Penyeberangan Ujung-Kamal Bakal Ditutup

Surabaya, Obsessionnews – PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry bakal menutup operasional penyeberangan Ujung, Surabaya – Kamal, Madura. Pasalnya, pengusaha mengalami kerugian besar tiap tahun setelah beroperasinya Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu). “Beban operasional (Ujung-Kamal) cukup tinggi. Sisi lain, pengguna jasa semakin jauh. Apalagi, Jembatan Suramadu untuk kendaraan roda dua di gratiskan. Ini sangat menggerus di lintas ini,” tegas Direktur Usaha Penyeberangan PT ASDP Indonesia Ferry, La Mane di kantor ASDP Cabang Surabaya, Selasa (30/6/2015) sore. Ia menjelaskan pemerintah telah memberikan public service obligation (PSO) untuk keberlangsungan operasional penyeberangan Ujung-Kamal senilai Rp1 triliun. Namun, subsidi untuk operasional empat kapal hilir mudik menyeberang dengan kapasitas kursi yang tak pernah penuh tersebut tidak akan bertahan lama. “Ujung tetap disubsidi untuk operasional, tapi kemungkinan akan ditutup jika minat masyarakat cenderung ke Suramadu,” kata La Mane. Dikesempatan sama, Kepala PT ASDP Indoesia Ferry Cabang Surabaya, Elvi Yosa mengatakan, jika pemerintah tidak memperhatikan nasib operasional penyeberangan Ujung-Kamal, tidak menutup kemungkinan dan sejawatnya menghentikan operasional. “Saat ini yang beroperasi di Ujung-Kamal ada tiga perusahaan, yakni PT DLU, PT Jembatan Nusantara dan PT ASDP. Mereka menanggung kerugian cukup besar, terkadang kerugian itu ditutupi dari hasil pelintasan penyeberangan yang lain. Tapi sampai kapan hal itu terus dilakukan?" kata dia. Ketua Ketua Gapasdap Jatim, Khoiri Soetomo mengatakan, saat ini, ada enam kapal Ferry yang beroperasi di jalur penyeberangan itu. Empat kapal hilir mudik menyeberang dengan kapasitas kursi yang tak pernah penuh. Dua kapal dijadikan cadangan. Ia menjelaskan, pengurangan jadwal operasional dikarenakan jumlah penumpang yang dilayani sedikit, sementara biaya operasional yang dikeluarkan cukup besar. “Sebulan saja, kita mengalami kerugian sekitar Rp150 juta. Karena itu, kami melakukan efisiensi jam operasional,” kata Khoiri. Jika pemerintah tidak memperhatikan nasib operasional penyeberangan Ujung-Kamal, tidak menutup kemungkinan dan sejawatnya menghentikan operasional. “Saat ini yang beroperasi di Ujung-Kamal ada tiga perusahaan, yakni PT DLU, PT Jembatan Nusantara dan PT ASDP. Mereka menanggung kerugian cukup besar, terkadang kerugian itu ditutupi dari hasil pelintasan penyeberangan yang lain. Tapi sampai kapan hal itu terus dilakukan?" kata dia. Menurut Khoiri, keberadaan penyeberangan Ujung-Kamal sangat penting untuk dijadikan cadangan alternatif bagi masyarakat apabila ada gangguan di Jembatan Suramadu. “Kami berharap kepada pemerintah untuk memperhatikan nasib operasional penyeberangan Ujung-Kamal. Sebab, keberadaanya juga sangat penting bagi masyarakat sekitarnya,” tanas Khoiri. (GA Semeru)





























