Harga Kebutuhan Pokok Naik, Jokowi Hadapi Perjudian Berbahaya!

Harga Kebutuhan Pokok Naik, Jokowi Hadapi Perjudian Berbahaya!
Jakarta, Obsessionnews - Politisi Partai Golkar Bambang Soesatyo mengingatkan, memasuki bulan ke delapan era pemerintahannya, Presiden Jokowi dan Kabinet Kerja menghadapi perjudian yang cukup berbahaya. “Naiknya harga kebutuhan pokok benar-benar menjadi ujian bagi daya tahan rakyat, karena kenaikan itu disebabkan politik ekonomi Jokowi menghapus subsidi bahan bakar minyak (BBM),” paparnya kepada Obsessionnews melalui BBM, Minggu sore (7/6/2015). Ia menambahkan, perjudian lain yang dihadapi Jokowi terkait engan kompetensi dan kapabilitas pemerintahannya. “Penghapusan subsidi BBM menyebabkan anjloknya daya beli rakyat. Konsekuensinya, konsumsi dalam negeri merosot. Kinerja sektor swasta pun melemah. Pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai terjadi dimana-mana,” tuturnya. Bambang menilai, kinerja pemerintah pun terbilang buruk. Hingga pekan pertama Juni 2015, penyerapan anggaran diperkirakan baru 18 persen. “Kalau penyerapan anggaran hingga akhir tahun jauh dari persentase ideal, Presiden Jokowi dan Kabinet Kerja akan dinilai tidak kompeten dan tidak kapabel,” bebernya. Ditambah dengan faktor melemahnya rupiah terhadap dolar AS, lanjut dia, buruknya kinerja swasta dan pemerintah itu dilihat sebagai benih krisis ekonomi. “Benih krisis itu mulai dirasakan langsung oleh hampir semua elemen rakyat;ibu rumah tangga, pengusaha kecil maupun para manajer serta para bos besar dari perusahaan-perusahaan terkemuka,” ungkapnya pula. Menurut Bambang, Presiden Jokowi pernah menegaskan bahwa setiap perubahan besar memang menyakitkan, bahkan seperti menelan pil pahit. “Jokowi ingin mengajak rakyat melalui masa-masa sulit karena perubahan besar yang dicanangkannya,” tandas Anggota Komisi III DPR RI ini. Namun, tegas Bambang, dengan harga kebutuhan pokok yanmg semakin mahal, beban rakyat jelas menjadi sangat berat. “Rakyat mungkin tidak mampu lagi untuk memenuhi ajakan Presiden melalui masa-masa sulit sekarang ini. Maka, patut bagi Presiden untuk waspada manakala daya tahan rakyat tak mampu lagi memberi toleransi,” terangnya. “Semua terus berharap keadaan bisa bertambah baik dari hari ke hari. Namun, hari-hari ini, keprihatinan dan kecemasan tak bisa lagi ditutup-tutupi. Sebab, politik ekonomi Presiden Jokowi justru menciptakan jebakan yang cenderung membahayakan eksistensi pemerintahannya,” tegas Sekretaris Fraksi Partai Golkar DPR RI. (Ars)