Rabu, 25 Mei 22

Ramai-ramai Warga Asing Bakal ‘Kabur’ dari China

Ramai-ramai Warga Asing Bakal ‘Kabur’ dari China
* Ker Gibbs, perwakilan Kamar Dagang AS di Shanghai. (SCMP)

Aturan penguncian (lockdown) Covid-19 yang dilakukan China diprediksi membuat banyak ekspatriat asing pergi dari negara itu. Hal ini disampaikan oleh sekelompok konsultan lobbying perusahaan Amerika Serikat (AS) di China.

Perwakilan Kamar Dagang AS di Shanghai mengatakan lockdown China membuat calon ekspatriat yang akan datang ke negara itu kesulitan mengurus visa bisnis dan juga membawa keluarganya. Akibat kesulitan ini, ekspatriat baru memilih untuk mengurungkan niatnya ke Negeri Tirai Bambu dan ekspatriat lama memutuskan untuk pergi.

“China telah berkembang pesat yang disebabkan kerja keras dan jiwa wirausaha warganya, namun itu juga didorong oleh pembukaan ke dunia luar,” ujar Ker Gibbs, perwakilan Kamar Dagang AS di Shanghai, mengutip Financial Times.

Kamar dagang itu mencatat saat ini 70% perusahaan AS di China mengaku kesulitan dalam memancing pekerja-pekerja baru akibat aturan lockdown.

“Membawa eksekutif perusahaan dan keluarganya masuk dan keluar China menjadi sangat sulit sejak pandemi dimulai,” tambah Gibbs.

Beberapa konsultan bisnis China pun mengiyakan hal ini. Mereka memprediksi bahwa pelonggaran masuk untuk ekspatriat tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat.

“Melihat strategi sukses dalam implementasi pembatasan perjalanan internasional, setidaknya China akan terus melakukan hal ini hingga setidaknya setahun mendatang,” ucap Ernan Cui, analis dari perusahaan konsultan Gavekal.

Kondisi China juga semakin terpuruk setelah adanya lonjakan kasus Covid-19 yang memaksa pemerintah melakukan pengetatan mobilitas masyarakat hingga lockdown per daerah Negeri Tirai Bambu sebelumnya sudah melakukan lockdown di kota Heihe, Lanzhou, dan Eijin.

Selain di tiga kota itu, penguncian yang sifatnya lokal atau per kompleks perumahan juga dilakukan di distrik Changping, barat laut Beijing. Hal serupa juga dilakukan di wilayah lainnya seperti Xinjiang.

China memiliki total 97.527 kasus infeksi dan 4.636 kematian, menurut data Worldometers per Jumat (5/11/2021). (CNBC/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.