Lapangan Kerja Sempit, Eks Pejabat Buka Resto

Jakarta, Obsessionnews - Dengan kondisi kesulitan ekonomi sekarang ini, banyak industri tutup dan pada gilirannya PHK pun menimpa karyawan perusahaan. Padahal, lapangan kerja semakin sempit. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan usaha di sektor informal untuk menampung para pengangguran. Mantan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPD) RI Laode Ida kini memilih berbisnis dengan membuka resto dan coffee shop di beberapa tempat di Jakarta. Menurut mantan aktivis ini, dirinya memiliki hobi bisnis meski model bisnisnya berbeda dengan yang lain. Ia ingin berbuat untuk bermanfaat bagi orang banyak. Sepuluh tahun menduduki jabatan wakil rakyat di Senayan (2004-2014), dengan berlatar belakang aktivis, tidak membuat kepribadian Laode malu untuk berbisnis. Meski keputusan yang diambil ini banyak mengagetkan orang. Mungkin saja kontruksi yang terbangun dikalangan masyarakat, biasanya mereka jadi pejabat, sebelumnya mereka sudah menjalani bisnis. Memang tren itu sudah berakar di pikiran masyarakat Indonesia. Namun Laode mengatakan menjadi seorang wakil rakyat di Senayan tidak ada yang istimewanya, begitu pun dalam hidup. “Meski jadi aktivis tidak mesti harus terus-terus berteriak, atau jadi dosen tidak mesti tidak bisa berbisni, sebab hidup ini bisa diatas bisa ke bawah, ada siang ada malam dan itu sudah hukum alam,” ungkapnya kepada obsessionnews.com, Jumat (5/6/2012), di Gajah Mada Plaza, Jakarta Pusat. Menurut Laode, setiap orang harus siap dalam menerima perubahan siklus hidup, sebab kalau tidak maka akan stres. Ia mengatakan tidak perlu dalam hidup membuat pelabelan atau cap untuk dijadikan acuan bahwa hal itu yang terbaik. “Kalau menurut saya itu tergantung pada konsep hidupnya. Jadi kalau mau sadari, hukum alam itu akan berlaku tidak perlu membuat cap atau pelabelan tertentu untuk dijadikan acuan bahwa hal itu yang terbaik. Tidak, dia mesti lebih rileks, lebih berani menerima keadaan bahwa hidup ini sesungguhnya bersifat alamiah, normal dan yang mengatur skenarionya di tangan Allah sebetulnya dan kita hanya menjalaninya,” terangnya. Dosen Univesritas Negeri Jakarta (UNJ) ini juga menilai seseorang yang membuat pemetaan kelas atau pengelompokan bagian daripada jebakan dari pemikiran mapan, yang tidak sehat dan kaku. “Sebagai manusia mestinya normal dalam menyikapi perputaran roda kehidupan. Jadi saya berharap tidak seperti itu, dan nanti InsyaAllah habis lebaran saya berharap akan buka di Kendari, kalau ada biaya kita akan buka,” tuturnya. Setelah tidak di Senayan lagi, Laode fokus memilih sebagai orang yang menjebatani, dalam hal membuka lapangan kerja pada sektor rill. “Saya pikir ini sektor nyata yang bisa kita lihat langsung perputarannya, meskipun pergerakannya tidak begitu mulus dari mereka yang berbisnis pada sektor yang memiliki ketergantungan dengan kekuasaan. Ini kan pertarungannya di pasar sesuai selera pasar, kalau sesuai dengan selera pasar akan lanjut kalau tidak sesuai akan stagnan,” katanya.
Menurutnya, bisnis resto bisa berkembang kalau di beberapa tempat membuka cabang dengan bisnis rill bersifat bisnis holding. Ia menilai beberapa resto internasional yang hanya menjual brand saja, jika dibandingkan kualitas, dalam negeri lebih berkualitas. Berikut wawancara Obsessionnews dengan Laode Ida terkait usaha bisnis barunya: Tanya: Konsep apa yang dibangun dalam Bisnis Restro berlabelkan Laode S ini?Jawab: Kita dalam mengembangkan bisnis yang berwatak nasionalisme, dengan mengembangkan pebisnis-pebisnis lokal dengan brand-brand lokal. Tidak brand yang selalu di bawah-bawah. Misalnya Mc Downald, dimana yang membawa prodak itu adalah seorang pengusaha Indonesia yang tiba-tiba setelah besar dioper diambil oleh perusahaan yang lebih besar lagi, jadi hancur dia. Dia kehilangan sektor bisnis itu, dia tidak memperoleh legalitas lagi sehingga dengan membuat bisnis yang lain dengan berbagai problem yang dihadapi sendiri. Itu sungguhnya bukti dari ketergantungan pada brand-brand dari luar yang sebetulannya jualannya brand, padahal produknya lokal semua itu yang keliru. Kita perlu seperti yag sederhana-sederhana yang dibuka dimana-mana itu, jadi produk Indonesia rasa lokal tetapi diproses di Indonesia dan brand Indonesia, itu juga menjadi bagian angan-angan