Rabu, 1 Februari 23

Raharjo Adisusanto, Nothing Impossible!

Raharjo Adisusanto, Nothing Impossible!
* Direktur Utama SMF, Raharjo Adisusanto.

Obsessionnews – Menjabat Direktur Utama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF sejak 2011 lalu, Raharjo Adisusanto berhasil membawa perusahaan berlari kencang. Di bawah kepemimpinannya, SMF mencatat kinerja gemilang. Selain semakin dipercaya oleh para penyalur KPR, SMF juga berhasil mencapai kinerja membanggakan. Tak hanya itu, SMF bahkan berhasil menerbitkan EBA-SP untuk yang pertama di Indonesia. Penuh perjuangan memang, namun ia berhasil mencapai itu semua karena baginya Nothing Impossible.

Mendukung program satu juta rumah yang dicanangkan pemerintah, SMF sebagai pembiayaan sekunder perumahan, mengemban visi menjadi entitas mandiri yang mendukung kepemilikan rumah layak dan terjangkau bagi setiap keluarga Indonesia, dengan misi antaranya membangun dan mengembangkan pasar pembiayaan sekunder perumahan, dan meningkatkan tersedianya sumber dana jangka panjang. Visi misi tersebut dapat terwujud dengan cara mengalirkan dana jangka panjang dari pasar modal ke sektor perumahan melalui kegiatan sekuritisasi dan penyaluran pinjaman.

Sepanjang 2015, SMF sukses meningkatkan aliran dana jangka panjang. SMF berhasil mengalirkan dana dari pasar modal ke penyalur KPR di sektor pembiayaan perumahan, melalui sekuritisasi dan penyaluran pinjaman yang mencapai Rp.3,71 triliun. Secara kumulatif, total akumulasi dana yang dialirkan sampai dengan 31 Desember 2015, mencapai Rp.20,25 triliun, meningkat sebesar 22% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp.16,54 triliun. Dari total akumulasi dana tersebut, sebanyak Rp.5,7triliun digunakan untuk mendukung program KPR-FLPP, KPR program pemerintah.

Jika dilihat dari pertumbuhan rata-rata kumulasi selama lima tahun, dari tahun 2010 hingga akhir 2015, SMF mengalami peningkatan hingga 43,74%, yang mana terus mengalami peningkatan dari 2010 sebesar Rp.3.301triliun, 2011 sebesar Rp.5.258 triliun, 2012 sebesar Rp.8.501triliun, 2013 sebesar Rp.12.017 triliun, dan 2014 sebesar Rp.16.546 triliun. Per akhir 2015 meningkat lagi menjadi Rp.20.252 triliun. “Tingkat pertumbuhan rata-rata kumulasi selama 5 tahun sekitar 43,74%. Itu artinya kan di atas industri perbankan. Itu kontribusi kita, meningkatnya tajam,” ungkap Raharjo saat ditemui Men’s Obsession di grha SMF, beberapa waktu lalu.

Raharjo - 2Peningkatan kinerja SMF tahun 2015 dicapai melalui kegiatan sekuritisasi sebesar Rp.200miliar, dan penyaluran pinjaman sebesar Rp.3,51triliun sehingga asset SMF di tahun 2015 mencapai Rp.10,06triliun. Posisi penyaluran pinjaman menjadi Rp.7,84 triliun, meningkat 21% dari tahun sebelumnya sebesar Rp.6,50triliun. Adapun laba bersih di tahun 2015 mencapai Rp.249miliar, meningkat 44% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp.173miliar. Raharjo menyampaikan, pencapaian tersebut terbilang cukup baik, apalagi jika mengingat kondisi ekonomi dalam negeri yang sempat melambat di tahun 2015.

Ya, menghadapi kondisi ekonomi kala itu, Raharjo memang bekerja ekstra keras, “Saya jungkir balik sama teman teman dan alhamdulillah berhasil. Artinya apa, dengan usaha yang luar biasa alhamdulillah pinjaman ke SMF bisa ditanggulangi. Dan alhamdulillah lagi kita menyasar masyarakat menengah bawah. Ketika melambat, dampak kepada menengah bawah ini tidak sebesar menengah atas. Beberapa developer lari dari rumah mewah turun ke menengah, itu fakta. BTN yang bermain di menengah ke bawah malah profitnya naik,” terangnya penuh rasa syukur.

