Kamis, 21 Oktober 21

PT Virtue Dragon, Perusahaan Asal China Bercokol di Sultra

PT Virtue Dragon, Perusahaan Asal China Bercokol di Sultra
* PT Virtue Dragon Nickel Industry. (Foto: Dokumen Kemenprin)

Jakarta, Obsessionnews.com – Di tengah masa keprihatinan ini karena adanya wabah virus corona, pemerintah malah melakukan kebijakan yang blunder, khususnya menyangkut rencana kedatangan sebanyak 500 Tenaga Kerja Asing (TKA) di Sulawesi Tenggara.

Baik, Gubernur Sultra, Pemda maupun DPRD Sulawesi Tenggara sepakat menolak kedatangan WNA China tersebut ke lokasi perusahaan pemurnian ( smelter) di Morosi, Kabupaten Konawe. Mereka menolak para TKA China karena menghormati kondisi kebatinan masyarakat.

Diketahui para TKA China ini akan bekerja di dua perusahaan, yakni PT Virtue Dragon Nickel Industry dan PT Obsidian Stainless Steel yang berlokasi di Sulawesi Tenggara. Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) berasalan tidak ada pekerja lokal yang mampu mengerjakan sesuai permintaan perusahaan.

Karena alasan ketidakcukupan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk membangun pabrik smelter di Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), maka Kemenaker pun akhirnya menyetujui Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) tersebut.

Lalu siapa pemilik PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI), dan berapa lama perusahaan itu bercokol di Sultra?

PT. Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) diketahui merupakan perusahaan berstatus Penanaman Modal Asing (PMA) yang berdiri sejak Agustus 2014. Atau setelah Indonesia selesai mengadakan hajatan Pilpres 2014.

Perusahaan ini berkantor pusat di Jakarta dan memiliki kantor cabang di Kendari, Sulawesi Tenggara. Induk perusahaan ini adalah De Long Nickel Co.LTD di JiangSu, China dan memiliki wilayah operasi di Konawe, Sulawesi Tenggara.

Melansir Kontan, 9 Januari 2015, perusahaan pengolahan feronikel ini menginvestasikan 5 miliar dollar AS atau Rp 75 triliun untuk membangun pabrik feronikel di kawasan industri Konawe di Sulawesi Tenggara.

Selain untuk bangun smelter pengolahan feronikel, perusahaan juga akan membangun infrastruktur penunjang seperti pembangkit listrik dan pelabuhan sendiri.

“Kami akan membangun smelter hingga 2020 dengan kapasitas total 3 juta ton feronikel per tahun. Selain itu kami juga akan bangun pembangkit listrik dan pelabuhan sendiri,” ujar Andrew Zhu, President Director Virtue Dragon Nickel Industry, Jumat, (9/1/2015).

Ia menjelaskan nilai tersebut merupakan nilai total investasi untuk membeli 500 hektar lahan, membangun smelter pengolahan feronikel, pembangkit listrik, dan pelabuhan.

Perusahaan akan membangun pembangkit listrik untuk kebutuhan investasi tahap pertama dengan kapasitas 335 megawatt.

Adapun untuk pembangkit listrik untuk investasi tahap kedua dan ketiga, masih akan dihitung dan dibangun menyusul. Perusahaan juga berencana untuk membangun pelabuhan dengan kapasitas muatan hingga 50.000 ton.

Sesuai data dari Kontan pada, 6 Juli 2017, saat ini Virtue Dragon hanya mengantongi perizinan untuk dua fase pembangunan industri nikel.

Fase pertama seluas 500 ha dengan investasi senilai 1 miliar dollar AS, yang kedua seluas 700 ha dengan investasi senilai 2,5 miliar dollar AS.

Namun, Virtue Dragon mengajukan penambahan lahan seluas 1.000 ha dengan total pengajuan izin pengelolaan lahan seluas 2.200 ha untuk dibangun Virtue Dragon Industrial Park.

Tetapi permasalahnnya, lahan yang diajukan perusahaan nikel asal China tersebut harus menggeser lahan pertanian pangan berkelanjutan.

Pemerintah pun berniat berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk mencarikan wilayah pertanian pengganti.

Sementara itu, Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM Bambang Gatot mengungkapkan corona telah berdampak terhadap PT Virtue Dragon Nickel Industry di Konawe, Sulawesi Tenggara.

Menurut Bambang, pengerjaan konstruksi proyek pengembangan smelter stainless steel Virtue Dragon terganggu lantaran ratusan pekerja yang berasal dari China belum bisa kembali mengerjakan proyek.

“Virtue Dragon mengembangkan pabrik baja stainless steel. Mereka terganggu karena lebih dari 300 atau 400-an pekerja belum kembali,” kata Bambang dalam Coffe Morning yang digelar di kantornya, Kamis (12/3).

Bambang menyebut proyek smelter yang sudah beroperasi kemungkinan tidak akan mengalami gangguan. Hanya saja, untuk proyek yang sedang konstruksi, Bambang tak menutup potensi akan terganggu oleh wabah corona.

Mengingat banyak smelter yang bekerja sama dengan perusahaan China dan memakai tenaga kerja dari Negeri Tirai Bambu itu. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.