Pidato Kenegaraan, Benarkah Jokowi Ucapkan Maaf Pada PKI?

Pidato Kenegaraan, Benarkah Jokowi Ucapkan Maaf Pada PKI?
Jakarta, Obsessionnews - Mantan Wkil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Laode Ida mempertanyakan keakuratan mengenai kabar Presiden Jokowi akan meminta maaf pada Partai Komunis Indonesia (PKI) yang akan disampaikan pada pidato kenegaraan tanggal 16 Agustus 2015 nanti. Laode mengaku kalau kabar ini beredar dan dibahas di media sosial dalam pekan ini. Namun secara pribadi Laode berharap informasi tersebut tidak benar. "Ada salah satu link berita yg memuat komentar Kivlan Zen yang juga, katanya, sudah konfirmasi dari Jimly Ashiddiqie, saya jadi kian tanda tanya besar. Benarkah informasi itu? Saya sungguh-sungguh sangat berharap tidak benar," paparnya kepada obsessionnews.com, Senin (6/7/2015). Laode juga mengatakan kalau Jokowi tidak perlu meminta permohonan maaf pada keluarga PKI. Menurutnya PKI tetap jadi musuh ideologis negara ini, yang pernah terbukti berupaya ganti Pancasila. "Jadi sungguh ironis jika ada ucapan maaf bagi kelompok pengancam dasar negara itu," tandasnya. Kedua, jelasnya, komunis lawan utama masyarakat beragama seperti Indonesia, sebab salah satu substansi komunisme adalah atheisme. Kemudian Ketiga mengungkapkan permaafan terhadap keluarga PKI sekaligus menyakiti hati dan roh TNI, warga NU, Muhammadiya, HMI dan elemen-elemen kebangsaan lainnya yang pernah turut berjuang bersama melawan kekejaman PKI pada eranya. "Presiden Jokowi secara prinsip tentu tak boleh menyakiti barisan elemen bangsa penegak kedaulatan dan ideologi negara itu," tuturnya. Keempat, lanjut Laode, permohonan maaf Jokowi akan menyemangati untuk kembali bangkitnya kelompok penganut faham komunisme dengan berlindung di bawah payung Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokrasi yang dianut negeri ini. Jika yang terakhir ini terjadi, kata Laode, maka sama halnya dengan membawa negeri ini kepada permasalahan yang lebih rumit lagi. Sebab jika kemudian dilarang, maka terbuka ruang untuk adanya tekanan internasional dengan isu HAM dan demokrasi itu. Apalagi, menurutnya, negara ini begitu besar memberi ruang pada investasi dari negara China yang nota bene masih menganut ideologi atau Partai Komunis. Maka kebangkitan ideologi- ideologi komunisme kemudian akan jalan bersamaan dengan kekuatan modal asing dari negara komunis. "Namun demikian, saya tentu masih sangat percaya Presiden Jokowi tak akan mengangkat isu 'maaf pada keluarga PKI' dalam pidato kenegaraannya nanti," yakinnya. (Asma)