Peringatan Harkitnas, Makam Dr Soetomo Sepi Peziarah

Surabaya, Obsessionnews – Tanggal 20 Mei segenap masyarakat Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Hari besar nasional ini tak lepas dari jasa dan nama besar Dr. Soetomo sebagai pendiri organisasi bernama Budi Utomo. Sayangnya, untuk mengenang peristiwa bersejarah ini hanya sekedar sebuah seremonial saja. Warga Surabaya yang melintas di Jalan Bubutan Surabaya, Rabu (20/5/2015) tidak satu pun dari mereka terdorong untuk mampir dan melihat dari dekat pusura Bapak Pergerakan Nasional Indonesia itu. Padahal, tempat pemakaman Dr. Soetomo yang satu kompleks dengan Gedung Nasional Indonesia (GNI) itu sebenarnya sudah tidak asing lagi. Sejak pagi hingga siang, komplek GNI terlihat sepi. Bahkan, Walikota Surabaya Tri Rismahani yang dijadwalkan datang usai memimpin upacara di Taman Surya Balai Kota Surabaya, ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Risma lebih memilih sosialisasi bahaya narkotika di kawasan Sambikerep bersama Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Surabaya. Hanya terlihat perempuan tua dengan kaca mata tebal tengah duduk bersimpuh di pemakaman. Bu Murtiningrum, demikian akrab dikenal yang meneruskan jejak perjuangan sang ayah hingga saat ini dengan setia menjaga dan merawat pusara Dr. Soetomo. Usianya sudah tidak muda lagi bahkan menginjak 80 tahunan. Ibu yang sudah sejak lama hidup sebatang kara ini dengan ramah menyambut kedatangan jurnalis Obsessionnews. Bu Murtiningrum sempat bercerita bahwa pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang ke-107 ini, sudah tidak lagi diperingati secara khidmat atau selayaknya sebagai peristiwa penting dalam sejarah bangsa. “Saya berharap agar momen kebangkitan nasional bukan hanya diperingati secara seremonial belaka, tetapi hendaknya dapat dijadikan sebagai momen instropeksi diri terhadap apa yang telah kita lakukan selama ini,” kata putri dari murid kesayangan Dr. Soetomo.
Nilai yang diteladani Dr. Soetomo di bidang politik, pendidikan dan kebudayaan yang selalu sarat dikorbankan disaat melawan penjajah, lanjut Bu Murtiningrum, kini semua itu diambang kehancuran yang disebabkan oleh moral rakyatnya yang tidak lagi mulia seperti yang pernah diajarkan oleh Dr. Soetomo dan kawan-kawan ketika mendirikan Budi Utomo pada 20 Mei 1908 di Stovia. “Kehancuran bangsa ini diawali oleh budi pekerti dan moral yang tidak utama dan mulia. Padahal, Budi Utomo mengajarkan budi pekerti sebagai yang mulia sebagai yang utama,” sindirnya. Meski demikian, perempuan tua yang kurus dan rapuh ini dengan telaten bercerita kepada Obsessionnews tentang gerak perjuangan Dr. Soetomo dan beberapa gedung warisan Pak Tom, demikian Bu Murtiningrum menyebut nama Dr. Soetomo. Sebagai juru pelihara yang dengan setia merawat dan menjaga pusara Dr. Soetomo, Bu Murtiningrum dianugerahi beberapa piagam penghargaan oleh pejabat daerah Jawa Timur. Sejumlah nama seperti Imam Utomo, Soekarwo dan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. (GA Semeru)
Nilai yang diteladani Dr. Soetomo di bidang politik, pendidikan dan kebudayaan yang selalu sarat dikorbankan disaat melawan penjajah, lanjut Bu Murtiningrum, kini semua itu diambang kehancuran yang disebabkan oleh moral rakyatnya yang tidak lagi mulia seperti yang pernah diajarkan oleh Dr. Soetomo dan kawan-kawan ketika mendirikan Budi Utomo pada 20 Mei 1908 di Stovia. “Kehancuran bangsa ini diawali oleh budi pekerti dan moral yang tidak utama dan mulia. Padahal, Budi Utomo mengajarkan budi pekerti sebagai yang mulia sebagai yang utama,” sindirnya. Meski demikian, perempuan tua yang kurus dan rapuh ini dengan telaten bercerita kepada Obsessionnews tentang gerak perjuangan Dr. Soetomo dan beberapa gedung warisan Pak Tom, demikian Bu Murtiningrum menyebut nama Dr. Soetomo. Sebagai juru pelihara yang dengan setia merawat dan menjaga pusara Dr. Soetomo, Bu Murtiningrum dianugerahi beberapa piagam penghargaan oleh pejabat daerah Jawa Timur. Sejumlah nama seperti Imam Utomo, Soekarwo dan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. (GA Semeru) 




























