Asyiknya Bermain ‘Sandboarding’ di Yogyakarta

Asyiknya Bermain ‘Sandboarding’ di Yogyakarta
Oleh: Irfan Ramdhani Pengantar Redaksi:Irfan Ramdhani seorang penyandang disabilitas dan penggiat alam bebas. Di berbagai kesempatan Irfan acap kali memberi motivasi bahwa keterbatasan fisik tidak menghambat kemajuan seseorang. Bukunya berjudul Tabah Sampai Akhir merupakan buku yang inspiratif. Sarjana komputer ini  tercatat sebagai anggota  Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Gunadarma. Berikut ini tulisan Irfan tentang pengalamannya bermain sandboarding di Yogyakarta. YOGYAKARTA, tempat yang istimewa ini selalu ada hal menarik untuk dilakukan baik dari segi wisata alam atau kuliner. Jika selama ini Anda hanya melihat kegiatan outdoor bernama sandboarding di luar negeri, sekarang di Indonesia tepatnya Yogyakarta sudah memiliki lokasi yang sangat cocok digunakan untuk kegiatan tersebut. Endapan pasir bertemu arus laut urung menjadi delta. Kuatnya arus pantai selatan turut mengacak pasir merapi yang memanjang di selatan Yogyakarta sampai barat Jawa Tengah, dengan bantuan angin yang berhembus, pasir membentuk sebuah bentangan alam yang khas dengan teksturnya yang melembut serta ritmenya yang teratur. Gumuk pasir Parangkusumo, salah satu keunikan bentuk lahan di selatan Yogyakarta. [caption id="attachment_47964" align="alignleft" width="360"]Keterbatasan fisik tak menghalangi Irfan berolahraga sandboarding. Keterbatasan fisik tak menghalangi Irfan berolahraga sandboarding.[/caption] Sandboarding merupakan olahraga permainan menggunakan papan seluncur yang dipergunakan di atas pasir. Lokasi untuk bermain sandboarding sangat mudah untuk dijangkau, yaitu terletak di Parang Kusumo. Tempat ini bersebelahan dengan Pantai Parang Tritis yang menjadi salah satu ikon kota Yogyakarta. Ketika Anda berada di atas pasir dan siap meluncur, adrenalin Anda akan diuji di sini, antara perasaan takut atau berani. Dengan ketinggian sekitar 5-7 meter Anda akan merasakan adrenalin meningkat dengan cepat setelah meluncur. Jatuh bangun berluluran pasir sudah menjadi hal biasa dalam olahraga ini dengan alat pengaman sandboarding berupa helm, pengaman tangan dan lutut kaki. Pada akhir 2013 lalu saya berkunjung ke Yogyakarta. Awalnya hanya untuk ingin mendapatkan alat bantu brace (alat untuk berjalan tanpa menggunakan tongkat) karena saat ini saya berjalan dengan menggunakan alat bantu tongkat. Hal itu disebabkan saya mengalami kecelakaan pada tahun 2010. Sebelumnya saya menjadi anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Gunadarma. Walaupun saat ini saya menggunakan alat bantu untuk berjalan, banyak teman-teman dari Mapala lain yang sering membantu saya apabila travelling. Beruntung saya mempunyai keluarga besar di Mapala, karena hampir setiap kota pasti ada saja Mapalanya. Pada saat itu saya berkunjung ke Yogyakarta, saya di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan bermalam di Mapagama UGM, lalu keesokan harinya memesan brace. [caption id="attachment_47965" align="alignright" width="360"]Irfan baru pertama kali mencoba sandboarding san langsung ketagihan. Irfan baru pertama kali mencoba sandboarding san langsung ketagihan.