Greenpeace Tetap Ngotot Tolak PLTU Batang

Greenpeace Tetap Ngotot Tolak PLTU Batang
Siang itu terasa terik di taman Srigunting, Semarang. Seperti biasanya, puluhan muda-mudi datang untuk sekedar bercengkerama serta berselfie ria dengan latar Gereja Blenduk, khas Kota Lama. Namun ada yang aneh di hari ini. Sekumpulan orang tiba-tiba berdiri mematung tak bergerak. Lantas, tiga orang berbalut cat hitam disekujur tubuh,yang didadanya bertuliskan “Coal” datang menyentuh mereka. Dalam sekejap, kerumunan tersebut jatuh bergelimpangan. Ketiga monster batu bara tadi menari gembira diatas tumpukan manusia. Hingga akhirnya para petani datang mengusir mereka dan duniapun kembali aman serta lestari. [caption id="attachment_42179" align="alignnone" width="640"]Aksi teatrikal dilanjut dengan memajang spanduk peringatan bagi Presiden Jokowi agar memperhatikan kelestarian lingkungan. Salah satunya dengan mengedapankan energi terbarukan ketimbang bahan bakar fosil. (Yusuf IH) Aksi teatrikal dilanjut dengan memajang spanduk peringatan bagi Presiden Jokowi agar memperhatikan kelestarian lingkungan. Salah satunya dengan mengedapankan energi terbarukan ketimbang bahan bakar fosil. (Yusuf IH)[/caption] Semarang, Obsessionnews – Inilah sekilas potret adegan teatrikal yang disuguhkan Greenpeace dalam kampanye bahaya batu bara dan penolakan PLTU Batang, Sabtu (30/5/2015). Aksi yang digawangi berbagai elemen masyarakat itu bertujuan menyoroti perubahan iklim akibat penggunaan bahan bakar fosil. Mereka awalnya menggelar drama di kawasan Simpang Lima pada pagi hari. Kegiatan kemudian dilanjutkan ke taman Srigunting, Kota Lama, Semarang. Dalam aksi, para aktivis lingkungan menggambarkan betapa berbahayanya batu bara terhadap kehidupan umat manusia sehingga harus dilakukan perlawanan. “Aksi ini merupakan bagian dari Global Day of Action yang melibatkan 40 negara di seluruh dunia guna mengatasi perubahan iklim,” jelas Hindun Mulaika, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace. Greenpeace3 Menurutnya, sudah saatnya pemerintah bangkit membenahi bencana global dengan beralih ke pengembangan energi terbarukan dan memperkuat kebijakan moratorium hutan. Jika Indonesia tidak menjalankan, dikhawatirkan negara ini tidak mampu memenuhi komitmen penurunan emisi kepada dunia. Greenpeace4 Sementara itu fakta dilapangan pemerintah mendirikan program energi sebesar 35.000 MW, yang mana 60% berasal dari PLTU. PLTU Batang salah satunya. Pembangunan PLTU terbesar se-Asia Tenggara tersebut menyebabkan bermacam konflik di masyarakat Kabupaten Batang. Seperti diketahui, masyarakat setempat terbelah menjadi dua kubu dalam memandang PLTU. Banyak kalangan menyatakan pemakaian batu bara untuk sumber energi PLTU menjadi penyebab perubahan iklim bumi. Mulai dari rusaknya udara, sampai pencemaran air di wilayah sekitar. Tentu hal itu berdampak pada puluhan ribu nelayan lokal. Greenpeace5 Warga kontra PLTU Batang sudah berulang kali selama empat tahun, melakukan berbagai macam aksi hingga audiensi ke pemerintah. Meski begitu, pihak pemerintah tampaknya tetap kekeuh menjalankan proyek ini. Saat ini masih tersisa 24,5 hektar dari 226 hektar lahan yang dibutuhkan PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) selaku pelaksana proyek. PT BPI diketahui merupakan konsorsium dua perusahaan asing asal Jepang yakni J Power dan Itochu dengan satu perusahaan dalam negeri, PT Adaro Power. (Yusuf IH)