Tolak Gedung Mewah, DPD Kebakaran Jenggot

Tolak Gedung Mewah, DPD Kebakaran Jenggot
Jakarta, Obsessionnews - Mantan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Laode Ida sebelumnya telah melontarkan kritik ketidaksetujuannya terhadap rencana DPD saat ini mau membangun gedung di setiap provinsi/ibu kota dengan nilai per gedung Rp20 miliar. Setelah melontarkan kritikannya itu, beberapa anggota DPD RI angkat bicara di berbagai media, termasuk Wakil Ketua DPD RI Farouk Muhammad. "Ketua DPD RI saya pikir kebakaran jenggot terhadap kritikan saya, jangan-jangan Farouk Muhammad barangkali dijadikan corong untuk membela pihak yang getol dengan proyek itu," ungkap Laode kepada Obsessionnews, Senin (15/6/2015). Laode menilai, ungkapan Farouk sepertinya sudah beruba pilihan yang dulunya menolak pembangunan gedung DPD sekarang mendorong itu. Hal ini Faroukh mengungkapkan diberbagai media dengan menyatakan gedung itu merupakan aspirasi menjembatani kepentigan rakyat di daerah yang sudah dituangkan dalam perundangan. "Wow, rupanya Pak Farouk sudah berubah 180 derajat. Padahal dulu, di jajaran anggota, dialah yang paling getol dan vokal tolak proyek itu. Pernyataan penolakannya itu bisa dicek di berbagai media, saat jadi pimpinan DPD tak setuju dengan pembangunan gedung mewah itu yang dimuat 2010 lalu," bebernya Laode. Laode mengakui sikap penolakannya menimbulkan reaksi negatif terhadap dirinya. "Tak sedikit anggota DPD yang marah dengan sikap saya, baik kemudian disampaikan ke pers maupun dalam rapat-rapat di internal DPD. Karena saya dianggap sebagai pimpinan yang harus setuju saja dengan syahwat proyek mereka itu," pungkasnya. "Saya tahu persis lanjutnya Irman Gusman sangat berkeinginan dengan proyek itu. Maka saya pun tak pernah nimbrung bahas rencana pembangunan itu. Karena secara prinsip saya merasa belum perlu dengan kewenangan DPD seperti sekarang. Harus disimulasikan dulu sehingga tak mubazir," kritiknya. Menurut Laode salah satu tafsir atas klausul UU MD3 DPD harus memiliki kantor, tapi bukan berarti harus bangun gedung mewah. Tak hanya Laode yang menolak pembangunan DPD dengan anggaran besar itu, Mantan Ketua DPD Ginanjar Kartasasmita pun tak setuju dengan rencana itu. Namun dikomentari secara sinis oleh Irman Gusman. Laode sangat terkejut Faroukh sudah berubah sekali dengan ngotot berproyek ria bangun gedung mewah itu. Apalagi lagi dengan menyatakan "itu untuk kepentingan daerah". "Aneh bin ajaib, mungkin sudah terjebak sifat fragmatis. Padahal Beni Ramdhani, anggota DPD dapil Sulut, menelpon saya secara khusus (14/6/2015) dan nyatakan ketak stujuannya terhadap proyek itu. Rupanya tak sedikit anggota yang tak sadar akan proyek itu, dan hanya ikut irama pimpinan DPD," tuturnya. Sedangkan Muksid, Warga Madura melalui handpond selulernya menyatakan tidak butuh gedung mewah di daerah apalagi gedung DPD. "Aspirasi saya ke DPD, infrastruktur jalan dan kekeringan sering sesuatu yang akrab dengan warga pelosok desa di Madura. Sehingga kami tak butuh gedung, tapi butuh perbaikan jalan desa secepatnya dan kekeringan teratasi secepatnya. Uang rakyat jangan dialihkan untuk gedung. Sarana aspirasi bisa lewat FB, twitter, BBM atau sms, bukan gedung," tegasnya. (Asma)