Senin, 28 September 20

Proyek Reklamasi Luhut Zalimi Megawati

Proyek Reklamasi Luhut Zalimi Megawati
* Faisal Assegaf/ foto : istimewa

 

Oleh Faisal Assegaf (Ketua Progres 98)

Hiruk-pikuk pertarungan politik PDIP dan umat Islam di Pilgub DKI Jakarta memberi pembelajaran demokrasi yang sangat berharga dan membanggakan.

Pilgub DKI kali ini merupakan momen paling bersejarah, sangat alot, menyita energi rakyat dan memacu bangkitan kesadaran anak bangsa dalam tranformasi demokrasi modern yang elok serta cemerlang.

Walaupun dinamika perbedaan nyaris menyulut gesekan konflik yang mengkhawatirkan, namun semua pihak mampu bertindak elegan dan mempersembahkan indahnya perbedaan.

Dalam perspektif pendidikan politik, rakyat dapat mengambil hikmah dari proses pembelajaran kehidupan berbangsa yang begitu mutahir dan fenomenal.

Terbukti keragaman dan pancaran kasih sayang sesama anak bangsa mampu mengalahkan propoganda islamophobia dan kepentingan politik oportunis.

Habib Rizieq, Amien Rais, Hidayat Nur Wahid dan para ulama serta tokoh-tokoh muslim yang memotori gerakan Aksi Belam Islam, sukses mengawal arus aspirasi umat secara visioner, solid, bertanggungjawab dan superdamai.

Prestasi yang gemilang itu ternyata efektif mematahkan segala tudingan, fitnah serta stigma intoleran dan radikalis yang gencar sebarkan secara keji oleh kelompok liberal dan sekuler.

Luhut Binsar Panjaitan, Yenny Wahid, Aqil Siradj serta para tokoh pengusung isu liberalisme, pluralisme dan sekularisme yang getol membela terdakwa penista agama alias Ahok menuai kepanikan.

Walhasil, ambisi Luhut untuk memuluskan megaproyek Reklamasi telah berakibat mengalahkan Ahok, mengembosi PDIP dan terkesan menzalimi Megawati Soekarnoputri.

Luhut tampak sangat super sibuk bertindak gelap mata dengan segala cara agar proyek reklamasi dapat berjalan mulus. Tak peduli Ahok kalah, PDIP terpuruk maupun citra Megawati hancur berantakan.

Watak ambisius dan nafsu membara yang diperlihatkan Luhut Panjaitan, tentu secara manusiawai sangat menyakiti Megawati dan para elite PDIP yang terjebak mengusung Ahok-Djarot.

Menuver Luhut terlihat agresif dan bebas hambatan, sebab disinyalir mendapat dukungan besar dari Presiden Jokowi dan jaringan konglomerat di balik layar.

Penzaliman terhadap Megawati dan PDIP tidak mustahil membuka jalan silaturahim dengan Habib Rizieq, Amien Rais, Hidayat Nur Wahid serta SBY dan Prabowo Subianto.

Perlunya kesadaran bersama atas dasar kepentingan nasional guna mengunci politik adu-domba Luhut dan Jokowi. Agar bersinergi secara cerdas menolak proyek reklamasi yang dapat berakibat merugikan rakyat dan negara. (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.