Minggu, 26 September 21

Raja Salman Angkat Anaknya, Pecat Keponakannya

Riyadh – Raja Arab Saudi, Salman, menunjuk puteranya yang berusia 31 tahun, Mohammed bin Salman, sebagai putera mahkota, menggantikan keponakannya yang dipecat, menyiratkan terjadinya perubahan di negeri itu.

Keputusan Raja Salman ini akan berarti bahwa Pangeran Mohammed bin Salman, 31, putra mahkota baru ini, akan menjadi wakil perdana menteri sekaligus melanjutkan jabatan semula sebagai menteri pertahanan.

Sedangkan putera mahkota sebelumnya, Pangeran Mohammed bin Naif, 57, juga dicopot dari perannya sebagai kepala keamanan dalam negeri, kata media pemerintah. Dia telah berjanji setia kepada pangeran mahkota yang baru, lapor kantor berita Arab Saudi, SPA.

Raja Salman, 81, naik tahta pada bulan Januari 2015 setelah meninggalnya saudara tirinya Abdullah bin Abdul Aziz. Raja-raja Arab Saudi biasanya mulai memerintah di usia 70an atau 80an.

Promosi Pangeran Mohammed bin Salman ini, dan peningkatan perannya yang begitu cepat, dilihat oleh generasi muda sebagai pertanda terjadinya perubahan di kerajaan ultra konservatif itu

Kudeta Lunak Raja Salman
Pengumuman lengsernya Muhammad bin Nayef dari posisi putera mahkota Arab Saudi menjadikan Muhammad bin Salman semakin kuat untuk melenggang sebagai pengganti ayahnya, raja Salman bin Abdul Aziz.

Televisi Al-Arabia memberitakan pengumuman penggantian putera mahkota dari Muhammad bin Nayef kepada Muhammad bin Salman. Berita ini memperkuat rumor sebelumnya yang berkembang tentang manuver Raja Salman bin Abdul Aziz untuk mempersiapkan anaknya, Muhammad bin Salman sebagai pengganti dirinya. Sejak beberapa bulan lalu, sebagian pos jabatan yang dipegang oleh Muhammad bin Nayef telah ditanggalkan satu-persatu.

Pencopotan Muhammad bin Nayef dari jabatan putera mahkota disusul sejumlah langkah raja Salman mengganti empat pos penting penasehat kerajaan. Dari keempat jabatan penasehat itu, dua berasal dari keluarga Al Sheikh yang memiliki hubungan dengan Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri Wahabisme.

Seluruh rangkaian perubahan posisi penting di tubuh rezim Al Saud terjadi pasca munculnya friksi antara Riyadh dan Doha. Raja Salman memanfaatkan situasi keruh tersebut demi kepentingan mewujudkan ambisinya menggeser Muhammad bin Nayef diganti anaknya, Muhammad bin Salman.

Langkah raja Salman ini dilakukan tidak lama setelah presiden AS, Donald Trump mengunjungi Arab Saudi. Tampaknya, Washington memberi lampu hijau kepada Raja Salman untuk melakukan “kudeta lunak” menempatkan anaknya sendiri sebagai putera mahkota. Sebagian analis politik menilai sambutan besar Raja Salman terhadap Trump dan kontrak bernilai miliaran dolar di bidang militer dan ekonomi sebagai pelumas untuk mendapatkan restu dari Gedung Putih atas manuver politiknya.

Perombakan tatanan kekuasaan yang dilakukan Raja Salman bertentangan dengan piagam Al Saud sekaligus wasiat raja Abdul Aziz, pendiri kerajaan Arab Saudi. Berdasarkan wasiat tersebut, transisi kekuasaan dilakukan bukan oleh ayah kepada anak, tapi dari saudara kepada saudara lainnya, dan selama anak-anaknya masih hidup, kekuasaan tidak diberikan kepada generasi ketiga dari para pangeran. Pertarungan perebutan kekuasaan di tubuh rezim Al Saud terjadi sejak tahun 1932, dan terus berlanjut hingga kini.

Struktur kekuasan rezim Al Saud selama ini diperebutkan oleh dua klan besar, Sudairi dan Shamiri. Raja-raja yang bertahta sebelum kematian Abdul Aziz, tiga di antaranya dari klan Sudairi, termasuk Salman. Kini dengan naiknya Muhammad bin Salman sebagai putera mahkota, maka klan Sudairilah yang akan mengisi jabatan raja rezim Al Saud. Tapi tampaknya klain Shamiri tidak akan tinggal diam menghadapi fenomena ini. Oleh karena itu, ke depan pertarungan perebutan kekuasaan di tubuh rezim tribal ini akan semakin sengit dan terang-terangan. (bbc.com/ParsToday)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.