[/caption] Pagi menjelang, saatnya saya bersiap untuk memesan brace tersebut di daerah Bantul. Hingga larut malam dan pada akhirnya selesai juga pembuatan brace tersebut. Alhasil saya senang sekali bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat.Walaupun menggunakan brace sakit dan ngilu karena terbuat dari besi dan tidak bisa untuk dipakai berjalan jarak jauh, alhasil membuat saya cukup merasakan nikmatnya berjalan. Sepulangnya dari Bantul, teman-teman saya yang sedang berkumpul di Gelanggang Mahasiswa UGM terkejut melihat saya datang berjalan menggunakan brace. Teman-teman dari Mapagama UGM dan Unit Selam UGM menyambut saya dengan sangat gembira. Alih-alih yang awalnya hanya ingin berobat untuk mencari kesembuhan, ada saja durian runtuh. Alhasil, saya kembali bermalam di Mapagama UGM dan diajak oleh Banu, salah satu anggota Mapagama, untuk bermain sandboarding. "Bang, yuk besok kita main pasir. Kita seluncuran dari puncak undukan pasir di deket Parangtritis, namanya sandboarding. Kayak main skateboard gitu, he he he, ujar Banu sambil tertawa. "Wih, asyik juga tuh Ban, belum pernah nyobain tuh sebelumnya. Tapi nanti gue bisa nggak ya? Kalau duduk gimana, Ban, bisa?" tanya saya. "Bisa, Bang, tenang aja, Nggak ada yang nggak bisa. Iya nggak? He he he he," kata Banu sambil tersenyum. Keesokan harinya saya dan teman-teman bergegas menuju ke Parangkusumo. Saya melihat dengan takjub keindahan alam yang diciptakan oleh Sang Maha Kuasa. Bentangan pasir yang sangat luas seakan berada di Mesir. He he he... Tidak pakai lama saya langsung menuju puncak undakan pasir dengan menggunakan kedua tongkat saya. Terasa berat dan lelah sekali untuk menuju puncak undukan pasir di Parangkusumo. Teman-teman saya sudah meluncur dengan asyiknnya, sedangkan saya masih berjalan untuk menggapai puncak undukan pasir. Sekitar 10 menit saya berjalan, akhirnya sampai juga di puncak undukan pasir. Dengan tidak sabar saya langsung meluncur dengan posisi duduk dan kaki kiri saya pegang. Aaaaaaaaa...... seru sekali permainan ini. Baru pertama kali mencoba langsung ketagihan. Tidak mempedulikan betapa susahnya untuk menggapai undukan pasir. Sekali meluncur alhasil ketagihan. Walaupun butuh tenaga ekstra untuk mencapai puncak undukan pasir saya tetap bersemangat untuk mencobanya lagi. Walaupun kali ini untuk menggapai puncak undukan harus rela-rela mengotori celana dengan mengesot karena cukup tinggi tanjakan untuk menuju puncak undukan pasir yang lainnya di Parangkusumo. Walaupun lelah sekali, dan saya hanya mencoba meluncur tiga kali itu sudah membuat saya cukup puas dan bangga atas keberhasilan melawan keterbatasan yang saya punya untuk tidak takut mencoba olahraga baru sandboarding ini.Sangat beruntung mempunyai teman-teman yang sangat solid untuk membantu saya agar bisa melakukan olahraga yang berbau ekstrem. Senang sekali rasanya bisa merasakan olahraga sandboarding di Yogyakarta, olahraga yang cukup baru di Indonesia ini hanya sedikit negara di dunia yang mempunyai tempat untuk olahraga ini, salah atunya yaitu Gumuk Pasir Pantai Parangkusumo-Yogyakarta. Berbanggalah sebagai warga negara Indonesia yang mempunyai keanekaragaman alam yang sangat kaya ini. Saya hanya ingin mengatakan kepada dunia, inilah Indonesia yang memiliki banyak destinasi alam yang sangat indah. Dan masih banyak hal-hal lain yang di dalamnya untuk kita eksplorasi lebih dalam lagi kekayaan alam Indonesia dan tak lupa kita sebagai umat manusia untuk melestarikan alam di Indonesia ini. (*)