Penguatan Rupiah Lewat Jalur Politik, Bahaya!

Penguatan Rupiah Lewat Jalur Politik, Bahaya!

Jakarta, Obsessionnews - Mantan Deputi Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah mengatakan, ekonomi Indonesia akan terkontraksi lebih dalam. Menurutnya, kalau pemerintah tidak mau kontraksi maka berarti spendingnya akan tetap namun devisit harus ditutup dari penerbitan obligasi lebih banyak.

"Kalau hal itu terjadi maka harus dijaga agar asing mau beli dan berarti suku bunga obligasinya harus lebih tinggi lagi dan ini indikator kedua yang harus kita ambil. Kalau itu terus dibiarkan maka kerentanan ekonomi kita makin tinggi," ungkap Halim usai buka puasa dan sholat tarwih bersama Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) di kediaman Akbar Tandjung, Sabtu malam (19/6/2015).

Menurut Halim, tidak ada jalan Indonesia memperbaiki lemahnya nilai tukar rupiah meski mengambil jalan tengah. Walaupun melalui jalur politik, malah akan menjadi rumit dan bahaya. "Tidak ada jalan lain bagi pemerintah meski mencari jalan tengah, saya tidak tahu langkah apa yang diambil tapi biasanya ada keputusan dari komisi XI DPR RI yang menentukan. Tapi kalau menurut hemat saya, secara politik ada tanda-tanda bahaya," cetusnya.

Ia pun memaparkan, kalau dalam memperbaiki nilai rupiah tidak memiliki banyak pilihan. Katanya kalau pemerintah akan berani menurunkan suku bunga sama saja bunuh diri begitu pun menaikkan suku bunga hasilnya sama bunuh diri juga.

"Kalau pemerintah naikkan suku bunga sama saja kita ambil pistol ditaruh di kepala kita. Artinya, ekonominya kita lebih cepat runtuh atau sama dengan bunuh diri. Tapi kalau naikkan suku bunga juga sama bunuh diri juga. Kondisi ekonominya sudah turun kok kita naikkan suku bunga, oleh karena itu tidak ada jalan," bebernya.

Dalam kondisi ini, lanjut Halim, pemerintah mesti sedapat mungkin meningkatkan intensitas mencari pajak atau mengurangi pengeluarannya, tetapi harus sedikit saja agar ekonomi tidak turun lagi. Dan perbankan diharapkan untuk memberi kredit lebih banyak tanpa harus menaikkan suku bunga, sebab katanya mengenai kenaikan suku bunga bisa saja dilakukan oleh BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Sebetulnya beberapa langkah yang diambil Bank Indonesia sebelum saya pensiun sudah mengarah ke situ. Pengetatan pembelian rumah diturunkan supaya bank bisa lebih longgar, begitupun pembelian sepeda motor silakan. Dalam kondisi seperti ini silahkan, saya kira opsi mendorong konsumsi melalui kredit yang lebih banyak mungkin bisa dilakukan," tuturnya.

Selain itu, kata Halim, opsi untuk menyelamatkan nilai ekonomi dengan membuat tax amnesty (pengampunan pajak) meski konsepnya sudah dibahas tapi secara konsep belum matang. "Memang kelihatannya sudah dibahas dipemerintahan namun konsepnya belum matang. Mudah-mudahan yang terburuk di negara kita tidak terjadi," harapnya. (Asma)