Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diprediksi Cuma 4,9%

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diprediksi Cuma 4,9%
Jakarta, Obsessionnews - Lembaga ekonomi negara-negara maju, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memprediksi ekonomi Indonesia tahun ini hanya tumbuh 4,9%. Jauh dibawah target pertumbuhan ekonomi Presiden Jokowi di atas 7% per tahun. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia telah melemah pada kuartal ini, akibat tekanan inflasi yang menghadang potensi stimulus moneter. Tetapi aktivitas diproyeksikan untuk mengangkat perekonomian pada 2015 dan diharapkan menguat pada 2016, sehingga kepercayaan publik akan pulih, namun imbas dari depresiasi rupiah akan berlanjut,” ungkap organisasi ekonomi negara maju yang berbasis di Perancis itu seperti dikutip dari laman resminya, Kamis (4/6/2015). Baca juga:  BPS: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Turun 0.18% OECD menilai, setelah pemerintah Indonesia menghapus subsidi BBM, inflasi di negara kepulauan ini kini moderat, sebagian besar akibat penurunan harga minyak dunia. “Inflasi kemungkinan akan tetap tinggi, karena kelemahan rupiah saat ini mengimbangi harga energi yang lebih rendah, dan nilai tukar mata uang ini kemungkinan tetap rapuh akibat ketidakseimbangan eksternal yang terus berlanjut,” imbuhnya. Baca juga;BPS Prediksi Inflasi 2014 Cuma 8% Dalam laporan ‘Economy Outlook 2015′ yang diterbitkan kemarin, OECD memprediksi produk domestik bruto Indonesia diprediksi hanya tumbuh 4,9% pada 2015, dan akan melonjak menjadi 5,5% pada 2016. Pasar komoditas menjadi alasan utama pelambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Harga komoditas yang rendah membuat kinerja ekspor memburuk sekaligus menghambat aliran investasi ke Indonesia. OECD juga memperkirakan Bank Indonesia tahun ini tidak akan menurunkan BI Rate karena tekanan depresiasi rupiah terhadap laju inflasi. Terlebih karena tingkat inflasi inti telah melonjak melewati target inflasi 4% (+/-) 1% pada awal 2015. Pemerintah Indonesia, lanjut OECD, sudah memiliki peta jalan yang tepat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, namun implementasi blue print tersebut sangat lambat, sehingga Presiden Jokowi disarankan untuk memprioritaskan penyelesaian hambatan politik dan administrasi agar bisa merealisasikan rencana ekonominya. Ekonomi Indonesia diperkirakan baru kembali melaju pada 2016 jika pemerintah Indonesia bisa mengeksekusi rencana pembangunannya. Pada 2016, Bank Indonesia juga dinilai memiliki lebih banyak ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter seiring potensi disinflasi akibat pelambatan pertumbuhan ekonomi 2015. Sebelumnya, Bank Indonesia sendiri setelah rapat badan anggaran pekan lalu mengatakan, pihaknya memprediksi pertumbuhan ekonomi pada 2015 ini hanya mencapai 5,1%.