Pengamat: Kecelakaan KA Pemicu Kinerja Lebih Baik

Semarang, Obsessionnews - Persoalan kecelakaan kereta api di Cirebon dua hari lalu mengundang pertanyaan di benak masyarakat, sejauh mana keamanan pihak PT KAI terkait insiden tersebut? Pengamat transportasi asal Universitas Soegijapranoto, Djoko Setijowarno mengungkapkan banyak faktor penyebab kecelakaan yang sempat membuat panik penumpang. "Bisa karena kondisi fisik masinis yang terlalu capai. Terutama petugas-petugas terkait perjalanan kereta api," ujarnya saat ditemui obsessionnews.com di kantornya, Senin (25/5/2015). Walaupun ditilik secara regulasi, pihak PT KAI telah memperbaiki aturan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bagi masinis, hanya diperbolehkan bekerja selama 6 jam. Terlebih aspek gaji tergolong tinggi dibanding moda transportasi lain seperti truk ataupun angkutan umum. "Tapi apapun tidak menjamin (tidak adanya kecelakaan). Tetap perlu diawasi," tutur Djoko. Sementara itu, kejadian tabrakan kereta tentu berdampak pada psikis masyarakat, terutama bagi penumpang KA. Apalagi dengan mendekatnya momen lebaran, membuat rasa ketakutan warga terhadap kereta kembali mencuat. "Mungkin ini sebagai pemicu PT KAI dalam musim lebaran jangan sampai terjadi kecelakaan," jelas dosen Fakultas Teknik Sipil itu. Meski begitu, selama 8 kali lebaran berturut-turut kinerja PT KAI terbilang cukup sukses membenahi birokrasi maupun pelayanan kereta api. Sedangkan mengenai lamanya penumpang menunggu kejelasan hingga 7 jam, Djoko menjelaskan kecelakaan terjadi di jalur utama sehingga bila dialihkan ke selatan belum terpasang double track. "Selatan itu (double track) baru Sukoharjo, Jogja, dan Solo. Kemudian Purwokerto belum sampai Cirebon. Sehingga track bergantian." Dan juga volume kereta barang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Ke depan rencananya jalur double track akan direalisasikan baik utara maupun selatan dalam kurun waktu 5 tahun. (Yusuf IH)





























