Jumat, 27 Mei 22

Punya Segudang Permainan, Pramuka Sumbernya Obat Trauma Healing

Punya Segudang Permainan, Pramuka Sumbernya Obat Trauma Healing
* Para anggota Pramuka yang tengah mengikuti materi trauma healing‎ dalam kemah bakti Pramuka Peduli tingkat nasional di Garut, Jawa Barat, Kamis (22/12/2016).

Garut, Obsessionnews.com – Aula Gedung Sudirman di asrama Yonif Kostrad 303 Tengkorak Putih, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada Rabu (21/12/2016) sore tampak ramai diisi oleh anggota Pramuka yang tengah mengikuti materi trauma healing‎ dalam kemah bakti Pramuka Peduli tingkat nasional.

Mereka sangat riang menyimak dan mengikuti arahan Suyatno, Kepala Pusdiklatnas Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, yang menjadi pemateri dalam acara tersebut dengan menyanyi bersama-sama lagu kebanggaan anak Pramuka “Apa Guna Keluh Kesah” dan “Pramuka Tak Kenal Rintangan”

Suyatno mengatakan, dalam traume healing dibutuhkan keahlian seseorang untuk menghibur para korban bencana yang terkena trauma hebat melalui metode bermain dan bernyanyi. ‎Dan Pramuka dinilai punya modal kuat untuk melakukan itu, karena di Pramuka punya segudang permainan.

‎”Pesan yang ingin kita sampaikan adalah bahwa anak-anak Pramuka mampu menjadi pemulih trauma pasca bencana. Pramuka ini sumbernya obat untuk traume healing ini. Tapi kita jarang memanfaatkannya. Padahal kita punya segudang permainan,” ujar Suyatno, di lokasi.

Menurutnya, saat terjadi bencana maka akan terjadi trauma yang kuat di masyarakat. Penanganan bencana seperti evakuasi korban bukan satu-satu hal yang harus dilakukan oleh Satgas Pramuka Peduli, tapi lebih dari itu Pramuka harus bisa mengangkat beban psikologis para korban. Sebab, korban yang paling parah sebenarnya bukan luka fisik, tapi trauma.

‎”Jadi kalau bencana sebenarnya ‎sisi trauma healing ini yang bisa ditangani anak-anak pramuka karena anak-anak pramuka itu kan kaya permainan, kaya lagu dan kaya gerakan. Nah, itu kalau diterapkan sama anak-anak yang kena bencana atau orang tua saya yakin trauma masyarakat akan cepat pulih,” terangnya.

Guru besar Universitas Negeri Surabaya ini mengatakan, mengapa permainan itu penting, karena permainan itu bersifat asosiatif, yakni memindahkan hal-hal yang tidak nyata kedalam‎ iklim lain. Artinya permainan bisa dilakukan ke masyarakat karena penuh dengan simbol.

“Orang itu kalau tidak faktual itu lebih seneng. Jadi orang itu lebih suka bahasa simbol dari pada bahasa kenyataan, dan permainan itu penuh simbol. Jadi semisal akan bermain tentang harimau padahal itu tentang diri dia, tapi disimbolkan dalam bentuk harimau, dan anak-anak pramuka itu pandai sekali soal itu memaikan simbol,” paparnya.

Belajar dan bermain adalah seni, bisa dilakukan secara kelompok atau di alam terbuka. Bila, Pramuka bisa memanfaatkan itu, Kak Suyatno yakin kedepan Pramuka mampu menghasilkan para relawan yang siap membantu memulihkan trauma kepada masyarakat yang terkena bencana alam.

“Karena kerelawanan dalam arti luas adalah ikhlas berbagi, ikhlas berbagi itu cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Kepedulian itu sudah relawan,” jelas Suyatno yang juga Wakil Ketua Abdimasgana di Kwarda Jawa Timur.

‎”Jadi relawan itu tidak perlu diartikan berat membantu orang lain sekuat tenaga. Itu enggak, relawan itu ikhlas berbagi ketika dia senyum kepada orang lain itu sudah relawan. Ketika dia menghargai pendapatnya itu sudah relawan,” imbuhnya.

Diketahui, kegiatan kemah Pramuka Peduli ini diikuti empat orang Pramuka Penegak atau Pandega dari 34 Kwarda dengan jumlah 350 orang. Masing-masing terdiri dari dua peserta putra dan dua peserta putri serta satu orang pembina pendamping. ‎ Kemah akan berlangsung 21-23 Desember 2016. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.