Wulan Tilaar Tak Ingin Jadi Bayang-Bayang

Wulan Tilaar Tak Ingin Jadi Bayang-Bayang
Jakarta - Bagi Wulan salah satu aset penting dari perusahaan adalah para terapisnya. Mereka menjadi aset yang harus dijaga dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya. Tidak mudah memang mengemban tugas dan tanggung jawab bisnis yang diwariskan dari orang tua. Sebagai penerus kerajaan bisnis Martha Tilaar Group, Wulan Tilaar adalah salah satu dari delapan saudaranya yang menjadi generasi kedua dan diminta terlibat me-manage perusahaan. IMG_6859 “Saya sendiri lebih difokuskan mengurus Martha Tilaar Salon Day Spa dan membantu kakak saya Pinkan Tilaar di Puspita Martha International Beauty School. Meskipun didaulat menjadi ikon perusahaan menggantikan sosok ibu, saya tidak mau menjadi bayang-bayangnya. Namun, bukan berarti dalam melakukan terobosan bisnis saya seenaknya saja. Benang merah yang sudah menjadi ciri khas perusahaan, yaitu sangat kuat akan budaya tradisional Indonesia tidak boleh terputus. Apapun yang saya kerjakan tidak boleh keluar dari unsur tersebut,” ujar Wulan yang menjabat sebagai Vice Chairwoman Martha Tilaar Group dengan nada tegas kepada Majalah Women’s Obsession. Tidak ada pertentangan yang muncul dalam keluarganya sejak dulu saat dia diminta menjadi pengganti sosok Martha Tilaar di masa mendatang. Kakak dan adik serta dua saudaranya sudah mempunyai tugas dan tanggung jawab masing-masing di perusahaan. “Mungkin karena saya putri yang penurut dan lebih feminin daripada kakak saya yang tomboy, jadilah terpilih. Ibu sendiri masih ikut mengurus kantor, tapi tidak sebesar dulu. Hampir sebagian besar kebijakan dan kepengurusan perusahaan sudah diserahkan kepada anak-anaknya.” Belajar Banyak Hal Sebelum terjun ke bisnis keluarga, Wulan sempat menimba ilmu dan meraih gelar sarjana graphic design dari College of Mount St. Joseph-Cincinnati, Amerika Serikat. Lalu, dia meneruskan studinya ke bidang Mass Communication-Advertising di Boston University. Setelah merampungkan pendidikannya, istri Kunto Widarto ini mulai bekerja di perusahaan orang tuanya secara profesional sejak tahun 2005, namun tidak langsung diberi kepercayaan penuh. IMG_6691 “Saya masuk ke Art Department sesuai bidang mata kuliah, karena masih kurang menantang saya kemudian diarahkan untuk mengurus Martha Tilaar Salon Day Spa dan Puspita Martha International Beauty School. Saya belajar banyak hal di sini, termasuk memijat dan facial,agar mengetahui seluk-beluk bisnis spa. Pelan-pelan saya pun asyik terlibat lebih dalam lagi dan tertarik membenahi bisnis ini,” katanya. Wulan berusaha untuk menyinergikan sekolah dan salon body spa dengan inti perusahaan Martha Tilaar. Dia pun bersemangat keliling dunia untuk mengembangkan bisnisnya. Termasuk dunia pendidikan kecantikan dengan mengadakan program Beautypreneurship yang meliputi Beauty Aesthethic & Spa CIDESCO Diploma, Beauty Aesthetic Puspita Martha Certificate maupun Spa Therapist Puspita Martha Certificate. Sementara untuk yang program siap kerja ditawarkan program Manicure & Padicure, Facial Treatment, Body Treatment, dan Basic Massage. Sedangkan tingkat advance terdiri atas Indonesia Traditional Treatment, Refreshing & Post Graduate Program Beauty Aesthetic CIDESCO Diploma ataupun Spa CIDESCO Diploma. Karyawan adalah Aset Bagi Wulan salah satu aset penting dari perusahaan adalah para karyawannya. Karena bisnis spa mengandalkan tenaga terapis, mereka pun menjadi aset yang harus dijaga dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya.Dia merasa beruntung bisa bekerjasama dengan Gap Inc. International yang memiliki program PACE, yaitu Personal Advancement Career Enhancement. “Ini merupakan life skill program, training untuk para staf pabrik mitra gap di seluruh dunia seperti India, Pakistan, Vietnam, dan Bangladesh. Untuk pertama kalinya mereka ingin membagikan ilmu di luar industri garmen dan mengajak kerjasama dengan perusahaan saya, agar para spa therapist bisa menjadi individu berkualitas secara pribadi