Senin, 26 Oktober 20

Ratusan Sopir Truk Tuntut Muatan Galian C Diperbesar Hingga 75%

Ratusan Sopir Truk  Tuntut Muatan Galian C Diperbesar Hingga 75%
* Unjuk rasa ratusan sopit truk material memacetkan Semarang dan sekitarnya, Senin (23/2)

Semarang, Obsessionnews – Demonstrasi besar-besaran terjadi di sepanjang Jalan Pahlawan, Semarang, tepatnya di depan kantor Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Senin (23/2). Para pengunjuk rasa yang berasal dari Aliansi Pengemudi Independen (API) Jateng menuntut Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengubah kebijakan yang diterapkan kepada mereka.

Ketua Umum API Jateng Suroso mengatakan, API menginginkan diberikan toleransi muatan hingga 75% Jumlah Berat Diizinkan (JBI). API mengakui secara jantan selama ini mengangkut barang muatan melebihi dari aturan JBI yang diterapkan.

Pendemo membawa berbagai atribut bersama ratusan truk penambang pasir
Pendemo membawa berbagai atribut bersama ratusan truk penambang pasir

“Kami menuntut agar toleransi muatan diperbesar hingga 75%. Selain itu, kami ingin agar izin galian C dipermudah, dan kembalikan armada dan alat berat yang diamankan petugas!” seru Suroso dalam orasinya.

Massa yang datang membawa berbagai atribut dan truk-truk besar. Rombongan tersebut membuat kemacetan di wilayah pusat kota dan sekitarnya.

Sekelompok sopir truk mengangkat dump body sebagai bentuk ekspresi kekecewaan.
Sekelompok sopir truk mengangkat dump body sebagai bentuk ekspresi kekecewaan.
Seorang pendemo terlihat tidak puas dan memukul tulisan Ayo Mbangun Jawa Tengah di kantor Gubernur Jateng.
Seorang pendemo terlihat tidak puas dan memukul tulisan Ayo Mbangun Jawa Tengah di kantor Gubernur Jateng.

Budi Handoko, seorang polisi yang menjaga lokasi demonstrasi, mengatakan kepada obsessionnews.com, jumlah truk pendemo hampir mencapai ratusan unit.

Mukhlisin, pengemudi truk dari Mijen, mengungkapkan, dengan adanya penutupan galian C di Jateng membuat para sopir yang mengangkut material menganggur selama dua bulan ini. Galian C berupa penambangan batu, koral, dan pasir sungai.

“Sekarang banyak galian C yang ditutup oleh pemerintah, dan hal itu mengakibatkan banyak sopir yang menganggur,” katanya.

Mereka menyatakan, berdasarkan tesis Prof. Dr. Ir. Agus Taufiq Mulyono  M.T., dosen Universitas Gadjah Mada (UGM), penyebab kerusakan jalan justru 44% dikarenakan konstruksi jalan yang tidak memenuhi standar. Sedangkan akibat kelebihan muatan hanyalah 12%. Penelitian tersebut dilakukan di 28 provinsi dengan 204 responden. Mereka juga mengutip pernyataan pengamat transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata (Unika) Djoko Setijowarno, terdapat perusahaan yang kerap melakukan kelebihan muatan (overload), yakni PT Siba Surya,  PT Sun, PT Hasil Mandiri, PT Adil Jaya, dan PT Sukses Putra.

Pukul 14.30 WIB Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menemui para pendemo. Kepada ratusan massa, Ganjar menjelaskan hasil pertemuannya dengan perwakilan pendemo.” Silahkan bentuk tim dari penambang, pengusaha, sopir, dan ahli. Kalau sudah siap, kirim pesan ke saya. Rabu bertemu dengan tim Pemprov,” tegas Ganjar.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berdialog dengan para pengunjuk rasa.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berdialog dengan para pengunjuk rasa.

Menurut Ganjar, pihaknya bersedia mengubah Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012 asalkan rasional dan ada pendapat pihak yang berkompeten mengenai toleransi tonase. “Saya tidak akan ragu mengubah peraturan jika memang itu diperlukan dan bisa dilakukan serta rasional. Kalau ada ahli dan orang berkompeten lainnya yang mengatakan toleransi tonase, saya siap mereview,” katanya.

Galian C merupakan hal yang membuat pengertian tidak sama antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) dengan Pemerintah Kota (Pemkot) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab). Besaran izin untuk galian C di kota dan kabupaten adalah wewenang Pemkot dan Pemkab. Sedangkan bila lebih dari 5 hektar perizinan melalui Pemprov. Masalah yang kerap terjadi apabila ada yang mengajukan izin kegiatan penambangan galian C di wilayah kota/kabupaten, sedangkan praktiknya wilayah tambang melebihi dari 5 hektar.

Pengusaha galian C yang tidak mengajukan izin juga membuat permasalahan lain. Dr. Eko Sabar Prihatin S.H. M.Si, dosen hukum lingkungan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, mengatakan kepada obsessionnews.com, yang menjadi permasalahan adalah pemilik galian C yang tidak memiliki izin. Hal tersebut menjadikan ambivalensi di mana galian C sendiri salah satu roda perekonomian di Indonesia. “Galian C ini masih terjadi ambivalensi. Yang jadi masalah adalah galian C tanpa izin. Kebanyakan di Jateng tanpa izin terkait penambangan itu, ” tuturnya.

Eko menuturkan agar ada pembenahan aturan dan yang paling penting pengawasan dari aturan yang akan diterapkan.” Apabila memang para penambang merasa jika perizinan sulit untuk dilakukan, maka seharusnya pemerintah melakukan penyederhanaan aturan,” katanya. (Yusuf Isyrin Hanggara)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.