Isak Tangis Warnai Pemakaman Kapten Sandi

Isak Tangis Warnai Pemakaman Kapten Sandi
Semarang, Obsessionnews - Letusan tembakan senjata pasukan Skuadron 12 Waytuba dan anggota Korps Pasukan Khas (Paskhas) Lanumad Adi Soemarmo Malang bersahutan saat peti jenazah Kapten Pnb Sandi Permana, pilot pesawat Hercules C-130 diturunkan ke tempat peristirahatan terakhir di TMP Giritunggal, Semarang, Kamis (2/7/2015). Lelaki kelahiran 1 April 1984 itu harus tutup usia di umur 31 tahun dengan meninggalkan seorang istri, Hapsari dan dua putera-puteri. Sepanjang prosesi, tak henti-hentinya mereka bertiga menangisi kepergian ayah dan suami tercinta itu. Pemakaman dimulai dengan Apel Persada oleh prajurit sebagai bentuk penghargaan atas jasa yang diberikan dalam melayani negara. Isak tangis semakin kencang manakala peti jenazah dibuka dan dimasukkan ke salam liang lahat berukuran 2 x 0,6 meter. Pihak keluarga melalui Marsekal Pertama Komandan Lanud, Haris Haryanto kemudian menyampaikan permohonan maaf kepada pelayat atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Tak lupa taburan bunga diatas makam menjadikan pagi ini penuh suasana duka cita. "Demi kepentingan dan keluhuran bangsa, semoga seluruh jasa dan penghargaan almarhum menuju jalan dharma bakti yang mendapat tempat tenang di sisi-Nya," ujar dia. pemakaman2 Ia mengatakan musibah kecelakaan pesawat Hercules pada Selasa (30/6/2015), sekitar pukul 12:00 WIB mengejutkan bagi semua pihak. Meski begitu, musibah tersebut sudah menjadi ketetapan Tuhan. "Itu semua sudah kehendak Tuhan. Tentunya sebagai manusia tidak bisa luput dari rasa sedih. Terlebih keluarga korban yang ditinggalkan," ucapnya. Dimata Hartanto, Kapten Sandi merupakan pribadi yang baik dan memiliki loyalitas serta tanggung jawab tinggi semasa bertugas. Selain itu, almarhum dikenal sebagai sosok yang selalu berjuang keras menuntut ilmu. "Dalam sepuluh tahun begitu cepat memperoleh gelar akademis kesarjanaan dan lulusan terbaik prestasi Akademi Militer TNI-AU," ujarnya sambil menahan air mata. Memang, di masa lalu, Sandi menjadi lulusan terbaik komando Akademi Militer Angkatan Udara Adi Soemarmo Malang pada tahun 2005. Karirnya begitu cemerlang, hingga dalam jangka sepuluh tahun, dirinya berhasil menyabet dua gelar pendidikan kuliah sekaligus. Sungguh prestasi yang mungkin sulit didapatkan orang lain. Namun kini, semua itu harus menjadi kenangan. Kecelakaan Hercules patutnya menjadi tongkat pemicu agar pemerintah segera memperbaharui alutsista yang telah usang. Biarlah sang Kapten sebagai pengingat dan beristirahat dengan tenang kembali ke hadirat-Nya. Selamat jalan Kapten Sandi! (Yusuf IH)