Oknum Pendemo Lecehkan Profesi Wartawan

Semarang, Obsessionnews - Demonstrasi dan media merupakan hal tak terpisahkan di mana pun tempatnya. Wartawan sebagai pencari berita sangat diperlukan pelaku aksi demo untuk menyiarkan aspirasinya kepada masyarakat. Namun terkadang masih ada pendemo yang belum mengerti betapa pentingnya media bagi mereka. Sangat disayangkan kalau terjadi pelecehan terhadap profesi jurnalis. Seperti terjadi dalam demonstrasi yang digelar di depan pelataran gedung DPRD Jawa Tengah, Rabu (20/5/2015). Salah seorang peserta aksi, Ari, oknum mahasiswa asal universitas Islam terkemuka di Kota Semarang melakukan pelecehan verbal kepada awak media saat demonstrasi berlangsung.
Kejadian terjadi ketika tiga orang wartawan hendak memotret barisan pendemo yang membentangkan spanduk dan memblokir jalan Pahlawan. Ari dengan sengaja melontarkan kata-kata sinis kepada ketiga jurnalis, termasuk wartawan obsessionnews.com. "Buat para wartawan nek gawe berita ojo ndobol (kalau bikin berita jangan bohong, red)," seru Ari yang berada di sisi pojok kanan spanduk. Rupanya kata-kata "ndobol" sangat menyinggung perasaan ketiga wartawan itu. Kata "ndobol" dalam kosakata warga Semarang ialah bentuk kata "berbohong" yang memiliki nilai sindiran dan bahasa kasar (ngoko kasar). Kemudian salah satu wartawan maju dan mempertanyakan maksud statemen Ari.
Mahasiswa bertubuh tambun itu pun berkilah kalau perkataan itu diucapkan dengan tidak sengaja. Padahal, dari pengamatan obsessionnews.com, perkataan sinis jelas diucapkan dengan sengaja tanpa memandang kondisi sekitar. Memang selama jalannya aksi, Ari seringkali menyerukan kata-kata kasar dan memprovokasi massa. Bahkan tak segan ia memancing emosi demonstran untuk melakukan aksi anarkis. Selang beberapa waktu, ketiga awak media mengadukan kepada rekan wartawan lain. Mereka sepakat untuk menarik Ari dari kumpulan massa dan menginginkan permintaan maaf di depan umum. Kericuhan sempat terjadi karena gerombolan mahasiswa tidak mau menyerahkan Ari kepada pihak wartawan. Tarik-menarik tak terelakkan. Awak media tersulut emosi dan membentak para mahasiswa agar tidak membuat ricuh. Ari juga sempat tidak mau mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada wartawan.
Akhirnya, Ari digelandang para jurnalis di lapangan dan mengakui bila melakukan pelecehan verbal. "Saya meminta maaf kepada wartawan semua. Saya khilaf," akunya sambil dikerumuni para jurnalis. Usai acara, beberapa Koordinator aksi kembali menemui wartawan yang dilecehkan dan meminta maaf atas perbuatan anggotanya itu. Pihak wartawan sedang mempertimbangkan akan mengajukan ke pihak kampus atau tidak. Memang selama jalannya aksi, Ari seringkali menyerukan kata-kata kasar dan memprovokasi massa. Bahkan, taks egan ia memancing emosi demonstran untuk melakukan aksi anarkis. Dia juga mengumbar seruan tidak takut kepada polisi dan menantang dengan mengaku sebagai anak jaksa. (Yusuf IH)
Kejadian terjadi ketika tiga orang wartawan hendak memotret barisan pendemo yang membentangkan spanduk dan memblokir jalan Pahlawan. Ari dengan sengaja melontarkan kata-kata sinis kepada ketiga jurnalis, termasuk wartawan obsessionnews.com. "Buat para wartawan nek gawe berita ojo ndobol (kalau bikin berita jangan bohong, red)," seru Ari yang berada di sisi pojok kanan spanduk. Rupanya kata-kata "ndobol" sangat menyinggung perasaan ketiga wartawan itu. Kata "ndobol" dalam kosakata warga Semarang ialah bentuk kata "berbohong" yang memiliki nilai sindiran dan bahasa kasar (ngoko kasar). Kemudian salah satu wartawan maju dan mempertanyakan maksud statemen Ari.
Mahasiswa bertubuh tambun itu pun berkilah kalau perkataan itu diucapkan dengan tidak sengaja. Padahal, dari pengamatan obsessionnews.com, perkataan sinis jelas diucapkan dengan sengaja tanpa memandang kondisi sekitar. Memang selama jalannya aksi, Ari seringkali menyerukan kata-kata kasar dan memprovokasi massa. Bahkan tak segan ia memancing emosi demonstran untuk melakukan aksi anarkis. Selang beberapa waktu, ketiga awak media mengadukan kepada rekan wartawan lain. Mereka sepakat untuk menarik Ari dari kumpulan massa dan menginginkan permintaan maaf di depan umum. Kericuhan sempat terjadi karena gerombolan mahasiswa tidak mau menyerahkan Ari kepada pihak wartawan. Tarik-menarik tak terelakkan. Awak media tersulut emosi dan membentak para mahasiswa agar tidak membuat ricuh. Ari juga sempat tidak mau mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada wartawan.
Akhirnya, Ari digelandang para jurnalis di lapangan dan mengakui bila melakukan pelecehan verbal. "Saya meminta maaf kepada wartawan semua. Saya khilaf," akunya sambil dikerumuni para jurnalis. Usai acara, beberapa Koordinator aksi kembali menemui wartawan yang dilecehkan dan meminta maaf atas perbuatan anggotanya itu. Pihak wartawan sedang mempertimbangkan akan mengajukan ke pihak kampus atau tidak. Memang selama jalannya aksi, Ari seringkali menyerukan kata-kata kasar dan memprovokasi massa. Bahkan, taks egan ia memancing emosi demonstran untuk melakukan aksi anarkis. Dia juga mengumbar seruan tidak takut kepada polisi dan menantang dengan mengaku sebagai anak jaksa. (Yusuf IH) 




























