Ahok Harus Hentikan Penggusuran PKL Monas

Jakarta, Obsessionnews - Monumen Nasional (Monas) Jakarta menjadi lahan mengais rejeki bagi kalangan lapisan bawah atau pedagang kaki lima (PKL) terutama di bulan Ramadhan. Namun, kini PKL dilarang berjualan di kawasan Monas sejak mereka digusur paksa oleh Satpol PP pada Sabtu (20/6/2015) lalu. Mantan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Laode Ida mengingatkan, mestinya Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memahami kesulitan ekonomi PKL di bulan Ramadhan ini. Menurutnya, sikap anarkis PKL di Monas yang melakukan perlawanan terhadap Satpol PP dan merusak beberapa fasilitas lainnya pada Sabtu lalu, harus dijadikan momentum untuk melakukan intropeksi atas kebijakan dan perilaku kasarnya piha Ahok selama ini. "Tindakan PKL itu tentu tak sekonyong-konyong, melainkan lebih merupakan produk dari rentetan reaksi atas kebijakan dan perilaku Ahok sebelumnya, yang sangat dirasakan ‘menyiksa’ bagi sebagian pencari nafkah di sektor informal itu. Apalagi sudah sangat sering Ahok mengata-ngatai mereka dengan sangat kasar. Ahok harus merasakan kesulitan ekonomi bagi rakyat kecil yang umumnya pribumi itu, dimana momentum bulan Ramadhan ini dianggap sbagai ekesempatan untuk mencari sesuap nasi," ungkap Laode kepada obsessionnews.com, Minggu (21/6/2015). Laode membandingkan kalau posisi Ahok sebagai Gubernur dengan gaji dan honor yang niscaya tak akan habis untuk sekian turunan, dimana jaraknya secara sosial ekonomi bagaikan bumi dan langit, sehingga seharusnya Ahok bersikap empati dan bijak dalam menyikapi upaya 'survivalitas' dari kaum pribumi akar rumput itu. Apalagi umumnya mereka adalah muslim yang menginginkan juga agar dapur mereka 'mengepul' di saat sahur dan berbuka, termasuk di saat Lebaran. "Kaum PKL itu niscaya punya anak-anak yang inginkan baju baru di saat menyambut hari kemenangan nanti, sehingga para PKL sungguh-sungguh bekerja keras untuk dapat uang halal bagi keluarga mereka. Tetapi ketika dengan sangat arogannya Ahok selalu menghalangi mereka dengan menggunakan Satpol PP untuk berhadapan dengan cara-cara kekerasan, maka sungguh-sungguh sangat memprihatinkan," ungkapnya. "Bukankah akan sangat elegan untuk memberikan kesempatan cari nafkah di setiap ruang yang bisa mendatangkan uang halal bagi mereka, ketimbang menghalangi yang bukan mustahil akan berdampak pada keresahan sosial yang lebih panjang? Ahok barangkali punya niat yg baik. Tapi itu harus juga memperhitungkan faktor kondisional. Sebab jika Ahok dianggap tak beri kesempatan pada PKL itu, bukan mustahil akan timbulkan sentimen etnik yang lebih berisiko lagi," paparnya. Laode menghimbau agar Ahok mendekati para PKL atau rakyat kecil dengan mata hati, bukan dengan emosi dan amarah yang meledak. "Gunakan pendekatan dan komunikasi dengan rasa, bukan dengan kekerasan. Sayangilah orang-orang kecil yang hanya mau sambung hidup, bukan menyingkirkan mereka untuk kemudian cari cara-cata lain yang bisa merusak,” tuturnya. “Ahok juga tidak boleh terus menerus menuduh tindakan PKL yang kasar dengan adanya hasutan. Karena mereka adalah orang-oramg dewasa yang bisa berkomunikasi satu sama lain untuk membangun kesadaran bersama yang antara lain diekspresikan kemarin malam di Monas itu," sarannya pula. (Asma)





























