Rabu, 3 Juni 20

Ramadan dan Hakikat Pulang Kampung

Ramadan dan Hakikat Pulang Kampung
* ilustrasi - bulan suci Ramadan

Oleh : Ahmad Sastra, Dosen Filsafat Universitas Ibnu Khaldun Bogor

Fenomena wajib setiap hadir bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri adalah mudik atau pulang kampung. Bahkan tahun ini di tengah wabah Covid-19, masyarakat lebih awal ada yang sudah pulang kampung. Pulang kampung itu ya mudik, dan mudik itu ya pulang kampung, sama saja.

Memang tahun ini agak sedikit berbeda dengan adanya larangan mudik akibat pandemi coronavirus, namun bukan berarti tidak ada masyarakat yang tetap mudik. Secara de facto, mudik adalah kembalinya sang perantau ke kampoeng halaman. Merantau ke luar daerah umumnya untuk bekerja mencari nafkah, meski ada juga karena menuntut ilmu atau kepentingan yang lain.

Fenomena budaya mudik menunjukkan bahwa pada umumnya orang akan kembali kepada kampung halaman, setelah melakukan perantauan. Kampung halaman adalah tempat asal mereka dilahirkan. Bahkan seringkali, kampung halaman dijadikan sebagai tempat lahir sekaligus tempat mati, meski dalam hidupnya merantau ke berbagai daerah. Keistimewaan kampung halaman inilah yang kelak melahirkan tradisi mudik orang Indonesia.

Secara filosofis, pulang kampung dari perantauan adalah sebuah perumpamaan eksistensi kehidupan manusia. Sebab manusia pasti bermula dan berakhir, berasal dan kembali. Jika diibaratkan mudik, manusia berasal dari kampung halaman dan akan kembali ke kampung halaman. Manusia dilahirkan dan akan mengalami kematian. Selama menjalani kehidupan di dunia inilah mereka sedang menjalani masa perantauan.

Secara spiritual, manusia akan mudah menjawab jika ditanya siapa yang telah menciptakan manusia dan alam semesta, mereka akan menjawab : Tuhan. Kepercayaan dasar ini bersifat inherent [ghorizah tadayyun]. Bahkan manusia juga tidak bisa membantah `suara hatinya` bahwa kelak mereka akan kembali kepada Tuhan setelah kematian. Sebagaimana keyakinan mereka akan kampung halaman, tempat mereka dilahirkan.

Karena itu, bukanlah jadi masalah, keyakinan manusia akan sang Pencipta. Keyakinan ini ibarat yakinnya mereka akan keberadaan matahari di siang hari dan bulan di malam hari. Masalahlah adalah bagaimana memanfaatkan cahaya matahari, masalahnya adalah bagaimana menjalani hidup di tanah rantau, masalahnya adalah bagaimana menjalahi kehidupan di dunia ini.

Ternyata faktanya dari dahulu kala hingga zaman modern ini, tidak banyak manusia yang mampu memanfaatkan cahaya matahari dan tidak banyak manusia yang mampu menjalani hidup di dunia ini dengan benar. Itulah sebabnya tidak setiap orang yang berangkat merantau bisa pulang kampoeng dengan sukses. Di tanah rantau, banyak yang mengalami kegagalan.

Kenapa banyak orang mengalami kegagalan di tanah rantau, sebab mereka salah niat, tergoda di tanah rantau atau lupa akan kampung halaman. Mengapa banyak orang yang gagal dalam kehidupan di dunia, sebab mereka tidak menyadari dari mana berasal, untuk apa hidup dan hendak kemana setelah mati. Sesungguhnya hidup itu berasal dari Allah (QS Ar Rahman : 3), visi hidup di dunia adalah untuk ibadah kepada Allah (QS Adz Dzariyat : 56) dan setelah mati akan kembali kepada Allah (QS Yasin : 83).

