Perkonomian Keropos Masih Sesuai Fundamental

Perkonomian Keropos Masih Sesuai Fundamental
Jakarta, Obsessionnews - Kemarin pagi, pada awal pembukaan perdagangan, rupiah berada di posisi Rp 13.382 per dollar AS. Sementara pada penutupan kemarin sore, duit Paman Sam bertengger di angka Rp 13.300 per dollar. Nilai dollar AS yang sempat menembus Rp 13.400 pada perdagangan Senin (8/6) kemarin, masih dinilai sesuai dengan kondisi ekonomi yang terjadi saat ini. Baik itu global, maupun lokal. Ketika dijumpai wartawan di kompleks DPR/ MPR RI kemarin, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo bilang masih banyak duit negara berkembang lain yang nilai tukarnya lebih anjlok ketimbang rupiah. "Itu masih terjaga sekali. Saya melihat negara di kawasan yang depresiasi lebih dari 1%. Bahwa kita masih di sekitar Rp 13.300 itu masih sesuai," kata Agus Marto. Menurut Agus, ada beberapa hal utama mengapa rupiah terus melorot sampai menyentuh level terendah dalam 17 tahun terakhir. Dia bilang, faktor eksternal lebih punya andil khususnya terkait rencana bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve mendongkrak naik suku bunganya. Sementara itu, negosiasi di Yunani terkait hutang negara yang sudah bangkrut itu belum juga menjumpai titik temu. Akibatnya, pasar khususnya sebagian besar negara di dunia mengalami tekanan. Di dalam negeri sendiri, penyebab dari pelemahan rupiah datang dari inflasi yang menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei tahun ini sebesar 0,50%. Agus bilang, ini merupakan yang paling tinggi dalam enam tahun terakhir. Dan, di Indonesia, posisi inflasi yang relatif tinggi juga menjadi perhatian BI. Sekedar mengingatkan, pelemahan rupiah yang sebenarnya sudah kena lampu kuning menghadapi dollar AS, hampir setara dengan periode krisis moneter (krismon) tahun 1998 lalu. Namun, Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah menilai, secara umum fundamental negeri ini masih cukup baik. Jadi, biar pun duit merah putih melemah cukup tajam bukan berarti sama seperti ketika krismon melanda hingga memaksa Presiden Soeharto turun dari kursinya. "Ini kan tertinggi, tapi berbeda fundamentalnya," kata Halim saat dicegat wartawan di Istana Bogor, Jumat (5/6) kemarin. Memang, pertumbuhan ekonomi saat ini jelas-jelas sedang melambat. Laporan kuartal I 2015 menyebutkan, angkanya cuma 4,7%. Padahal, pemerintah sebelumnya mematok angka 5,7%. Hingga akhir tahun ini, BI memperkirakan paling top cuma sampai tangga 5,1%. Melihat kian terpuruknya nilai tukar rupiah menghadapi dollar AS ditambah perlambatan pertumbuhan ekonomi yang cuma 4,7%, banyak kalangan memberi peringatan agar segera mengambil tindakan tepat. Sinyalnya, ya lampu kuning tadi. BI rupanya masih mencoba menenangkan rakyat dengan mengatakan kalau pasar keuangan yang ada sekarang, jauh lebih baik dan gejolak bisa diredam lebih cepat ketimbang di masa lalu. "Buktinya, di 2008 Indonesia bisa terhindar dari krisis. Jadi, walaupun menurun pertumbuhan tapi relatif sektor keuangan cukup kuat," kata Halim Alamsyah. Dan, BI selalu berjanji memantau pergerakan rupiah setiap waktu. Kalau ada yang di luar kebiasaan, maka segera dilakukan intervensi pasar. Halim juga menyebutkan, posisi dollar AS paling tinggi terjadi pada 17 Juni 1998 lalu. Saat itu, angkanya sampai Rp 16.650 per dollar. Sesudah itu, pada 25 November 2008 ada pada Rp 12.650 per dollar AS. Waktu itu, krisis global menerpa seiring jatuhnya Lehmann Brothers. Posisi tertinggi ketiga, terjadi pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid. Pada 26 April 2001, nilai tukar rupiah ada pada Rp 12 ribu per dollar AS. Ini Fundamentalnya Bagi ahli atau praktisi ekonomi, kalimat "masih sesuai dengan fundamental," yang sering dilontarkan BI mungkin dapat dicerna dengan mudah. Tapi buat rakyat kebanyakan, agak bingung juga memahaminya. Sederhananya begini. Ketika aktifitas perdagangan Republik Indonesia dengan beberapa negara mitra dagang utama mengalami perlambatan, maka duit untuk memenuhi kebutuhan rakyat di dalam negeri juga menipis. Akibatnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS anjlok. Karena memang, mata uang yang dipakai untuk transaksi internasional ya duit Paman Sam itu. Asal tahu, cadangan devisa yang ada di kas BI hingga akhir Mei 2015 tersisa USD 110,8 milyar. Pada April tahun yang sama, USD 110,9 milyar. Menyusutnya cadangan devisa, lantaran pembayaran hutang luar negeri pemerintah serta penggunaannya dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai fundamental. Dan bulan Juni ini, adalah giliran membayar hutang tersebut. Berbagai upaya dilakukan untuk menyelamatkan rupiah dari mulai melarang penggunaan mata uang asing untuk transaksi domestik, hingga meningkatkan kinerja ekspor. Tapi tetap saja usaha tersebut belum menampakkan hasil signifikan. Terkait larangan penggunaan mata uang asing pada transaksi domestik, aturan sebenarnya sudah dikeluarkan sejak tahun 2011 lalu. Kalau masih dilakukan, ancamannya pun lumayan serius yaitu, satu tahun penjara plus denda Rp 200 juta. Permintaan dollar AS di dalam negeri nyatanya tetap tinggi. Menurut Pelaksana tugas Direktur Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Eko Yulianto, jumlahnya mencapai USD 6 milyar perbulan. Makanya, Per 1 Juli 2015 nanti, larangan juga mencakup transaksi non tunai. Kecuali pada perdagangan internasional dan investasi di proyek infrastruktur strategis. Data yang disuguhkan BPS terkait kinerja ekspor Indonesia sepanjang kuartal I 2015 menciut 11,67% menjadi USD 39,12 milyar. Padahal, kalau dibanding periode yang sama tahun 2014, besarannya mencapai USD 44,29 milyar. Tapi syukurlah impor turun lebih tajam menjadi USD 36,70 milyar ketimbang kuartal I 2014 yang mencapai USD 43,23 milyar. Maka, perlu juga mendorong pertumbuhan ekonomi dari sisi peningkatan konsumsi. Tapi yang paling penting, pendapatan masyarakat kudu meningkat lebih dulu. Tapi sebelumnya, laba harus naik dan menjaga nilai tukar rupiah tidak terus mengamuk seperti sekarang ini. Inflasi juga kudu dijaga. Sebab kalau tidak, masyarakat yang dalam hal ini berada di posisi sebagai konsumen masih tetap enggan membeli. Untung saja, dalam laporan tahunan berupa penilaian ekonomi yang dikeluarkan Kamis pekan lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) menyarankan agar The Federal Reserve menunda kenaikan suku bunga sampai kuartal pertama 2016. Sebab, kudu dipastikan dulu tanda-tanda kenaikan gaji dan inflasi. Jadi, inilah yang sering disebut-sebut masih sesuai fundamental perekonomian Indonesia. (Mahbub Junaidi)