saya sebetulanya. Lapak seperti ini, tempat seperti ini, bisnis seperti ini bisa berkembang dimana-mana dibeberapa daerah di Indonesia dan produk lokal. Kita memberdayakan atau mejadikan orang lokal sendiri sebagai bagian dari pemiliknya. Kita hanya bisa mengaturnya pada tingkat holdingnya dari perusahaan yang mengelolah unit-unitnya sendiri. Dunia bisnis tentu persaingannya ketat, selain dari brand bagaimana cara menyiasati konsumen untuk tetap tertarik berkunjung? Kalau disini chefnya itu internasional breand, itu lokal sebenarnya namun sudah menjadi chef internasional dan sudah teruji begitu juga coffee shop-nya. Jadi di Gajah Mada ini ada dua, satu resto, dan koffee shop itu macam-macam produknya disini. Nah produk macam-macam itu dicoba ditawarkan di pasar, dan Alhamdulillah belum sebulan sebagai yang baru meskipun belum mencapai tingkat keuntungan yang diharapkan tapi sudah bisa memenuhi kebutuhan dalam dirinya sendiri. Kalau soal rasa lanjutnya, saya belajar dari catatan-catatan dari pengalaman yang lain. Kami coba terapkan disini rasa. Kita tetap pertahankan kualitas harus tetap terjamin sehingga orang yang datang disini tidak kecewa, dan justru mungkin tertarik untuk datang kembali. Hampir 100 negara saya kelilingi dan makan dimana-mana saya tahu rasa. Maka sebelum jualan pun kami tes rasa. Ada yang kurang baik rasanya saya bilang stop, jadi saya secara pribadi saya kontrol. Kalau selera yang alami saja sebenarnya, tapi saya punya kemampuan untuk mengukur rasa suatu produk. Terus terang saya bersyukur salah satu orang Amerika yang namanya Scot pembisnis Amerika yang membuka bisnis di Indonesia dan mengatakan wah saya suka rasa seperti ini. Itu kan suatu kebanggaan, andainya itu disampaikan pada masyarakat luar itu bagian promosi yang tidak bisa terhitung nilainya. Ini orang Amerika yang megatakan seperti itu, dan bersyukur sekali. Seperti apa peluang yang ditawarkan pada konsumen? Ini terus terang sasarannya pada lapis menengah, bawah, dan bagian atas. Tapi saya kira kalau boleh jujur ini rasanya, rasa papan atas. Tapi kalau harganya, sebenarnya harga standar untuk menegah bawah dan atas untuk di kota Jakarta. Ada harga 18 ribu dan untuk coffee shop-nya aja paling tinggi 35 ribu. Saya kira kita lihat, dimana-mana itu satu kali pesan ukurannya satu cangkir kecil harganya 50 ribu. Jadi disini sebenarnya jangkauan menengah bagian bawah. Misalnya standar Salmon Steak 150 ribu itu lebih murah dibanding tempat lain dijual hampir jutaan,” ungkapnya. Selain buka di Gajah Mada Plaza ada lagi tempat lain? Saya punya di Santa itu coffee shop, tapi sekarang lagi down karena lagi ada perbaikan jalan. Disana saya beli dua blok, dan menurut saya aman-aman aja tidak terbebani, sebab itu milik pribadi dengan jangka waktu pemakaian 20 tahun,” pungkasnya. Segmen pasar atau sasaran konsumennya siapa saja? Ya para politisi, dan teman-teman lain, tapi sekarang bukan teman lagi. Tapi ini kebanyakan juga orang Cina. Itu lama-lama mereka sering datang. Meski saya akui berbisnis itu faktor promosi yang menentukan juga. Kalau pemilik modal uang 1-2 miliar itu mungkin tidak ada gunanya buat mereka, tapi kalau buat saya, itu bisa saya kembangkan buka lapak seperti ini di Jakarta. Tergantung soal rejeki, promosinya, kualitasnya, bagaimana bisa dipelihara pendaptnya bisa halal. yang terpenting bagi saya ini bisnis halal. Sekarang kita masih berusaha meningkatkan omset sehingga pembayaran lapaknya bisa diambil dari pemasukannya sendiri. Jadi sistemnya itu kita siapkan juga untuk diantar, bisa diskon 20% seluruh aitem bisa seperti itu, makanya kita buka disini, namun kita bisa sediakna pesanan,” serunya. (Asma)
Menurutnya, bisnis resto bisa berkembang kalau di beberapa tempat membuka cabang dengan bisnis rill bersifat bisnis holding. Ia menilai beberapa resto internasional yang hanya menjual brand saja, jika dibandingkan kualitas, dalam negeri lebih berkualitas. Berikut wawancara Obsessionnews dengan Laode Ida terkait usaha bisnis barunya: Tanya: Konsep apa yang dibangun dalam Bisnis Restro berlabelkan Laode S ini?Jawab: Kita dalam mengembangkan bisnis yang berwatak nasionalisme, dengan mengembangkan pebisnis-pebisnis lokal dengan brand-brand lokal. Tidak brand yang selalu di bawah-bawah. Misalnya Mc Downald, dimana yang membawa prodak itu adalah