Rabu, 20 Oktober 21

Quraish Shihab Tak Peduli Dicap Soehartois

Quraish Shihab Tak Peduli Dicap Soehartois
* Cendekiawan Muslim M Quraish Shihab (kiri) dalam acara peluncuran dan bedah buku biografinya, Cahaya, Cinta, dan Canda M Quraish Shihab, di Gramedia Matraman, Jakarta, Rabu (8/7/2015). .

Jakarta, Obsessionnews – Tak ada yang abadi di dunia ini. Contohnya Soeharto. Setelah 32 tahun berkuasa ia terpaksa meletakkan jabatannya sebagai presiden oleh gerakan reformasi pada Kamis, 21 Mei 1998 siang. (Baca: Layakkah Soeharto Dapat Gelar Pahlawan Nasional?)

Setelah lengser keprabon Jenderal Besar itu benar-benar menjadi pesakitan. Ia dihujani hujatan. Tuntutan untuk menyeretnya ke pengadilan semakin kencang. (Baca: Stabilitas Ekonomi Era Soeharto Lebih Stabil)

Batin Soeharto semakin tertekan, karena orang-orang dekatnya atau yang mengaku dekat dengannya saat dia berkuasa tiba-tiba menjauh.

“Boleh jadi karena takut dianggap Soehartois atau tak lagi mendapat keuntungan,” kata cendekiawan Muslim M Quraish Shihab dalam acara peluncuran dan bedah buku biografinya, Cahaya, Cinta, dan Canda M Quraish Shihab, di Gramedia Matraman, Jakarta, Rabu (8/7/2015). Buku biografi yang diterbitkan Lentera Hati ini ditulis oleh Mauluddin Anwar, Latief Siregar, dan Hadi Mustofa.

Buku ini menceritakan perjalanan hidup ahli tafsir dan mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu sejak masa kanak-kanak yang nakal, saat di pesantren, menuntut ilmu di Mesir, hingga sosoknya kini. Di akhir setiap bab, diselipkan mutiara pemikirannya.

Soeharto mengangkat Quraish sebagai Menteri Agama Kabinet Pembangunan VII pada Maret 1998. Belum banyak yang dilakukan Quraish, karena dua bulan kemudian pemerintahan Orde Baru tumbang. Wakil Presiden BJ Habibie naik kelas menjadi Presiden, menggantikan Soeharto. BJ Habibie membentuk Kabinet Reformasi Pembangunan, dan tak mengikutsertakan Quraish dalam kabinet itu.

Quraish salah seorang yang tetap setia mendampingi Soeharto hingga dalam posisi sulit sekali pun. Bahkan hubungannya dengan Presiden kedua Indonesia itu semakin dekat.

“Dulu saya sering datang dan bicara tentang keagamaan kepada Pak Harto dan keluarganya. Sekarang ketika posisinya sulit, tidaklah etis dari sisi agama untuk memutus hubungan. Saya tidak peduli orang akan mencap saya Soehartois,” katanya. (ARH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.