Minggu, 8 Desember 19

Rakyat Tanggung Utang Negara di Lakon Pemburu Utang

Rakyat Tanggung Utang Negara di Lakon Pemburu Utang
* Pemburu Utang. (Foto: Dok Indonesia Kita)

Lakon Pemburu Utang

Apa yang terjadi ketika Negara dinyatakan bangkrut karena utang yang terlalu menumpuk?

Kisah ini bermula dari situasi di suatu negara yang  tidak sanggup menanggung beban utang, dan  rakyat yang menanggung utang-utang negara. Setiap warga negara diwajibkan ikut membayar hutang. Setiap warga negara yang masih memiliki aset dan kekayaan, akan disita untuk menyelamatkan keutuhan negara. Karena situasi seperti itu maka seluruh rakyat memilih untuk menjadi miskin. Semua beramai-ramai membangkrutkan diri dan lebih memilih hidup menggelandang atau menjadi pengemis.

Tapi ketika menjadi pengemis dan gelandangan, mereka akan didenda. Bila tak mampu membayar denda itu maka mereka dianggap memiliki utang pada negara dan harus membayarnya dengan cara apapun, dicicil atau dikridit dengan bunga tinggi.

Dalam keadaan itu, muncul Partai Pengemis Nasional, yang beranggotakan seluruh orang miskin. Partai ini kemudian menyelenggarakan kongres besar dengan mengundang seluruh pengemis dan orang-orang miskin. Kongres memutuskan agar semua orang harus ikut membayar utang. Dan dibentuk petugas ‘Pemburu Utang’ yang bertugas menyita apapun barang berharga yang masih tersisa.

Sebenarnya, di antara pengemis dan orang-orang miskin itu ada banyak orang kaya dan berduit. Namun agar kekayaan mereka tak diambil ‘Pemburu Utang’ maka orang-orang kaya itu memilih pura-pura miskin. Setiap orang menjadi pingin terlihat paling miskin dan menderita. Masing-masing selalu menceritakan seluruh penderitaan dan kesusahannya. Semakin terlihat menderita dan susah, mereka malah terlihat makin hebat.

Karena semua ingin terlihat miskin, maka barang-barang mewah yang sebelumnya menjadi status sosial orang kaya, menjadi tak berarti. Yang dicari justru barang-barang atau benda-benda yang buruk, jelek, rusak, rombeng. Semakin rombeng barang itu, justru makin dicari. Baju-baju mewah dan bagus taka ada yang mau beli, tapi pakaian rombeng dan penuh tambalan justru disukai. Kemiskinan menjadi mode, kemiskinan menjadi lifestyle, semakin tampak miskin semakin modis dan bergaya.

Mereka tak menyadari  bahwa semua itu hanyalah proyek yang sedang dirancang agar orang-orang menikmati segala macam bentuk kemiskinan.  Ketika banyak yang menderita, selalu ada yang mengambil keuntungan dari penderitaan itu.

Siapakah mereka yang senang mengambil keuntungan dari penderitaan rakyat itu? Temukan jawabannya dalam lakon ‘Pemburu Utang’ dengan pesan yang sama ‘Jangan Kapok Menjadi Indonesia’.

Untuk diketahui, pentas Jalan Kebudayaan Jalan Kemanusiaan merupakan pentas yang ke-34 kali dari Indonesia Kita, dengan mengusung tema ‘Pemburu Utang’. Tim Kreatif dari pementasan ini adalah Butet Kartaredjasa, Agus Noor, dan Djaduk Ferianto.

Naskah & Sutradara pentas ini adalah Agus Noor. Sementara Penata Artistik Ong Hari Wahyu, Penata Tari dan penari Josh Marcy, Penata Musik Bintang Indrianto & Bianglala Voices. Sedangkan pemain dari lakon ini adalah Cak Lontong, Marwoto, Akbar, Mucle, Inaya Wahid, Yu Ningsih, Endah Laras, Sruti Respati, Heny Janawati, Encik Krishna, Wisben, Joned, Odon Saridon, dan Kiki Narendra. (Poy)

Pages: 1 2

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.