Yang juga membanggakan dan menjadi satu pencapaian yang spektakuler, SMF berhasil mempertegas perannya dalam menjalankan kegiatan sekuritisasi sebagai penerbit Efek Berangun Aset berbentuk Surat Partisipasi (EBA – SP) pertama, dengan pencatatan perdana EBA-SP KPR, “SMF-BTN01” senilai Rp.200miliar di pasar modal. Dalam skema EBA-SP tersebut, peran SMF sebagai penerbit sekaligus penata sekuritisasi, pendukung kredit, dan investor. Hal tersebut sesuai mandat pendirian SMF dalam Pepres 1/2008 Jo.19/2005, serta Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No.23/POJK.04/2014, sekaligus memperkuat pasar keuangan Indonesia, serta mendukung pengembangan basis investor domestik.

“Ketika saya baru bergabung di SMF, saya tanya apa yang belum dicapai, yaitu kita menjadi penerbit EBA-SP. Kemudian saya terus berpikir ini harus berhasil. Bukan hal yang mudah untuk mewujudkannya, penuh perjuangan, bahkan saya harus turun juga, tapi Alhamdulillah akhirnya berhasil. EBA-SP hanya satu tahun produknya langsung pecah telur. Hasil perjuangan kami dan usaha kami, sehingga perjalanannya, 20 febr kami menerima mandat,” ungkap Raharjo, bangga.

Hingga Desember 2015 SMF mengucurkan total dana sebesar Rp.14,6triliun yang disalurkan ke beberapa perbankan, baik bank umum, seperti Bank BTN dan Bank DKI, dan Bank Syariah seperti, Bank Muamalat, Bank BTN Syariah, Bank Mandiri Syariah, Bank BNI Syariah, Bank BRI Syariah, dan Bank BJB Syariah. Tak ketinggalan Bank Pembangunan Daerah (BDP), yang animonya meningkat sepanjang 2015, yaitu, Bank Nagari (BPD Sumbar), BPD NTB, BPD Kalsel, BPD Kalbar, BPD DIY, BPD Jateng, dan BPD Sumut.

Selain perbankan, dana tersebut juga disalurkan kepada perusahaan pembiayaan non perbankan, seperti, MNC Finance, Finansia Multifinance, dan Ciptadana Multifinance. SMF juga tengah melakukan penandatanganan MoU terkait program peningkatan Kapasitas Penyaluran Kredit bersama BPD lainnya, yaitu, BPD Bali, BPD Riau Kepri, BPD Sulselbar, BPD Sultra, BPD NTT, plus MoU dengan satu perusahaan pembiayaan yaitu Indomobil Multifinance.

 

Memimpin dengan Partisipatif Demokratis

Sejak kali pertama diberi amanah memimpin SMF pada 2011 lalu, dengan penuh percaya diri dan optimis, Raharjo mencoba mengubah mindset dan memotivasi teamnya bahwa semua bisa dicapai dengan kerja keras dan pantang menyerah. “Itu yang saya terapkan, karena bagi saya nothing impossible. Saya punya keyakinan segala sesuatu itu mungkin, maka saya juga harus menularkan itu,” tegas pria yang hobi traveling dan golf ini.

Dengan penuh semangat, ia pun merangkul teamnya untuk bersama-sama membuat SMF berlari kencang dengan menerapkan konsep manajemen partisipatif dan kepemimpinan demokratis. Manajemen partisipatif adalah mengajak seluruh karyawan turut berpartisipasi dalam memecahkan masalah. Dengan begitu, Raharjo yakin semua masalah dan tantangan dapat terpecahkan.

Kemudian kepemimpinan demokratis dalam arti, Raharjo memimpin dengan terbuka pada siapapun juga, tanpa ada sekat birokrasi. “Jadi artinya bisa hubungi saya anytime 24 jam jika ada yang urgent, masuk ke ruangan saya anytime, ruangan saya selalu terbuka. Silahkan kalau perlu langsung ke saya, no problem. Itu menciptakan semangat juga bagi mereka para Kabag, nggak perlu sungkan atau takut padahal urgent. Nah itu konsep untuk memaksimalkan produktivitas SDM,” beber ayah dua putri ini. [] (Naskah: Suci Yulianita/Men’s Obsession)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.