Perguruan Tinggi Harus Mampu Terapkan Ilmunya di Masyarakat

Perguruan Tinggi Harus Mampu Terapkan Ilmunya di Masyarakat
Bandung, Obsessionnews - Kepala Pusat Pengkajian Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Mohamad Hery Saripudin MA, mengatakan Perguruan Tinggi harus mengimplementasikan ilmunya kepada masyarakat dan tidak semata meresponnya, tetapi juga memberikan suatu gagasan yang dapat diimplementasikan. Hal itu dikatakan Hery pada acara Unpad (Universitas Pajajaran) Bandung Merespon, Senin (18/5). Pada acara yang bertema 'Unpad Merespons: Kiprah Unpad di Era ASEAN Community 2015' ini, Hery juga mengingatkan kalangan sivitas akademika mempunyai posisi yang sangat instrumental bagi pengembangan berbagai kebijakan khususnya terkait sikap Indonesia menghadapi ASEAN Community. Untuk itu, Kemlu sendiri telah membentuk Pusat Studi ASEAN di 13 Perguruan Tinggi di Indonesia, termasuk Unpad. “Pusat Studi ini diharapkan bisa menjadi tangan kanan dari Sekretariat Nasional ASEAN (Setnas ASEAN) yang dibentuk Pemerintah. Tujuannya, untuk menjangkau apa yang tidak bisa dijangkau oleh Setnas ASEAN,” ujar Hery. Hery juga menganjurkan agar Unpad ikut aktif di dalam forum ASEAN University Network. Dengan keikutsertaan dalam forum ini, Unpad setidaknya dapat berkontribusi menciptakan standar umum mengenai sistem Pendidikan Tinggi di kawasan ASEAN. Program lain yang harus dilakukan adalah membangun jejaring kerja sama dengan universitas di ASEAN, memperbanyak program double degree atau twinning program, hingga mempersiapkan para ahli tentang negara ASEAN. Selain Hery, dalam diskusi yang dihadiri sivitas akademika dan awak media ini menghadirkan dua pembicara lain, yaitu Dekan FEB Unpad Nury Effendi SE MA PhD, dan Guru Besar Hubungan Internasional FISIP Unpad Prof Dr H Obsatar Sinaga SIP MSi, dengan moderator Dekan FISIP Unpad Dr Arry Bainus MA. unpad-merespons2 Sementara itu menurut Rektor Unpad Prof DR Tri Hanggono Ahmad mengatakan, masyarakat juga harus dilibatkan  dalam pengembangan Perguruan Tinggi guna menghasilkan beberapa inovasi untuk menunjang aktivitas pendidikan yang lebih baik. “Selama ini kita berpikir inovasi yang dihilirkan selalu berbicara teknologi. Padahal, aspek social value ini mempunyai kekuatan untuk menggulirkan aspek teknologi tersebut,” kata Rektor. Sementara Nury Effendi Ph.D, menyorot peran Unpad di dalam era globalisasi. “Ada tidaknya ASEAN Community, Unpad tetap harus merespons globalisasi. Kalau kita merespons global maka kita juga dapat merespons ASEAN,” jelasnya. Respons globalisasi ini diwujudkan dengan internasionalisasi Unpad. Hal ini tertera dalam visi Unpad sebagai Penyelenggara Pendidikan Tinggi Kelas Dunia. Menurutnya, dengan menerapkan visi tersebut, maka lulusan Unpad akan memiliki daya saing dengan lulusan Perguruan Tinggi di negara lainnya. Meski harus merespons globalisasi, mengangkat budaya lokal pun harus tetap dilakukan Unpad. Hal tersebut dikemukakan oleh Prof. Obsatar. Menurutnya, kearifan lokal harus memiliki daya saing dalam menghadapi ASEAN Community. Saat ini banyak masyarakat lokal, khususnya di Jawa Barat, yang belum memahami program tersebut. Untuk itu, ia mengungkapkan beberapa program yang dilakukan Unpad untuk menyerap persoalan siap tidaknya masyarakat lokal menghadapi ASEAN Community, diantaranya, mendorong penciptaan ekonomi kreatif, membantu penguatan kualitas SDM dan abdi negara, serta merangsang pengembangan iklim usaha dan peningkatan jumlah kelas menengah. (Dudy Supriyadi)