Industri Perhiasan Tanah Air Masih Seret

Jakarta, Obsessionnews - Usaha perhiasan di Indonesia makin mengkilap didukung tren batu mulia yang kini menjadi primadona. Namun, masih harus berhadapan dengan tantangan serta permasalahan yang ada. Menteri Perindustrian Saleh Husin saat ditemu di Kantornya di Jakarta, Rabu (27/5), mengatakan ada lima hal yang menjadi kendala industri perhiasan di tanah air. Pertama batu mulia asal Indonesia belum diakui oleh dunia internasional lantaran belum adanya lembaga sertifikasi yang diakui dunia global. Akibatnya, nilai jualnya tidak kompetitif. Persoalan kedua menurut Saleh, lantaran cadangan bahan baku batu mulia di Indonesia diekspor dalam bentuk bahan mentah sehingga, harga belum mampu terdongkrak naik. Persoalan pemotongan batu mulia juga belum sepenuhnya dikuasai pengrajin lokal. Dan yang keempat, penerapan teknologi dengan mesin dan alat modern dalam proses produksi masih minim lantaran keterbatasan modal. Kendala terakhir menurut Saleh, lantaran bermunculannya laboratorium gemologi yang dimiliki negara lain namun beroperasi di Indonesia. "Kelima hal tersebutlah yang harus kita selesaikan agar industri perhiasan Indonesia semakin maju dan dapat bersaing di dunia Inyernasional," kata Saleh berharap. Ekspor Perhiasan Memang Mengkilap Kilau industri perhiasan Indonesia terus menyala. Buktinya, pada Maret 2015 saja nilai mencapai USD 538,4 juta. Saat ini, jumlah perusahaan yang bergerak di industri perhiasan di seluruh Indonesia mencapai 36.636 unit. Potensi tersebut, mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 332.802 orang dengan nilai produksi sebesar Rp 11,15 triliyun tiap tahun. “Potensi yang begitu besar ini dapat membantu industri batu mulia Indonesia terus meningkat,” kata Menteri Perindustrian Saleh Husin saat ditemui di Kantornya di Jakarta Rabu (27/05). Saleh menyebutkan, dengan kondisi ekonomi dunia yang mengalami perlambatan seperti sekarang ini, tidak berdampak besar terhadap permintaan ekspor perhiasan asal Indonesia. Ini, terlihat dari nilainya yang terus berkontribusi pada ekspor non minyak dan gas tiap bulannya. Pada Maret 2015, nilai ekspor perhiasan dan permata asal Indonesia mencatatkan angka US$ 538,4 juta atau naik 24,15% dibanding Februari 2015. (MBJ)





























