Ruhut: Marzuki Orangnya Nggak Tahu Bersyukur

Ruhut: Marzuki Orangnya Nggak Tahu Bersyukur
Jakarta, Obsessionnews - Juru bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul menyebut, Marzuki Ali adalah kader Demokrat yang tidak pernah mau bersyukur. Sikap dan tindakannya dinilai justru sering kali menjatuhkan kebesaran Demokrat. Menurut Ruhut, sebagai kader Demokrat, mestinya Marzuki bersyukur telah didukung oleh ‎Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan petinggi Demokrat lain sebagai Ketua DPR periode 2009-2014. Padahal posisi dia DPR adalah orang baru. "Marzuki ini orang yang tidak mau bersyukur, dulu dia diberi jabatan sebagai Ketua DPR, tapi sekarang nggak beryukur," ujar Ruhut di DPR, Selasa (7/7/2015). Anggota Komisi III DPR ini mengatakan, karier Marzuki sebenarnya cukup bagus. Pasalnya, selain pernah menjabat sebagai ketua DPR, Marzuki juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Demokrat. Namun kata dia‎, Marzuki tidak pernah merasa puas. "Setya Novanto, Akbar Tanjung itu bisa jadi ketua DPR prosesnya lama, kalau Marzuki ini baru jadi anggota langsung jadi Ketua. Harusnya bersyukur," jelas Ruhut. Ruhut juga meminta kepada Marzuki tidak perlu marah, tidak diundang dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Demokrat Sabtu (4/7/2015). Marzuki juga tidak dimasukan dalam daftar pengurus Demokrat periode 2015-2020. Saat ini posisi Marzuki sebagai anggota Demokrat biasa. "Kalau tidak diundang ya jangan marah donk, jangan merasa kecil hati," cetusnya. Ruhut mengungkapkan, alasan Marzuki tidak dimasukan dalam pengurus Demokrat lantaran dia pernah menyindir Susilo Bambang Yudhoyono pada saat pelaksaan Kongres Demokrat di Surabaya pada Mei 2015 lalu. Dimana Marzuki bilang SBY lupa diri karena ingin maju lagi menjadi ketua umum Demokrat. Marzuki sendiri sebelumnya menyatakan, akan keluar dari Demokrat. Sebab dirinya sudah tidak diberikan ruang untuk berjuang dan berkarya bersama Demokrat. "Dengan tidak masuk struktur apa pun, sudah tidak ada lagi ruang yang diberikan untuk mengabdi di Demokrat," kata Marzuki. Marzuki menyatakan masih ingin berpolitik dan terlibat aktif dalam usaha membesarkan Demokrat. Namun, setelah dia mengatahui tidak dimasukan dalam kepengurusan, dan tidak diundang dalam Rapimnas, maka memilih untuk keluar. "Jadi, bukan saya yang tidak ingin berbuat lagi untuk Partai Demokrat, melainkan SBY-lah yang menentukan bahwa kita tidak perlu lagi ada dalam Partai Demokrat," jelasnya. (Albar)