Sabtu, 3 Desember 22

Ratusan Mahasiswa IPB Korban Penipuan Pinjol, Kini Diteror Penagih Pinjol

Ratusan Mahasiswa IPB Korban Penipuan Pinjol, Kini Diteror Penagih Pinjol
* Ilustrasi pengguna pinjaman online. (Getty Images)

Ratusan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) menjadi korban penipuan modus baru dengan iming-iming keuntungan 10% dan berutang pinjaman online (pinjol). Kini mereka terjerat utang dengan total tagihan ditaksir miliaran rupiah. Sebagian dari mereka bahkan diteror oleh penagih utang, atau debt collector.

Sebanyak 331 orang terjerat pinjaman online karena menjadi korban penipuan dengan iming-iming imbal hasil yang besar. Dari jumlah tersebut 116 di antara mereka adalah mahasiswa IPB di Jawa Barat.

Humas IPB Yatri Indah Kusuma Astuti menyebut apa yang terjadi pada para mahasiswa itu adalah “penipuan untuk investasi”. Mereka diminta berinvestasi dengan dana pinjaman online dan diiming-imingi bagi hasil 10% per bulan dari nilai investasi yang mereka berikan.

Alih-alih mendapat untung, kini mereka malah mendapat buntung. Sebab selain tak menerima keuntungan, mereka juga harus membayar cicilan utang dari pinjaman online.

“Mahasiswa kan sebetulnya nggak punya uang banyak ya, jadi mereka dibantu untuk mendaftarkan diri ke pinjaman online oleh oknum ini. Kemudian setelah cair dananya, diminta untuk transfer ke rekening si oknum,” jelas Yatri kepada wartawan BBC News Indonesia Ayomi Amindoni, Rabu (16/11/2022).

“Jadi mahasiswa sebetulnya tidak mendapat hasil apa-apa, dengan janji nanti setiap bulan dapat keuntungan 10 persen.”

Pada satu bulan pertama, kata Yatri, cicilan itu memang dibayarkan. Namun pada bulan-bulan berikutnya, tak dibayarkan. Sejak itulah, debt collector menagih utang kepada para mahasiswa.

Dia mengatakan dalam kasus penipuan itu, masing-masing mahasiswa IPB berutang melalui pinjaman online sekitar Rp2 juta hingga belasan juta rupiah.

Dia memperkirakan jumlah utang 116 mahasiswa yang dilakukan melalui pinjol itu sekitar Rp900 juta.

Hingga saat ini, kasus penipuan ini masih dalam penyelidikan kepolisian Kota Bogor.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut bahwa apa yang terjadi pada ratusan mahasiswa itu adalah “modus penipuan baru”.

Sementara itu, ekonom INDEF berpendapat banyaknya mahasiswa menjadi korban penipuan, mengindikasikan minimnya literasi keuangan digital.

“Ini akhirnya sudah jatuh tertimpa tangga pula. Jadi ini pelajaran penting bagi masyarakat kita, jika ingin berinvestasi kenali risikonya dan jangan gunakan uang dari hasil meminjam,” peneliti INDEF Nailul Huda.

Ditagih bayar cicilan tapi tak punya uang’
Teror para penagih utang membuat mahasiswa mulai “khawatir dan was-was, takut ketahuan orang tuanya, takut ketahuan institusi dan takut kena sanksi akademik”, ujar Humas IPB, Yatri Indah Kusuma Astuti.

Namun kemudian, ada orang tua mahasiswa yang melapor ke pihak kampus, dan sejak itulah kasus penipuan ini mulai terkuak.

“Ternyata sudah banyak mahasiswa yang melapor ke polisi. Jadi mereka sudah inisiatif melapor ke polisi.”

“Kami baru dapat datanya setelah mereka mau terbuka Semula mereka tidak mau terbuka karena takut sanksi akademik,” terang Yatri kemudian.

