Rabu, 29 September 21

Raih Hadiah di Hari Kemenangan

Oleh: Agus Mustofa, Penulis buku-buku “Serial Diskusi Tasawuf Modern”

 

Tiada ungkapan paling indah yang pantas kita lantunkan di hari terakhir Ramadhan 1438 H, kecuali ucapan syukur kepada Allah Sang Maha Pemurah. Segala kemuliaan dan keagungan hanya milik Allah Penguasa Jagat Raya. Yang dengan perkenan-Nya, hari ini kita memasuki puasa hari ke-29: Alhamdulillah. Semoga seluruh amalan kita sepanjang bulan suci memperoleh ridha-Nya.

Seiring dengan tenggelamnya matahari di petang hari nanti, usailah seluruh rangkaian ibadah puasa Ramadan tahun ini. Takbir, tahlil dan tahmid bersahut-sahutan menyambut hari kemenangan Idul Fitri:

Allahu akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar … Laa ilaaha illallaahu allaahu akbar … Allahu akbar walillahilhamd…!

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar … Tidak ada tuhan kecuali Allah yang Maha Besar … Allah Maha Besar dan hanya bagi DIA-lah segala puja-puji dipersembahkan ..!

Inilah hari kemenangan bagi para shaimin, yang telah berjuang keras tanpa mengenal lelah dan putus asa, untuk memenuhi perintah Tuhannya. Berpuasa dengan segala rangkaian ibadah yang menyertainya, sepanjang bulan Ramadan, demi meningkatkan kualitas diri menjadi orang yang bertakwa. Persis seperti diajarkan dalam Qs. 2: 183 ~ “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana orang-orang dahulu berpuasa, agar kalian menjadi orang yang BERTAKWA.”

Kenapa kita disuruh berjuang dan melatih diri menjadi orang yang bertakwa? Karena, ketakwaan adalah satu-satunya cara agar hidup kita selalu berada di jalan Allah. Qs. Al Baqarah (2): 5 ~ “Ulaaika ‘ala hudan mirrabihim, wa ulaaika humul muflihun – Mereka itulah orang-orang yang selalu berada di atas petunjuk Tuhannya. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.”

Ya, orang yang bertakwa adalah orang-orang yang selalu berada di atas petunjuk Allah. Dan Karena itu, hidupnya selalu di atas jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang diberi nikmat. Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai-Nya dan bukan jalannya orang yang tersesat. Ketakwaan adalah buah dari keberhasilan puasa selama satu bulan Ramadan.

Maka, Allah mengaruniakan empat hadiah kepada orang-orang yang menang itu. Yang pertama, Allah bakal memberikan solusi atas segala permasalahan hidupnya. “Wa man yyataqillaha yaj’al lahu mahraja – Barangsiapa bertakwa kepada Allah, (maka) Allah bakal menjadikan baginya jalan keluar atas semua permasalahannya.” [Qs. Ath Thalaaq (65): 2]

Yang kedua, Allah bakal memberi rezeki dari arah yang tidak diduganya. “Wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib – Dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” [Qs. Ath Thalaaq (65): 3]

Yang ketiga, Allah bakal memudahkan perjalanan hidupnya. “Wa man yyataqillaha yaj’al lahu min amrihi yusra – Barangsiapa bertakwa kepada Allah, (maka) Allah akan memudahkan segala urusannya.” [Qs. Ath Thalaaq (65): 4]

Dan yang keempat, Allah bakal mengampuni segala dosanya serta melipatkangandakan pahala kebajikannya. “Wa man yyatqillaha yukaffir’anhu sayyi’atihi wayu’zhim lahu ajra – Barangsiapa bertakwa kepada Allah, (maka) Allah mengampuni dosa-dosanya serta membesarkan pahalanya.” [Qs. Ath Thalaaq (65): 5]

Betapa luar biasanya hadiah yang disiapkan Allah bagi orang-orang bertakwa. Yakni, orang-orang yang sukses menjalankan puasa selama bulan suci yang penuh berkah. Bukan hanya di bulan suci hadiah itu dikaruniakan, melainkan justru ketika para shaimin sudah berada di luar Ramadan. Tentu saja, selama kita masih bisa istiqomah di dalam ketakwaan, sebagaimana saat menjalankan ibadah puasa.

Akhirnya, usailah seluruh rangkaian ibadah Ramadan kita. Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita semua, dan mengampuni segala dosa dan kesalahan. (*)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.