Dalam filosofi pulang kampung, kehidupan dunia adalah sebuah usaha untuk mencari bekal dan tabungan yang akan dibawa ke kampung halaman yakni akhirat. Di kampung akherat ada surga dan neraka. Jika gagal dalam perantauan maka akan saat pulang ke akhirat akan masuk dikarantina di neraka, baik sementara maupun selamanya. Jika dalam perantauan sukses dengan tabungan iman dan takwa, maka pulang kampungnya akan masuk surga.

Nah, di bulan Ramadan inilah kesempatan emas untuk menambah bekal untuk pulang kampung, sebab Ramadan adalah bulan di mana Allah memberikan banyak bonus. Setiap amal ibadah di bulan Ramadan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah. Doa-doa yang dilantunkan akan diijabah oleh Allah. Bahkan ada satu malam yang nilainya sama dengan seribu bulan. Masyaallah, inilah bulan bertebaran berkah dan kebaikan. Perbanyaklah ibadah agar bisa mencukupi bekal pulang kampoeng yang sangat jauh, yakni surga di akhirat.

Selama Ramadan adalah kesempatan untuk menyiapkan pulang kampung secara lebih serius, sebab inilah kesempatan emas yang belum tentu akan terulang lagi. Surga adalah kampung halaman seorang muslim, di mana dahulu Nabi Adam AS berasal. Hidup di dunia adalah perantaun seorang muslim dengan membawa visi ibadah agar bisa kembali ke kampung halaman di surga. Selama Ramadan dan setelahnya perbanyaklah tilawah Alquran, salat sunnah malam, berzikir, bersedekah, salat lima waktu, menuntut ilmu dan memperbanyak silaturahmi serta amal saleh lainnya.

Hakekat visi ibadah dalam hidup adalah ketundukan total kepada hukum-hukum Allah dalam menjalankan seluruh aspek hidupnya di dunia. Ibadah harus berorientasi kepada meraih ridho Allah dan metodenya mengikuti Sunnah Rasulullah. Allah menurunkan Islam sebagai seperangkat hukum yang harus disaksikan, dipahami, diamalkan, diajarkan, didakwahkan, diperjuangkan, diterapkan negara dan disebarkan melalui dakwah dan jihad fi sabilillah. Lihatlah perjuangan Rasulullah dari komitmen kepada Allah hingga menegakkan daulah Islam di Madinah. Rasulullah adalah suri tauladan kita. (QS Al Ahzab : 21).

Kesuksesan seorang perantau adalah saat komitmen terhadap niat baik sejak awal berangkat dari kampung halaman, sehingga setelah pulang dia telah memiliki bekal yang cukup untuk membangun kampung halaman dan memberi manfaat bagi masyarakatnya. Jika di tanah rantau berubah jadi penjahat, maka mudik justru akan jadi bencana di kampung halamannya sendiri.

Kesuksesan seorang hamba Allah dalam hidup adalah saat komitmen terhadap visi hidup yang telah Allah gariskan sejak awal, sehingga setelah pulang kampung alias mati telah memiliki bekal yang cukup untuk memasuki surganya Allah. Jika dalam kehidupan dunia justru menjadi penjahat yang memusuhi dan merusak Islam, membangkang Allah, menolak syariah, maka nerakalah tempatnya di kampung akhirat.

Namun demikian, selama masih di tanah rantau masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri, sebelum pulang kampung. Masih ada kesempatan taubat selama masih diberikan usia, sebelum mati. Bagi muslim yang memuja sekulerisme dan menolak syariat, maka bertobatlah. Bagi kaum kafir yang membangkang Allah, maka masuklah Islam, sebagai jalan keselamatan agar sukses pulang kampung.

Karena itu bagi seluruh manusia dan kaum muslimin, terlebih rezim yang telah menyimpang dari Islam, bertaubatlah sebelum kita semua mudik ke akherat dan menghadapi hari perhitungan yang akan menetapkan posisi kita, apakah di surga atau sebagai penghuni neraka.

Selamat pulang kampung, semoga sukses dunia dan akherat.

(Kota Hujan, 24/04/20)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.