Dia khawatir bahwa penipuan yang terjadi pada para mahasiswa IPB adalah “fenomena gunung es” dan jumlah para mahasiswa yang menjadi korban sebenarnya lebih banyak dari yang tercatat.

“Mungkin masih ada lagi, mungkin juga teman-teman dari kampus lain kena masalah semacam ini.”

Diakui oleh Yatri bahwa banyak mahasiswa mulai resah, sebab sebentar lagi mereka akan memasuki masa ujian. Namun utang yang kini menjerat, membuat mereka “galau”.

“Kondisinya sekarang resah, bingung, ditagih supaya membayar cicilan tapi nggak punya uang dan memang tidak memanfaatkan apa-apa, jadi mereka saat ini benar-benar sedang galau,” kata Yatri.

Oleh sebab itu, pihak kampus kini sedang memberikan pendampingan, termasuk pendampingan psikologis jika ada di antara para mahasiswa yang mengalami depresi.

Selain itu, rektorat IPB tengah meminta pendapat OJK untuk memediasi agar pinjaman itu dibekukan, supaya bunga pinjaman tidak terus bergulir dan membuat utang kian bengkak.

Selanjutnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan membicarakan hal itu dengan perusahaan pinjaman online terkait.

“Memang pinjolnya enggak salah sebetulnya, ini kan masalahnya di oknum.”

Adapun, hingga Rabu (16/11) Kepolisian Kota Bogor telah menerima dua laporan polisi dan dua laporan pengaduan terkait kasus penipuan ini.

Wakapolres Kota Bogor, AKBP Ferdy Irawan, menjelaskan bahwa jumlah korban penipuan yang sebelumnya tercatat 311 orang telah bertambah menjadi 331 orang.

“Tapi itu campuran antara mahasiswa dan orang-orang umum, memang sebagian besar itu mahasiswa IPB,” jelas Ferdy kepada BBC News Indonesia.

Sebelumnya Ferdy memperkirakan para korban itu menderita kerugian hingga Rp2,1 miliar.

Angka Rp2,1 miliar itu, katanya, berdasar akumulasi tagihan maupun bunga yang harus mereka bayarkan dalam pinjaman online yang sudah dilakukan para korban.

“Kami masih melakukan klarifikasi untuk tambahan total kerugiannya, tapi ini harus kita pastikan apakah angka itu yang murni diterima pelaku, tentunya nanti akan ada bukti pengiriman transfer dan sebagainya, atau hanya angka yang muncul akumulasi dari kerugian investasi yang sudah mereka berikan maupun tagihan pinjaman yang sudah mereka ajukan ke pinjaman online,” ungkapnya.

Pelaku bukan alumni IPB
Berbeda dengan pemberitaan media yang menyebut bahwa pelaku penipuan adalah senior para mahasiswa, Yatri memastikan bahwa yang disebutnya sebagai “oknum” itu tidak tercatat sebagai mahasiswa atau alumni IPB.

“Orang dari luar, tapi memang dia pernah datang ke kampus IPB. Mungkin kenal dengan kakak tingkat, kemudian dikenalkan ke adik-adiknya. Tapi yang bersangkutan bukan alumni IPB.”

Lebih jauh Yatri menjelaskan bahwa “oknum” tersebut memiliki toko daring.

Untuk meningkatkan rating dan menambah investasi, dia “menarik uang banyak-banyak dari mahasiswa” dan menyebutnya sebagai “proyek kerja sama”.

Kenal dengan satu, dua mahasiswa, dia follow up, dan hebatnya bisa membuat mahasiswa jadi percaya. Dia mampu meyakinkan orang supaya ikut kerja sama dengan dia walaupun sebetulnya nggak ada jaminan,” jelas Yatri.

Kejelasan status pelaku diperkuat oleh klarifikasi Wakapolres Kota Bogor, AKBP Ferdy Irawan.

“Kalau dari data yang ada, berdasar KTP dan keterangan para korban, dia bukan mahasiswa IPB dan pekerjaannya swasta,” kata Ferdy.

