Kemana Larinya Kontribusi Pasar Tradisional ?

Kemana Larinya Kontribusi Pasar Tradisional ?
Jakarta, Obsessionnews - Kumuh, kotor dan jorok. Begitulah kesan pertama ketika mendengar nama pasar tradisional. Belum lagi, nafas pedagang kecil di sana terancam mampet bahkan berhenti menghadapi kemegahan dan kenyamanan pasar modern yang terus tumbuh. Abdullah Mansuri, Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) menceritakan, dengan jumlah pasar sebanyak 13 ribu 450 unit dan pedagang mencapai 12,5 juta di seluruh Indonesia, pasar tradisional sebenarnya punya potensi besar jika dikaitkan kepada ekonomi rakyat dalam bingkai Nawacita. Sebab bukan apa-apa. Menurut dia, dari total APBD DKI Jakarta saja, Rp 36 milyarnya berasal dari tempat kumuh tersebut. Belum lagi, pendapatan PD Pasar Jaya, sebanyak Rp 400-an milyar juga berasal dari sana. "Setiap pedagang pasar cuma butuh 3x3 meter tapi harus membayar Rp 20 jutaan, kadang-kadang bisa 5 sampai 10 kali lipat," kata Abdullah. Sementara itu, setiap hari pedagang di pasar tradisional juga kudu selalu bayar retribusi sampah, keamanan dan lain sebagainya. Namun jika kondisi kotor dan kumuh yang jadi kambing hitam ya pedagang. "Lantas kemana petugasnya ? Artinya, retribusi yang dibayarkan tidak dikembalikan lagi ke pedagang," jelas Abdullah. Menghadapi pertumbuhan pasar modern, Abdullah juga mengeluhkan tidak adanya pengaturan jarak antara pasar tradisional dengan modern. Kewenangan soal ini, selalu dikembalikan ke pihak Pemerintah Daerah dan dirasa perlu dikeluarkan regulasinya oleh Pemerintah pusat lantaran barang-barang yang dijual sama persis. "Cuma rokok ketengan yang tidak dijual. Kalau dijual juga kami bisa mati," kata Abdullah. Terkait permodalan, pedagang di pasar tradisional yang jumlahnya mencapai 12,5 juta jiwa tadi juga tidak punya akses ke perbankan. Bahkan, ada kesan dibiarkan dan sengaja agar tak berkoneksi dengan bank. Akhirnya, kalau kurang modal sedikit selalu pinjam ke rentenir. (MBJ)