Minggu, 26 Juni 22

PSG Beri Panggung Sempurna: Jangan Tangisi Messi, Barca!

PSG Beri Panggung Sempurna: Jangan Tangisi Messi, Barca!
* Lionel Messi di PSG. (Getty/Goal)

Adegan itu bisa saja langsung lolos dari musikal milik komposer dan produser terkenal asal Inggris Andrew Lloyd Webber.

Sang striker meneteskan air mata setelah pergi dari Camp Nou, tetapi semuanya sudah siap di Paris agar dirinya memenangkan gelar Liga Champions.

Baru tiba di Paris pada Selasa (10/8/2021), Lionel Messi memanfaatkan momen “Evita-nya” – sebuah musikal milik Andrew Lloyd – saat dia keluar ke balkon hotelnya untuk memberi hormat kepada massa yang berkerumun di bawah.

Seseorang akan dimaafkan jika mengira pemain Argentina itu akan menghibur orang banyak dengan lagu: “Don’t Cry for me”, dan Barcelona jelas akan menjadi yang paling tepat.

Tetapi dengan meninggalkan Camp Nou setelah 21 musim yang luar biasa, Messi, dalam satu langkah, mengubah arah La Liga dan Ligue 1, serta mengubah sepakbola seperti yang kita yakini, itu memang bisa saja terjadi.

Peristiwa pada pekan lalu sulit untuk dicerna.

Terlepas dari peristiwa musim panas tahun lalu, dan burofax – salah satu servis dari perusahaan layanan pos milik negara Spanyol – yang terkenal itu, masih sulit membayangkan Messi akan meninggalkan rumahnya.

Barcelona memeluk Messi sejak awal. Klub sangat ingin mengontraknya sehingga kesepakatan pertama ditandatangani di samping serbet bar, sementara mereka juga berkomitmen untuk membayar perawatan hormonnya yang vital dan mahal.

Charly Rexach – orang Barca pertama yang menemukan La Pulga di Argentina – tidak pernah ragu untuk memboyongnya dan terkejut bahwa itu semua akan terbayar dengan spektakuler, begitu yakinnya dia akan bakat unik Messi setelah menyaksikan pemain berusia 13 tahun itu beraksi untuk pertama kalinya selama uji coba singkat.

“Dia ada di sana selama 15 menit, tapi itu terlalu banyak. 14 menit mungkin,” kenang mantan pelatih tim yunior itu. “Bahkan jika ada makhluk Mars berjalan melewatinya, mereka juga akan menyadari bahwa kami memiliki sesuatu yang istimewa.”

Bahkan ketika Barcelona mengumumkan, dengan cara yang bisa dibilang lebih mirip urusan bisnis pada pekan lalu, bahwa kedua belah pihak akan berpisah karena “hambatan” keuangan yang dihadapi oleh klub La Liga, itu masih terasa seperti gangguan sesaat.

Ada pembicaraan bahwa itu adalah langkah berani dari presiden Barca Joan Laporta untuk memaksa presiden La Liga Javier Tebas, dan bahwa perpisahan akan dilanjutkan pada pertandingan pembuka musim melawan Real Sociedad, Senin (16/8) dini hari WIB, yang pasti akan lebih disukai jika banyak gol yang tercipa.

Tapi itu tidak terjadi. Begitu air mata mulai mengalir di pipi Messi dalam konferensi persnya, kita tahu bahwa itu sudah berakhir.

“Sangat sulit untuk pergi setelah bertahun-tahun. Setelah menghabiskan sebagian besar hidup saya di sini, saya yakin saya bisa melanjutkan di sini, di rumah. Saya tidak siap. Tahun lalu saya yakin untuk pergi tapi tahun ini, tidak.”

Tak terhitung ribuan kata telah ditulis, dan masih banyak lagi yang akan menyusul, tentang mengapa perpisahan ini harus terjadi. Tentu saja, tudingan seputar Barca dan La Liga menyusul keluarnya bintang terbesar dan aset paling berharga mereka akan terus bergemuruh lama setelah Messi pertama kali mengenakan seragam PSG.

Tapi ini bukan hanya akhir, ini juga merupakan awal yang baru. Sementara ada banyak alasan yang dilontarkan dari para penggemar atas bergabungnya La Pulga ke ibu kota Prancis, hal tersebut juga menjadi kesempatan unik bagi pemain si senja kariernya.

Les Parisiens adalah salah satu klub dengan kekuatan finansial terbesar di dunia sepakbola. Ini juga merupakan klub di mana banyak pemain yang berhubungan dengan dua raksasa dari masing-masing negara tersebut, yang tidak diragukan lagi merupakan pertimbangan besar dalam keputusan Messi.

Persahabatan Neymar dengan Messi telah bertahan dan bahkan tumbuh lebih kuat selama bertahun-tahun sejak penyerang itu pindah dari Barcelona ke Paris pada 2017. Bahkan pemain Brasil itu melontarkan candaan “son of b*tch brother” untuk menjuluki kapten Argentina tersebut setelah kalah di final Copa America pada bulan Juli lalu.

Dia juga akan bertemu dengan rekan-rekan Albiceleste-nya seperti Leandro Paredes dan Angel Di Maria, serta musuh lamanya dari Real Madrid: Keylor Navas dan Sergio Ramos, dua wajah yang familiar dari ribuan pertarungan sebelumnya.