Terduga pelaku penipuan, lanjut Ferdy, mengarah pada satu nama dengan modus yang serupa.

Penipuan terhadap ratusan korbannya itu didugadilakukan sejak Jamuari hingga Oktober silam.

Adapun para korban mengetahui investasi ini dari mulut ke mulut yang memperkenalkan mereka pada pelaku.

Modus penipuan baru?
Lebih lanjut, Ferdy menjelaskan bahwa persoalan utama dalam perkara ini bukanlah tentang pinjol, melainkan adanya penipuan bisnis online.

“Hanya memang modus yang dipergunakan mengarahkan para korban ini untuk meminjam di aplikasi pinjaman online, karena kan memang sebagian besar mahasiswa karena tak punya modal diarahkanlah untuk meminjam online dengan janji bagi hasil 10 persen dan pembayaran pinjaman tersebut nanti akan dibayarkan oleh si terlapor ini,” kata Ferdy.

“Kurang lebih hampir sebagian besar modusnya seperti itu,” imbuhnya kemudian.

Senada Ketua Satgas Waspada Investasi di OJK Tongam Lumban Tobing mengungkap apa yang terjadi dengan mahasiswa IPB, dan sejumlah korban lainnya, bukanlah terkait pinjol secara langsung, melainkan “penipuan pembelian barang fiktif”.

“Informasi yang kami peroleh sampai saat ini, bahwa aplikasi yang memberikan pinjaman bukan pinjol tetapi perusahaan pembiayaan (multi finance), jadi bukan peer to peer lending, tetapi pembiayaan pembelian barang dari perusahaan multi finance, yang ternyata barangnya fiktif, tetapi uangnya mengalir ke pelaku,” jelas Tongam.

Lebih jauh Tongam menjelaskan bahwa dugaan penipuan yang dilakukan pelaku adalah dengan kedok menawarkan kerja sama usaha penjualan di toko online miliknya dengan imbal hasil 10% per transaksi.

Pelaku kemudian meminta mahasiswa membeli barang di toko online pelaku. Jika mahasiswa tidak mempunyai uang, maka pelaku meminta mahasiswa meminjam secara online.

“Uang hasil pinjaman tersebut masuk ke pelaku, tapi barang tidak diserahkan ke pembeli, atau pembelian secara fiktif dari toko online pelaku,” ungkapnya.

Pelaku berjanji akan membayar cicilan hutang dari pemberi pinjaman tersebut, sehingga mahasiswa tertarik untuk ikut berinvestasi.

Dalam perkembangannya, pelaku tidak memenuhi janjinya untuk membayar cicilan hutang, sehingga tenaga penagih melakukan penagihan kepada mahasiswa sebagai peminjam.

“Ini memang merupakan modus penipuan baru ya, di mana pelaku ini dan mahasiswa yang ikut di sana sepakat bahwa terjadi seolah-olah pembelian barang, karena pada saat melakukan pembelian barang mereka menyampaikan informasi kepada platform bahwa barang sudah diterima, ternyata dalam faktanya tidak diterima.”

“Jadi ada kesepakatan seperti itu yang memang kami katakan ini adalah modus baru di mana para korbannya menyetujui sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan, di mana korban-koban ini tidak menerima barang, tetapi di aplikasi disebutkan menerima barang,” jelas Tongam.

Semestinya, tegas Tongam, para mahasiswa mewaspadai sejak awal penipuan yang mereka alami sebab, selain pemberian bonus 10% yang menurutnya “tidak masuk akal”, juga ajakan pelaku agar para mahasiswa menyampaikan informasi yang keliru.

“Ajakan dari pelaku penipuan ini supaya mereka menyampaikan informasi bahwa mereka sudah menerima barang, padahal barang itu tidak diterima, seharusnya diwaspadai sejak awal bahwa ini adalah penipuan,” kata dia. (BBCIndonesia/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.