Aher dan Aa Gym Luncurkan EWS Lawan Inflasi Saat Ramadhan

Aher dan Aa Gym Luncurkan EWS Lawan Inflasi Saat Ramadhan
Bandung, Obsessionnews - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan  (Aher) mengajak warga Jabar untuk tidak konsumtif pada bulan Ramadhan ini. Menurutnya, umat Islam harus sedikit makan di bulan Ramadhan di banding bulan lainnya. Hal itu diungkapkan Aher saat Silaturahim Ulama Se-Jawa Barat terkait pengendalian inflasi dan peluncuran Early Warning Sistem (EWS) Portal Informasi harga pangan (Priangan) di Pusdai Bandung, Jumat (5/6/2015). Menurut Aher permintaan terhadap barang konsumsi meningkat setiap Ramadhan, barang komoditi otomatis berkurang, sehingga terjadi keterlambatan pasokan atau distribusi membuat sejumlah harga komoditi naik tajam, sehingga terjadilah inflasi atau melemahnya harga uang. “Kalau kebiasaan seperti itu dibiarkan dan setiap tahunnya pada bulan Ramadhan selalu saja terjadi inflasi jangan di salahkan bulan puasanya, tapi pemahaman kita terhadap makna shaum harus lebih ditingkatkan,” papar ustadz Aher. Shaum menurut Aher bukan berarti harus konsumtif dan mengada-adakan makanan yang banyak, tapi justru harus sebaliknya. “pengeluaran yang banyak itu untuk berinfak dan bersedekah, karena itulah yang akan menolong kita di akhirat kelak, tegasnya. Aher menilai hari besar keagamaan seringkali menjadi waktu dimana harga kebutuhan pokok naik dan mengakibatkan terjadinya inflasi. Menimbang peran ulama dalam masyarakat adalah sosok yang dipandang dan didengarkan dalam masyarakat, untuk itu Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama dengan Bank Indonesia mengajak ulama se-Jawa Barat untuk ikut berkontribusi menyampaikan pentingnya pengendalian inflasi melalui pengaturan pola konsumsi masyarakat dan penetapan margin yang wajar kepada para pedagang. aa gym inflasi Hal senada juga diucapkan KH. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym yang menjadi penceramah pada kesempatan tersebut, Aa mengajak untuk melakukan Gerakan Tong Nararaek (Gerakan Tidak Naik), terutama terhadap sembako dan kebutuhan Ramadhan Idul Fithri. “Para pengusaha dan pebisnis juga harus memberikan contoh yang baik, 10 hari terakhir pada bulan Ramdhan harus mengajak karyawannya beritikaf di mesjid dan menutup tempat usahanya, tidak malah sebaliknya menambah stok sebanyak-banyaknya karena permintaan pasar meningkat,” paparnya. Aa juga mengingatkan pentingnya mengantisipasi adanya inflasi di bulan Ramadhan, dengan menghentikan kebiasaan konsumtif. “Kalau biasanya ayam kebeli satu dua kilo, tapi akhirnya kebeli hanya cekernya saja dengan harga yang sama itu namanya inflasi,” tegas Aa. Berpuasa menurut Aa, dapat menyehatkan jiwa dan raga, sehingga kebiasaan berpuasa harus menjadi budaya dan kebiasaan yang baik. “Jadikanlah puasa itu sebagai kebiasaan sehingga tidak akan ada hal yang luar biasa pada bulan itu seperti pengeluaran lebih tinggi,” imbuhnya. ulama inflasi Menurut Sektretaris Forum Koordinasi Pengendalian Inflasi (FKPI) Jabar Rahmat Dwisaputra acara itu bertujuan memberikan pembekalan kepada para ulama mengenai inflasi dan dampaknya terhadap masyarakat, sehingga memiliki makna penting dalam upaya pengendalian inflasi di Jawa Barat. “Para ulama diharapkan memberikan penjelasan sekaligus ajakan kepada masyarakat menengah keatas melalui ceramah, tausiyah, kultum, dan media sosialisasi lainnya, agar mengendalikan konsumsinya, secara bersamaan dapat berbagi kebahagiaan dengan fakir miskin dan yatim piatu terutama saat Ramadhan dan Idul Fitri,” ujar Rahmat. Disisi lain menurut Rahmat para oknum pedagang harus menghentikan aksi ambil untung maupun spekulasi, sehingga baik pedagang maupun pembeli yang notabenene kaum muslimin yang sedang beribadah puasa dapat menambah kualitas ibadah sekaligus mendukung pengendalian inflasi. Acara itu dihadiri ratusan ulama se-Jawa Barat dari komponen Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pimpinan Pondok Pesantren, Penyuluh Agama, dan Perwakilan Kantor Kementerian Agama. Tampak hadir pula Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Muspida Provinsi Jawa Barat serta Tim Pengendalian Inflasi Daerah tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota. aher inflasi2 Sementara itu Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat Rosmaya Hadi yang juga Dewan Pengarah FKPI Jawa Barat menyampaikan kegiatan silaturahim ulama merupakan salah satu agenda tahunan FKPI. Penyelenggaraan silaturahim ulama pada tahun ini merupakan suatu hal yang luar biasa, karena didukung langsung oleh Gubernur Jawa Barat dengan jumlah ulama mencapai sekitar 1.000 orang. Dalam kesempatan tersebut diresmikan fitur Early Warning System (EWS) Portal Informasi Harga Pangan (PRIANGAN) oleh Gubernur Jawa Barat. EWS sebagai alat deteksi dini pengendalian inflasi terhadap lonjakan harga komoditas strategis. Sistem kerja EWS PRIANGAN adalah dengan memberikan alert kepada pihak terkait pada saat terjadi kondisi tertentu seperti perubahan harga yang signifikan. Adapun pihak yang menjadi sasaran EWS antara lain Dewan Pengarah FKPI yang terdiri dari Gubernur Provinsi Jawa Barat, Wakil Gubernur Provinsi Jawa Barat, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, dan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Unsur pimpinan FKPI Jawa Barat yaitu Ketua FKPI, Ketua Tim Teknis FKPI, beserta jajarannya serta Kepala SKPD terkait seperti Badan Ketahanan Pangan Daerah, Dinas Peternakan, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan, dan Instansi terkait lainnya. EWS diharapkan para pemangku kebijakan lebih dini mengetahui potensi tekanan inflasi dan mengambil langkah efektif. (Dudy Supriyadi)