Untuk seseorang yang telah mendapatkan banyak kebahagiaannya di Catalan dan ketidak inginannya untuk membuat keluarga kecilnya pindah, teman-teman terdekatnya itulah yang kemungkinan jadi keunggulan PSG dalam merekrut Messi, dan dia akan memulai adaptasinya setelah dipresentasikan secara resmi, Rabu (11/8) waktu setempat.

Itu juga akan membuat segalanya lebih mudah di lapangan dan meskipun, mungkin tidak memberikan dampak yang signifikan bagi perekonomian klub barunya, Messi memiliki kesempatan untuk membuat sejarah di Paris.

Dari semua pengeluaran dan kesuksesan domestik mereka, PSG masih menunggu trofi Liga Champions pertama mereka, gelar yang dibawa oleh rival berat Les Parisiens, Marseille sebagai tanda superior karena menjadi satu-satunya tim Prancis yang dinobatkan sebagai raja Eropa.

Tentu saja itu harus mereka raih, dan warisan Messi sebagai sosok terbesar yang pernah ada di sepakbola tidak akan diragukan lagi.

Selain itu, mengingat usianya yang semakin bertambah, dan telah mencatatkan lebih dari 60 pertandingan di semua kompetisi selama musim 2020/21, sulit untukmembuatnya absen dalam pertandingan, meski manajer Mauricio Pochettino sesekali bisa membiarkan tim barunya menyerang dengan pemain depan yang tak tertandingi dan mengurangi beban Messi, setelah bertahun-tahun membawa Barca hampir sendirian.

Messi kemudian akan memiliki menyimpan penampilan terbaiknya untuk kancah Eropa dan kemudian terakhir di Piala Dunia bersama Argentina, yang akan digelar kurang dari 18 bulan lagi.

Messi tidak terbiasa mencurahkan isi hatinya di publik seperti yang dia lakukan dalam perpisahannya dengan Barca. Dia tetap menjadi anak sederhana dari Rosario, baik dalam kehidupan pribadinya dan dalam cara berbicaranya, dengan aksen Argentina yang kental dibumbui dengan bahasa gaul yang entah bagaimana tetap dimiliki setelah selama dua dekade jauh dari rumah.

Selain itu, ketika dia berbicara, dengan kejujuran yang sungguh-sungguh, Messi terlihat bertentangan dengan apa yang diharapkan dari seseorang yang melakukan seluruh hidupnya di depan umum.

“Ini adalah momen tersulit dalam karier olahraga saya,” katanya kepada Goal pada hari Minggu.

Mungkin bahkan langkah pertama jika seseorang melintasi Samudra Atlantik, harapan dan rasa gembira karena petualangan sekali seumur hidup yang dia lakukan tentu saja untuk mengimbangi kerinduannya, tapi lebih mudah bagi Messi remaja untuk mencerna perpisahan ini. Namun, Anda dapat yakin bahwa meskipun sakit hati, dia hanya akan memikirkan satu hal.

Penulis Argentina Hernan Casciari, yang menukar rumahnya ke Catalan, menyimpulkan apa arti Messi bagi Blaugrana, ​​dan dunia sepakbola secara keseluruhan, dalam cerita pendeknya yang berjudul ”Messi adalah seekor anjing”.

“Jika Anda bertanya kepada saya mengapa saya masih di sini di Barcelona, di masa-masa yang membosankan dan mengerikan ini, itu karena saya hanya berjarak 40 menit dari pesepakbola terbaik di dunia,” jelas Casciari.

“Jika istri dan anak perempuan saya memutuskan untuk pergi ke Argentina, saya akan bercerai dan bertahan setidaknya sampai final Liga Champions.”

“Tidak ada yang seperti ini selama saya menikmati sepakbola, tidak pernah, dan mungkin tidak akan pernah lagi.”

“Setiap kali saya menaiki tangga Camp Nou dan melihat uap dari rumput yang diterangi lampu sorot, momen itu selalu mengingatkan pada masa kecil kami. Saya mengatakan pada diri sendiri hal yang sama: Anda harus memiliki sedikit keberuntungan, Jorge, untuk sangat mencintai olahraga dan menjadi satu zaman dengan yang terbaik, dan terlebih lagi, berada sangat dekat dengan stadion.”

Selama lebih dari 15 tahun, penggemar setia Barca tersebut telah menikmati hak istimewa melebihi rekan-rekan mereka.

Mereka mungkin tidak memenangkan Liga Champions setiap tahun, dan ada banyak kekecewaan yang menyertai kemenangan serta gelar yang diarih, tetapi penggemar tersebut memiliki perbedaan yang tidak dapat diklaim oleh orang lain: setiap dua minggu, pendukung setia dapat menjelajahi bentangan luas Camp Nou dan menonton Messi secara langsung, termasuk melihat penampilan La Pulga yang membuat hal mustahil menjadi seperti biasa baginya.

Messi sekarang mungkin telah mengubah panggungnya, tetapi trik yang membuatnya memberikan pertunjukan terhebat di dunia tetap sama.

Jadi, habiskan air mata jika Anda mau menangisi era yang tak terlupakan. Tetapi ingatlah, untuk menikmati perjalanan selanjutnya, karena dengan Messi, yang terbaik belum tentu datang. (Goal.com/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.