20 Trilyun harus keluar dari perusahaan-perusahaan di Indonesia sebagai tanggung jawab tersebut. Namun masalahnya adalah perusahaan kebingungan mengeluarkan program yang cocok dengan pemerintah kota. “Dana 20 Trilyun dengan apa yang dibutuhkan terkadang tidak nyambung,”ucapnya Emil menyarankan Budi beserta jajarannya untuk memanfaatkan program CSR dengan konsep dan negosiasi yang baik, sehingga tidak mustahil apa-apa yang dimiliki Bandung dimiliki juga Kota Tasikmalaya. (Dudy Supriyadi)
Ridwan Kamil sendiri mengatakan dalam membangun kota Bandung ini, masyarakat hanya meminta satu perubahan. Kadang- kadang masyarakat tidak selalu peduli dengan sumber danannya, yang penting perubahan itu terjadi. Dalam mencari perubahan itu Pemerintah Kota Bandung berkolaborasi dengan pebisnis, kelompok masyarakat dan media. Karena dengan program CSR itu, menurut pria yang disapa Emil ini, Bandung hanya melakukan 25 persen perubahan. Emil juga menambahkan jika di Bandung ada berbagai jenis perubahan, salah satunya adalah bentuk bantuan sosial masyarakat tapi diatur regulasi oleh agama yang bernama zakat.Begitu pula dengan CSR, Emil menuturkan jika program ini merupakan kewajiban bantuan sosial dari perusahaan kepada masyarakat. “Ada peraturan non agama yang mengatur sumbangan namanya CSR, jadi kewajiban sosial dari perusahan bentuknya juga tanggung jawab sosial,”imbuhnya. [caption id="attachment_49450" align="alignnone" width="640"]
Budi Budiman dan Ridwan Kamil[/caption] Emil menjelaskan, apabila CSR ini ada regulasinya, minimal hampir 20 Trilyun harus keluar dari perusahaan-perusahaan di Indonesia sebagai tanggung jawab tersebut. Namun masalahnya adalah perusahaan kebingungan mengeluarkan program yang cocok dengan pemerintah kota. “Dana 20 Trilyun dengan apa yang dibutuhkan terkadang tidak nyambung,”ucapnya Emil menyarankan Budi beserta jajarannya untuk memanfaatkan program CSR dengan konsep dan negosiasi yang baik, sehingga tidak mustahil apa-apa yang dimiliki Bandung dimiliki juga Kota Tasikmalaya. (Dudy Supriyadi) 




























