Minggu, 3 Juli 22

PSI

PSI

Oleh: Tsamara Amany Alatas, Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI)

 

Delapan bulan. Sudah delapan bulan saya bergabung dengan PSI. Partai politik milik anak muda yang pengurusnya 70% di bawah 33 tahun dan 42% di antara mereka adalah perempuan.

Sejak bergabung, saya pergi ke beberapa daerah untuk bertemu bro dan sis pengurus. Di PSI, kami memanggil siapapun dengan panggilan bro dan sis. Tak peduli itu Ketua Umum, Sekjend, Ketua DPP, Ketua DPW, Ketua DPD. Apapun itu, kita adalah saudara, kita adalah bro dan sis.

Saya pergi ke Jawa Timur. Di sebuah cafe kecil di Surabaya, kami melakukan kopdarwil (Kopi Darat Wilayah). Saat itu bulan Ramadhan, kita semua sedang berpuasa. Udara juga lumayan terik. Tapi jauh-jauh mereka datang dari berbagai wilayah di Jawa Timur untuk mendengarkan arah PSI ke depan, untuk ikut menceritakan apa yang sudah mereka lakukan di daerah masing-masing.

Di Sumatera Utara, saya dan Sis Grace Natalie sempat harus berhenti di tengah jalan. Ketika itu kami dari Toba dan hendak kembali ke Medan. Tepatnya kami berhenti di Kabupaten Karo. Kami menepi karena pengurus PSI Karo mengejar mobil kami hanya untuk memberikan kain khas daerahnya.

Seorang pengurus dari Langkat, Sumatera Utara susah payah membawakan kami jambu yang ia tanam di kebunnya sendiri ketika Kopdarwil. “Titip juga untuk Sis Isyana,” kata bro Meidy, Ketua DPD Langkat. Sis Isyana, salah satu Ketua DPP kami, memang suka sekali dengan jambu tersebut.

Pengurus PSI di daerah sangat sederhana. Tapi mereka tidak pernah mengeluh. Justru kalau kami ke daerah, mereka menyambut dengan luar biasa. Kadang suka merasa tak enak sendiri. Jujur kami tak bisa memberi apa-apa selain janji bahwa kita akan selalu bersama dalam perjuangan ini.

Seorang Bapak tua, relawan dan simpatisan PSI di Sumatera Utara, mendesain motornya dengan logo PSI. Motor yang bersejarah. Sang Bapak mengantarkan berkas-berkas verifikasi KPU dengan motor itu. “Yang lain pake mobil, kami di PSI pake motor ini,” kata salah seorang pengurus dengan bangga. Iya, dengan bangga.

Ketika menginjakkan kaki di Bali, saya melihat kantor PSI di sana. Seorang advokat, bro Adi namanya, menjadi Ketua Bali. Kantor advokatnya ia sumbangkan untuk menjadi kantor PSI. Lantai bawah adalah tempat bro dan sis bergelut dengan berkas-berkas verifikasi. Lantai atasnya adalah kantor Bro Adi sebagai seorang advokat beracara.

Saya terbang ke Jawa Tengah. Sampailah di kantor PSI setempat. Kami melakukan Kopdarwil secara sederhana di pendopo kantor. Hujan deras datang. Pendopo pun basah kuyup. Tapi semua tetap tersenyum. Tidak ada yang mengeluh. Kami tetap asyik membicarakan proses verifikasi KPU dan pencalegan.

Di Solo, seorang mahasiswa yang usianya tak beda jauh dengan saya, menjadi Ketua DPD. Bro Bilal baru berusia 23 tahun dan kini sedang menyelesaikan skripsinya. Tapi ia sudah punya konsep bagaimana cara meraup suara untuk PSI di Solo. Seharian berbincang dengannya, ia menceritakan politik Solo dengan sangat detail.

Ini hanya sebagian saja. Banyak cerita-cerita menarik lainnya. Militansi mereka untuk PSI tidak perlu diragukan lagi. Sungguh, kalau melihat perjuangan bro dan sis di daerah ini, saya merasa belum apa-apa.

Selama delapan bulan ini, saya belajar banyak dari mereka tentang arti perjuangan. Karena mereka, saya optimis dengan Indonesia hari ini.

Mereka bukan orang-orang yang dibayar. Mereka berjuang dengan sepenuh hati. Mereka bisa memilih jalan lain, tapi mereka memilih berjuang bersama PSI. Tak terhitung tenaga dan waktu yang mereka habiskan untuk memastikan PSI bisa ikut Pemilu 2019.

Itulah mengapa di PSI, tak ada pemilik saham tunggal. Semua orang punya saham. Di PSI, tidak ada instruksi. Yang ada adalah diskusi.

Mungkin bagi orang-orang yang biasa melakukan semuanya dengan uang, hal seperti ini sulit dipahami. Tapi inilah kenyataannya.

Politik partisipatif sudah riil dilakukan oleh PSI. Itu alasan mengapa PSI menjadi satu-satunya partai politik yang lolos verifikasi kemenkumham dan berhasil lolos verifikasi administrasi KPU.

Kalau ditanya, apa momen terbaik saya pada tahun 2017 ini? Maka saya akan menjawab dengan tegas dan lantang: bergabung dengan PSI.

Inilah partai politik yang membuat saya jatuh cinta. Di PSI, berjuang untuk Indonesia dengan idealisme bukanlah mimpi di siang bolong belaka.

Saya percaya kini anak-anak muda PSI sedang menulis sejarah dalam politik Indonesia. Saya tak minta apapun. Saya hanya ingin menjadi bagian kecil dari sejarah yang ditulis para anak muda hebat PSI dari Sabang sampai Merauke.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.