Mantan Pimpinan DPD RI Tak Malu Buka Warung

Mantan Pimpinan DPD RI Tak Malu Buka Warung
Jakarta, Obsessionnews - Hidup dengan gaya sederhana, itulah sosok Mantan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Laode Ida. Berbagai profesi ditekuninya, dari penjual kacang di pinggiran jalan, sopir angkutan umum, aktivis, politisi, dosen hingga pejabat negara di Senayan. Setelah sepuluh tahun menjabat di Senayan (2004-2014), saat ini Laode lebih memilih berbisnis dengan membuka lapak Resto dan Coffee Shop di lantai G Gaja Mada Plazza sejak 7 Mei 2015 lalu. Laode tidak mempersoalkan statusnya yang pernah jadi pejabat. Menurutnya, mencari rejeki itu yang terpenting halal dan tidak merugikan orang banyak. Laode mengaku ingin memanfaatkan tren yang berkembang di kalangan masyarakat. Secara peluang pasar, Laode menilai banyak para politisi dan pembisnis menghabiskan waktu untuk berdiskusi atau sekedar bercerita biasa di Coffee Shop. Bahkan keputusas-keputusan yang dibuat berawal dari pertemuan nongkrong dari sebuah restoran. Laode Ida bukan resto2 Selain itu, Laode terinspirasi dengan kebiasaan Soekarno semasa kuliah menghabiskan waktu untuk berdiskusi mengenai kebangsaan dan kenegaraan bersama teman-temannya di sebuah restoran di Bandung. “Coffee Shop sudah menjadi tren baru di Indonesia bahkan di Barat lagi meningkat, dan saya pikir ini bagus juga untuk dijajaki. Tanpa dipungkiri saya juga sering nogkrong dibeberapa tempat di Jakarta hanya untuk menikmati kopi. Hanya secangkir kopi kecil dapat mengeluarkan uang saku 50-100 ribu. Dan saya pikir ini brand yang tidak bisa terhindarkan, yang dimana kita bagian di dalam memanfaatkan restoran dan coffee shop seperti itu,” ungkapnya pada obsessionnews.com, Jumat (5/6/2015), di Resto barunya. Jakarta Pusat. Laode Ida bukan resto3 Setelah melakukan observasi dibeberapa tempat di Jakarta, akhirnya Laode memutuskan Gajah Mada Plaza sebagai tempat membuka Resto. Menurutnya Mall Gaja Mada Plaza merupakan mall tua di Jakarta yang didirikan tahun 80-an yang tidak sepi pengunjungnya. “Meski tidak terlalu banyak pengujung seperti Mall Ambusador dan yang lainnya. Disini saya hanya cukup melakukan renovasi sedikit, karena ditempat lain itu harganya mahal. Ya jujur saja banyak beberapa teman membantu, termasuk Pak Bambang Susatyo cukup membantu signifikan. Meski sampai sekarang belum juga lunas namun pasti saya lunasi, karena dalam hidup saya Alhamdulillah tidak pernah berutang, saya stres juga itu tapi tetap ada jalan,” pungkasnya. Laode Ida bukan resto4 Tanpa malu-malu Laode menceritakan pengalamanya saat melalui masa-masa kecil yang penuh perjuangan. Dengan moto sebagai Manusia biasa tidak perlu takut mencoba, dengan tetap berdoa dan mengikuti anjuran sang pencipta (Allah SWT). “Kalau orang sudah takut mencoba jangan harap jadi orang,” katanya. “Saya saja dulu saat kecil jual kacang di pingir jalan di Tugu Kota Raha, dan itu adalah fakta sejarah. Saya juga dagang kopi dari Raha ke Kendari naik kapal kayu saat itu tahun 80 an- 90-an. Dulu juga saya pernah buka restoran palumara namun tidak fokus kelolanya sekitaran tahun 2000-an di Jl. Pramuka, itu belum di DPD tapi saat itu masih jadi dosen. Waktu saya dosen di Kendari di Fisip dan FKIP Universitas Halu Oleo saya beli mobil mikrolet lalu saya bawa sendiri, Saya bisa bawa kendaraan umum mencari uang halal, karena saat itu juga supirnya setorannya tidak masuk,” kenangnya. Laode Ida bukan resto5 Laode memang dikenal pejabat yang hidup dengan gaya kesedarhanaannya. Tidak mau memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri dan keluarga. Menurutnya melindungi keluarga dari hal-hal pendapatan yang tidak halal itu sudah menjadi tanggungjawabnya. “Sesungguhnya tidak ada yang istimewah dalam hidup, saya jadi pejabat biasa-biasa saja. Yang terpenting menjaga diri dan keluarga untuk memperoleh pendapatan yang halal, itu yang terpenting. Perjuangan itu memang tidak mudah dan memang harus bersabar. Saya takut memanfaatkan jabatan, dan saya selalu hindari saya takut khilaf sehingga dara daging anak-anak bisa tercelah, itu yang paling penting,” tegasnya. Keputusan membuka resto membuat berbagai kalangan kaget atau terdesak melihat Laode yang berlatar belakang pejabat negara membuka resto. Mungkin selama ini banyak politisi dan pejabat memulai alur karirnya dengan berbisnis kemudian menjadi pejabat. Namun Laode salah satu pejabat yang terpilih dari kalangan aktivis, yang sebelumnya tidak memiliki usaha besar seperti para pejabat saat ini. Laode Ida bukan resto6 Mungkin saja satu dari 10 orang akan malu dan tidak mau memilih untuk berbisnis kecil-kecilan. Namun Laode menilai tidak ada yang terhina ketika mengambil keputusan untuk berbisni. “Sekarang ketika tidak ada kegiatan lagi, tentu saya harus jalan sendiri salah satunya itu seperti ini. yang kedua jangan melihat bisnis itu salah satu yang terhina apalagi ini rill non profit, rill menyediakan jasa untuk orang lain dengan pelayanan yang terbaik,” tuturnya. Menurut Laode, orang kerja bertujuan untuk mendapatkan uang dengan halal. “Tapi yang terpenting kita tidak hanya mengkritik orang tapi juga kita berbuat dalam materi seperti ini, tergantung orang lain melihatnya. Tapi bagi saya melihat ini sesuatu yang baik-baik saja. Nah kalau ada orang mengatakan wah pemimpin kami, tokoh kami, buka restoran, itu saya kira wajar-wajar aja, dan saya pikir itu jangan dianggap suatu yang tidak baik, mereka barangkali hanya kaget,” pungkasnya. “Dulu saya politikus, dulu saya aktivis, saya dosen, dia hanya bisa menjadi seperti itu. Dunia yang saya tekuni sampai saya jadi dosen saya katakan, saya mengajar suatu yang bermanfaat bagi orang banyak. Saya jadi pejabat saya menampilkan diri untuk mengurus orang lain. Jadi ketika saya jadi pemimpin, aktivis dan pejabat tidak bisa berbisnin oh jangan dianggap seperti itu. Bahwa dalam naluri saya ada naluri pembisnis tapi beda dengan pembisnis lain. Konsep bisnis ini proses bagi hasil, ini semuanya di kontrol, proses keuangannya juga di kontrol pemasukannya sekian keuntungannya sekian dan ini kira-kira gajinya sekian, itu sudah dipraktekan di Santa, ini juga hobi lho,” belanya. (Asma)