maupun profesional,” papar perempuan kelahiran 13 Juli 1977 ini. IMG_6524 Hasil training tersebut akan membuat para pekerja menjadi semakin paham cara berkomunikasi dengan baik kepada sesama pekerja, klien maupun atasan, apalagi saat ada masalah terjadi. Bagaimana mengatasi problem solving, agar tetap bisa bekerja secara profesional, kiat stress management, dan mengatur waktu juga diajarkan. Karena berhubungan dengan human, masalah mood, permasalahan emosi, perasaan, sikap kooperatif harus diatur dan di-manage sebaik-baiknya. Selain itu, pelajaran paling favorit adalah urusan mengatur keuangan atau gaji secara efektif. Mengetahui apa yang mereka butuhkan dan tidak perlu dibeli. Wulan melanjutkan, “Biasanya kalau habis gajian, banyak debt collector menunggu. Gaji pun tidak bersisa, karena harus membayar cicilan peralatan rumah tangga, HP, motor, dan lain sebagainya. Setelah training, mereka ternyata berhasil bisa menabung, meskipun jumlahnya belum banyak. Modul sistem training dari PACE ini ternyata sangat berguna untuk mereka.” Perusahaannya telah memiliki 600 therapist yang tersebar di 50 spa dari Aceh sampai Papua dengan sistem franchise. Di Brunei ada cabang 3 spa dan sudah berdiri sejak 25 tahun lalu. Di Malaysia sempat buka cabang, namun ditutup karena ada perubahan kebijakan tenaga kerja yang harus memakai orang setempat. “Delapan outlet memang dimiliki sendiri oleh kami dan terbaik ada di Grand Indonesia. Sisanya dipunyai orang lain, kami mempersiapkan tenaga kerjanya dan brand yang dipakai Martha Tilaar Salon Day Spa. Fokus ke depannya yang disasar adalah pasar dalam negeri yang masih terbuka lebar, apalagi di Indonesia bagian Timur. Selain daerah provinsi, untuk skala kabupaten pun sudah sudah ada permintaan. Tahun ini kami akan buka di Kediri dan Sampit. Lombok dan Ambon masih on progress,” ujar ibu dua anak ini seraya tersenyum. Bisnis spa dengan sistem franchise ini sudah berjalan selama 15 tahun dan menjadi market leader di Tanah Air. Namun, Wulan tetap berhati-hati dalam memilih rekanan bisnis, karena banyak orang yang memiliki uang gagal menjalankan usaha ini, karena tidak adanya passion di dunia spa. ‘Stress Management’ Untuk menyeimbangkan kesibukan kerja yang menyita pikiran dan tenaga, Wulan memiliki ritual harian sebagai bagian dari kiat stress management dirinya. Setiap hari dia selalu bangun tidur pukul lima pagi dan hanya tidur selama enam jam. Setelah mengantar anak-anak ke sekolah dan mengikuti misa pagi, dia rajin bermeditasi selama 30 menit. “Efeknya saya jadi lebih tenang dan tidak panikan. Setelah itu saya pun siap bertarung dengan beragam aktivitas sehari-hari yang menuntut saya tampil prima dan tegar. Agar tetap bugar tidak mudah lelah, saya juga rutin dua kali seminggu melakukan belly dance. Selain itu, saya juga ikut kelas menari Jawa Klasik dan ikut Zumba Class. Menari itu mengolah rasa, apalagi tarian Jawa adalah part of meditation, melatih kesabaran kita,” ungkap Wulan. Walaupun tidak mengerti bahasa Jawa, dia mencoba ikut melebur dengan budaya Tanah Air ini, agar lebih menjiwainya. Ketika ditanya apakah yang dilakukan saat sedang weekend atau liburan? Dengan bersemangat dia menjawab, “Saya suka pergi ke restoran Jepang dan Korea. Tobak Korean Restaurant adalah favorit saya, sementara untuk Jepang saya senang mampir ke Sushi Ippachi, rasanya tidak pernah mengecewakan. Saya menggemari classic sushi dengan bahan yang segar, sementara kalau di restoran sushi yang lebih ‘mass’, sajian sushinya sudah berbentuk fushion dengan bahan tambahan yang bermacam-macam." Cinta Museum Selain itu, Wulan sekeluarga bersama anak-anaknya sangat suka jalan-jalan ke museum sejak dua tahun lalu, karena bosan dengan suasana mal. Jadi, memang sesuai dengan pelajaran sejarah anak-anaknya di sekolah. Berbagai museum di Indonesia sudah semuanya dikunjungi. Saat keluar negeri mereka pun melakukan hal yang sama. Mereka sekeluarga sangat mencintai wisata sejarah dan seni budaya. Saat berkunjung ke Jepang, Wulan tak lupa dia mengajak