seorang pengusaha Indonesia yang tiba-tiba setelah besar dioper diambil oleh perusahaan yang lebih besar lagi, jadi hancur dia. Dia kehilangan sektor bisnis itu, dia tidak memperoleh legalitas lagi sehingga dengan membuat bisnis yang lain dengan berbagai problem yang dihadapi sendiri. Itu sungguhnya bukti dari ketergantungan pada brand-brand dari luar yang sebetulannya jualannya brand, padahal produknya lokal semua itu yang keliru. Kita perlu seperti yag sederhana-sederhana yang dibuka dimana-mana itu, jadi produk Indonesia rasa lokal tetapi diproses di Indonesia dan brand Indonesia, itu juga menjadi bagian angan-angan saya sebetulanya. Lapak seperti ini, tempat seperti ini, bisnis seperti ini bisa berkembang dimana-mana dibeberapa daerah di Indonesia dan produk lokal. Kita memberdayakan atau mejadikan orang lokal sendiri sebagai bagian dari pemiliknya. Kita hanya bisa mengaturnya pada tingkat holdingnya dari perusahaan yang mengelolah unit-unitnya sendiri. Dunia bisnis tentu persaingannya ketat, selain dari brand bagaimana cara menyiasati konsumen untuk tetap tertarik berkunjung? Kalau disini chefnya itu internasional breand, itu lokal sebenarnya namun sudah menjadi chef internasional dan sudah teruji begitu juga coffee shop-nya. Jadi di Gajah Mada ini ada dua, satu resto, dan koffee shop itu macam-macam produknya disini. Nah produk macam-macam itu dicoba ditawarkan di pasar, dan Alhamdulillah belum sebulan sebagai yang baru meskipun belum mencapai tingkat keuntungan yang diharapkan tapi sudah bisa memenuhi kebutuhan dalam dirinya sendiri. Kalau soal rasa lanjutnya, saya belajar dari catatan-catatan dari pengalaman yang lain. Kami coba terapkan disini rasa. Kita tetap pertahankan kualitas harus tetap terjamin sehingga orang yang datang disini tidak kecewa, dan justru mungkin tertarik untuk datang kembali. Hampir 100 negara saya kelilingi dan makan dimana-mana saya tahu rasa. Maka sebelum jualan pun kami tes rasa. Ada yang kurang baik rasanya saya bilang stop, jadi saya secara pribadi saya kontrol. Kalau selera yang alami saja sebenarnya, tapi saya punya kemampuan untuk mengukur rasa suatu produk. Terus terang saya bersyukur salah satu orang Amerika yang namanya Scot pembisnis Amerika yang membuka bisnis di Indonesia dan mengatakan wah saya suka rasa seperti ini. Itu kan suatu kebanggaan, andainya itu disampaikan pada masyarakat luar itu bagian promosi yang tidak bisa terhitung nilainya. Ini orang Amerika yang megatakan seperti itu, dan bersyukur sekali. Seperti apa peluang yang ditawarkan pada konsumen? Ini terus terang sasarannya pada lapis menengah, bawah, dan bagian atas. Tapi saya kira kalau boleh jujur ini rasanya, rasa papan atas. Tapi kalau harganya, sebenarnya harga standar untuk menegah bawah dan atas untuk di kota Jakarta. Ada harga 18 ribu dan untuk coffee shop-nya aja paling tinggi 35 ribu. Saya kira kita lihat, dimana-mana itu satu kali pesan ukurannya satu cangkir kecil harganya 50 ribu. Jadi disini sebenarnya jangkauan menengah bagian bawah. Misalnya standar Salmon Steak 150 ribu itu lebih murah dibanding tempat lain dijual hampir jutaan,” ungkapnya. Selain buka di Gajah Mada Plaza ada lagi tempat lain? Saya punya di Santa itu coffee shop, tapi sekarang lagi down karena lagi ada perbaikan jalan. Disana saya beli dua blok, dan menurut saya aman-aman aja tidak terbebani, sebab itu milik pribadi dengan jangka waktu pemakaian 20 tahun,” pungkasnya. Segmen pasar atau sasaran konsumennya siapa saja? Ya para politisi, dan teman-teman lain, tapi sekarang bukan teman lagi. Tapi ini kebanyakan juga orang Cina. Itu lama-lama mereka sering datang. Meski saya akui berbisnis itu faktor promosi yang menentukan juga. Kalau pemilik modal uang 1-2 miliar itu mungkin tidak ada gunanya buat mereka, tapi kalau buat saya, itu bisa saya kembangkan buka lapak seperti ini di Jakarta. Tergantung soal rejeki, promosinya, kualitasnya, bagaimana bisa dipelihara pendaptnya bisa halal. yang terpenting bagi saya ini bisnis halal. Sekarang kita masih berusaha meningkatkan omset sehingga pembayaran lapaknya bisa diambil dari pemasukannya sendiri. Jadi sistemnya itu kita siapkan juga untuk diantar, bisa diskon 20% seluruh aitem bisa seperti itu, makanya kita buka disini, namun kita bisa sediakna pesanan,” serunya. (Asma) 




























