Rabu, 20 Oktober 21

Rakyat Muak dengan Partai Politik

Rakyat Muak dengan Partai Politik

Jakarta, Obsessionnews – Partai politik gagal mengelola gairah politik rakyat yang lahir dalam momentum pencalonan presiden 2014. Hal ini tampak pada kekecewan rakyat, terutama para relawan pendukung Jokowi di masa pilpres 2014, yang muncul pasca kisruh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri.

Jokowi diyakini oleh publik tak bisa mengambil keputusan tegas dan cepat karena dibawah kendali partai pendukung. Padahal kemunculan Jokowi bukan semata kerja mesin partai politik pendukung, tapi lebih pada kerja-kerja relawan yang bekerja tanpa membawa bendera partai.

Didalam buku ‘Berpolitik Tanpa Partai‘ hasil karya Kristin Samah dan Fransisca Ria Susanti mencatat bahwa gairah politik rakyat yang muncul dalam pilpres 2014 digerakan bukan oleh keyakinan pada kekuatan mesin parpol, tapi nilai-nilai antikorupsi, kejujuran dan kesederhanaan yang dibawa oleh Jokowi.

Salah satu penulis buku ‘Berpolitik Tanpa Partai’ Fransisca Ria Susanti mengatakan, situasi ini semestinya bisa menjadi introspeksi partai politik untuk bisa mewujudkan demokrasi yang lebih substansial. Namun faktanya, 100 hari pemerintahan Jokowi malah makin menggerus kepercayaan rakyat terhadap partai politik.

“Jika situasi saat ini dibiarkan berlarut-larut, rakyat akan benar-benar muak dengan partai politik dan meninggalkannya,” ujar Fransisca di Balai Sarwono, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (12/2/2015).

Menurut dia, kasus pencalonan Komjen Pol Budi Gunawan (BG) yang ditetapkan tersangka oleh KPK dan kasus penangkapan Bambang Widjojanto (BW) oleh Bareskrim Mabes Polri yang memicu kisruhnya KPK vs Polri yang berlarut-larut menjadi pemicu runtuhnya kepercayaan rakyat terhadap partai politik.

“Meski drama Polri – KPK memang belum berakhir, namun kekecewaan rakyat terhadap pemerintahan Jokowi dan apatisme terhadap partai politik, yang diyakini menjadi biang kerok kisruh pemerintahan terus membesar,” katanya.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi The Jakarta Pos Medyatama Suryodiningrat melihat bahwa partisipasi rakyat yang terlihat dalam pilpres 2014 telah membentuk budaya partisipatif dan politik kerakyatan yang sebelumnya tidak ada dalam hirarki kekuasaan Indonesia. (Purnomo)

Related posts