keluarganya berkunjung ke kuil maupun museum dan belajar mengikuti budaya tradisional di sana. “Jepang adalah negara yang saya kagumi dan menjadi contoh negeri super modern, tapi tak pernah melupakan tradisi budaya dan sejarahnya. Mereka sangat menjaga heritage, makanannya sehat dan enak, lalu orang-orangnya sopan, bersih, rajin, dan pintar. Wilayah lain lain yang saya sukai adalah Eropa, karena banyak terdapat museum di sana,” tambahnya. Saat di dalam negeri perempuan berwajah cantik ini sekarang setiap bulan selalu pergi ke Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, mengunjungi Roemah Martha Tilaar. Sebagai generasi penerus, dia merasa terpanggil untuk ikut serta mengelola tempat yang sangat bersejarah ini, sebagai wujud kontribusi untuk kota kelahiran Martha Tilaar. Rumah budaya bergaya kolonial Belanda dan Cina Peranakan tersebut tidak sekadar museum, tapi sebagai community center, pusat jamu, dan kecantikan serta pemberdayaan perempuan. ”Kami akan melakukan kerja sama di bidang lingkungan hidup, kemasyarakatan, leadership, sesuai dengan visi misi Martha Tilaar, yaitu Beauty Education, Beauty Green, Beauty Culture, dan Empowering Woman. Kami yakin Gombong dan Kebumen bisa menjadi destinasi wisata,” cetus Ketua Yayasan Rumah Budaya Martha Tilaar ini. Lima Prinsip Berbisnis Dalam menjalankan bisnis, sang ibu selalu berpesan kepada Wulan untuk menerapkan lima prinsip yang tidak boleh dilupakan, agar spanya memiliki perbedaan khusus dibandingkan kompetitor sejenis. Yaitu Indonesian Concept, Innovative & Creative, Tradition to Modern Lifestyle, Empowering Woman, dan Local Wisdom Go Global. Sehingga para pelanggannya dapat merasakan pengalaman spa berbeda yang orisinal hasil warisan kekayaan alam dari Tanah Air. Suasana khas Indonesia harus selalu hadir dalam setiap gerai Martha Tilaar, baik dari sisi terapis, pernak-pernik, sampai ke interior desainnya sesuai dengan Indonesian Concept. Kekayaan budaya Indonesia yang sangat kaya dan beragam dikemas sesuai dengan gaya hidup para generasi muda (tradition to modern life style). Sementara rahasia bisnis Martha Tilaar yang berhasil bergelut dalam dunia kecantikan selama hampir setengah abad, karena tidak lepas dari prinsip inovasi dalam bentuk perawatan dan bahan-bahan yang digunakan untuk menghasilkan produk dan pelayanan terbaik bagi para pelanggannya. Prinsip empowering woman sebagai tujuan awal didirikannya bisnis ini diterjemahkan lewat peningkatan skill para therapist dengan memberikan beasiswa penuh melalui berbagai training, hingga penempatan di berbagai outlet Martha Tilaar yang banyak tersebar di seluruh Indonesia. Jadi, tak hanya sekadar bisnis, tapi ada misi sosialnya juga. Prinsip terakhir yang tak kalah penting adalah local wisdom go global mengandung makna ingin membawa produk-produk kecantikan dari Tanah Air ke kancah Internasional dengan keramahtamahan sebagai sebagai ciri khas utama orang Indonesia. Berkat kelima prinsip tersebut, perusahaan ini berhasil menyabet berbagai penghargaan baik di dalam maupun luar negeri. Yang terbaru adalah salah satu gerai Martha Tilaar Salon Day Spa di wilayah Papua berhasil menjadi nominasi The Best Day Spa of the Yeardi Asian Spa Awards 2014. “Sementara, salah satu terobosan dari sisi produk yang lebih life style dan berhasil dilakukan adalah candle massage. Spa pijat dengan lilin bersifat self heating dari shea butter dan palm oil ini sangat digemari dan menjadi favorit para pelanggan,” kata Wulan bersemangat. Kandungan asam lemak dalam shea butter dapat meredakan peradangan atau inflamasi dan membantu meningkatkan kelembaban pada kulit yang dehidrasi. Pijatan lembutnya, berkhasiat melancarkan peradaran darah, karena mengenai titik-titik relaksasi di tubuh. Terus melakukan inovasi itulah yang membuat Wulan bersemangat menekuni dan mengembangkan bisnis ini ke depannya. Dengan memegang teguh amanah sang bunda, Wulan percaya perusahaannya bisa tetap bertahan dan berkibar di era globalisasi yang kian menantang. (Elly Simanjuntak)